M&M : Part 8

1610 Kata
Happy reading! "Sit, lu ikut acara sosial kantor kan?" Terlalu fokus pada kerjaannya, Sita tidak menjawab. Kedua tangannya sibuk menekan huruf - huruf di keyboard, sementara matanya membaca kata demi kata yg ada di laporan. "Sita!" Merasa diabaikan, Linda kembali memanggil namanya. "Eung? Bentar bentar. Apaan?" Untuk sedetik, Sita menolehkan wajahnya sebelum kembali melanjutkan kerjaannya. Linda memutar kedua matanya sebelum menggeser kursinya mendekat ke Sita. "Lu ntar sabtu ikut kan acara kantor?" Tanya Linda sekali lagi. "Oh..." "Kok Oh? Sit, gua serius nanya ini!" Tanya Linda kehilangan kesabaran. "Ih bentar dulu, dikit lagi ini. Sabar." Akhirnya Linda diam. Menunggu dengan kesal sebelum kembali menanyakan hal yg sama. "Engga deh kayanya. Gua ijin ntar ke pak Ayub." Jawab Sita akhirnya. Linda menatap temannya tidak percaya. "Lah? Kok gitu? Emang lu mau kemana?" Sita menghela nafas. "Gua ada urusan." "Urusan apa lu sampe ga ikut acara kantor sendiri? Bohong lu ya?" Tuduh Linda tidak percaya. Kali ini giliran Sita yg memutar bola matanya dan menatap Linda kesal. "Mau nikah gua. Mau di lamar. Kepo banget sih lu?" "Ih kok lu gitu? Baik - baik gua nanya juga. Ikut aja sih, ntar gua ga ada temennya, Sit." Rengek Linda membujuk Sita untuk ikut. Dengan tegas Sita menggeleng. "Maaf Lin, urusan gua jauh lebih penting." "Bohong lu kan? Ga ada urusan lu, pasti lu cuma mau males - malesan di kamar. Nonton boyband ga jelas itu." "Nah itu tau." Jawab Sita dan membuat Linda mengerang kesal. "Sita!" "Gabisa gua! BTS comeback sabtu, gua harus melihat suami gua comeback. Kalo ga ntar gua di cerai!" Seru Sita mencoba memberikan penjelasan yg membuat Linda hampir mencekik dirinya. "Pengen gua tampar biar sadar, tapi kasian." *** "Sebagai asisten pak Mahesa, kamu wajib ikut. Nanti disana kamu bantuin pak Mahesa sosialisasi ke rumah - rumah. Ada kerja bakti juga. Saya uda rekomendasiin kamu buat ngurusin bagian itu. Jadi kamu harus ikut." Adalah jawaban pak Ayub saat Sita mencoba untuk meminta ijin. Saat mendapatkan berita itu, Linda tidak bisa menahan tawanya yg langsung meledak hingga membuatnya menangis. Sementara Sita terlihat seperti baru saja mendengar berita paling buruk dalam hidupnya. "Udah gua bilang kan, mimpi lu ketinggian. Jangan nangis lu. Uda gua duga nih. Sana bilang suami lu, lu gabisa nonton dia comeback. Hahahaha." Kekeh Linda mengejek Sita yg benar - benar terlihat ingin menangis. "Lin, ntar kalo gua di cerai sama Yoongi. Gua jadi janda dong?" "Bacot! Kesel gua dengernya! Kaya bakal hancur aja hidup lu ga ngeliat mereka sehari. Bisa kali lu tonton nanti." Seru Linda sedikit kesal. "Tapi.. tapi.. beda Lin. Sensasinya beda." "Halah, lebay lu! Udah ah, yuk makan. Laper gua nih." Linda menarik lengan Sita yg terlihat tidak bersemangat. Memaksa gadis gendut itu untuk bangun dari kursinya. Namun, Sita sama sekali tidak bergerak. "Busyet dah, gua kaya narik gentong air dah. Buruan ayo ih!" "Ih! Gua gamau! Gua ga selera makan!" Teriak Sita kesal dan menepis tangan Linda. "Yaah, jangan ngambek. Masa karena gitu doang lu mogok makan? Ntar sakit aja lu." "Biarin." "Alay ih! Ayo buruan! Ntar abis nih jam istirahat!" "Bodo!" "Sita ih! Buruan! Gua traktir deh!" Mendengar kata itu, tanpa menunggu lama Sita segera berdiri. Merangkul lengan Linda dan menarik temannya menuju kantin. "Karena lu maksa mulu, yauda deh. Tapi lu traktir bener ya. Gua mau makan banyak nih." Ujar Sita yg membuat Linda hanya bisa mendengus kesal. "Dasar ee ayam lu." *** "Perlengkapan uda semua kan? Obat - obatan? Daleman tuh jangan lupa banyakin. Halah! Gausa bawa makeup lu! Udah ini aja!" Perintah Sita saat membantu Linda bersiap - siap. Karena jarak kosan Linda lebih dekat dengan kantor, Sita memutuskan untuk menginap karena takut ia akan ketinggalan bus kantor. Pagi - pagi buta Sita sudah membuka mata dan lebih tepat tidak bisa tidur nyenyak karena takut ia tidak akan terbangun. Dan karena Linda belum selesai menyiapkan perlengkapannya, Sita harus memaksa wanita itu untuk bangun lebih awal. "Ih, cewe tu harus dandan biar cantik! Ini harus dibawa! Lu tuh ya, uda kerja juga! Belajar dong dandan!" Linda kembali memasukkan peralatan make upnya ke dalam tas kecil sebelum Sita sempat melarang. Sita hanya memutar matanya jengah dan berjalan ke arah pintu. "Lama lu! Gua tinggal nih." "Bentar ih! Sita!" Buru - buru Linda membereskan barangnya sebelum menyusul Sita keluar dan mengunci pintu kamarnya. Mereka langsung memesan transportasi online dan berangkat menuju kantor. Tidak sampai 15 menit, mereka sudah tiba. Lapangan kantor sudah ramai oleh karyawan yg ikut berpartisipasi. Ada sekitar 100 karyawan sudah berkumpul dan berbaris sesuai dengan divisi - divisi mereka. "Wah! Gila. Rame juga ternyata kalo dikumpulin gini. Padahal ini belum nyampe setengah jumlah keseluruhan ya?" Gumam Linda merasa takjub dengan kerumunan manusia yg ada. Disampingnya, Sita hanya mengangguk - angguk setuju. Ia lebih merasa gerah karena pengaruh kerumunan orang. "Memangnya semuanya ikut ya? Banyak banget dong?" "Kayanya sih engga. Tapi gua gatau deh." Linda berjalan ke arah kerumunan yg ia yakini adalah tim divisinya. "Sit, itu bu Yanti. Kesana yuk!" Sita mengangguk dan mengikuti Linda. Namun, baru saja mereka bergabung dengan tim divisi, tiba - tiba seseorang memanggil nama Sita. Wanita itu menoleh dan melihat pak Ayub melambaikan tangan ke arahnya. "Ada apa, pak?" Tanya Sita setelah berada di depan pak Ayub. "Kamu tolong urusin orang - orang yg naik bus. Tolong sesuaikan sama tiap divisi. Ini ada listnya, panggilin aja satu - satu ya. Saya harus ngurus perlengkapan lain. Mulai dari grup A aja dulu, ini nama - namanya. Nanti kalo uda semua, panggil saya." Perintah pak Ayub memberikan Sita beberapa lembar kertas yg merupakan daftar nama tiap divisi dan grup juga bis yg akan mereka tumpangi. Tanpa bisa menolak, Sita hanya mengangguk dan menghela nafas panjang setelah pak Ayub pergi meninggalkannya. Berulang kali ia menghela nafas dan mengingatkan diri untuk bersabar. Ia melihat sekilas nama - nama pada daftar sebelum memulai pekerjaannya. "Divisi Keuangan! HRD!" Teriak Sita memanggil satu persatu divisi dan megarahkan mereka ke masing - masing bus. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk Sita menyelesaikan pekerjaannya. Ia dibantu beberapa karyawan lain dan termasuk Linda. Jika tidak, mungkin sekarang ia akan mengalami radang tenggorokan karena terlalu banyak berteriak. "Pak Ayub, saya sudah selesai." Ujar Sita menyerahkan lembaran daftar nama yg sudah ia beri tanda ditiap nama untuk menandai bahwa semua anggota sudah masuk ke dalam bis. "Oh iya. Terima kasih, Marsita." Jawab pak Ayub sembari mengambil lembaran itu dan melangkah pergi. "Eh pak! Anu!" Panggil Sita kemudian. Pak Ayub menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ya? Ada apa?" "Itu pak. Nama saya ga ada di daftar. Saya ga ikut ya? Atau gimana?" Tanya Sita bingung saat ia tidak menemukan namanya di semua daftar nama dan bus yg ada. Sesaat Sita melihat wajah pak Ayub yg menatapnya heran sebelum akhirnya mengingat sesuatu. "Ah iya! Kamu tuh berangkatnya sama pak Mahesa! Dia bentar lagi datang, tunggu aja." Jawab Pak Ayub sebelum benar - benar meninggalkan Sita yg tengah mengalami shock. "Mati gua." *** Dua puluh lima menit Sita menunggu tetapi wujud atasannya tidak juga terlihat. Sialnya, ia sudah benar - benar sendirian. Sementara seluruh anggota karyawan lain telah berangkat lebih dulu. 'Lu uda di jemput, Sit?' Sudah lima kali Linda mengirimkan Sita pesan yg sama dan sudah lima kali pula Sita mengirim balasan yg sama. 'Belum' Dan kembali ia menunggu, dengan perut lapar yg sama sekali belum terisi apapun. Ditambah rasa kantuk yg membuatnya terpaksa duduk di tangga lobby. Dengan penuh kesabaran, Sita masih mencoba bersabar. Sesekali berpikir untuk berjalan keluar dan mencari makanan yg bisa mengganjal perutnya. Hingga bunyi nyaring perutnya kembali terdengar dan rasa perih melanda, Sita menyerah untuk menunggu. Dengan kesal ia berdiri dan berjalan cepat menuju gerbang kantor sebelum suara klakson mengejutkannya. Sita menoleh dan menemukan sebuah mobil HRV putih berjalan ke arahnya. "Ini dia apa bukan?" Gumam Sita curiga dan kemudian menghela nafas lega saat melihat wajah kesal Mahesa berada di balik kemudi. "Buruan masuk!" Teriak Mahesa memerintah. Sita mengerutkan kening heran. Kenapa pria itu marah? Sementara dirinya yg sudah menunggu hampir satu jam lamanya hanya diam? Ingin rasanya Sita menendang kaca spion mobil itu. Namun ia menahan dan secepatnya masuk ke mobil. "Lain kali kalau ada acara seperti ini, kamu naik bus saja." Ujar Mahesa kesal dan membuat Sita semakin heran. "Lah?" Tidak terima dimarahi, Sita menatap Mahesa dengan sama kesalnya. "Kenapa jadi salah saya ya?" Lanjut Sita kesal. Tanpa menoleh Mahesa menjawab. "Aku sudah hampir tiba di lokasi saat pak Ayub bilang kau akan menumpang di mobilku." Jelas Mahesa yg membuat Sita membulatkan mata. "Hah? Terus? Kan pak Ayub yg bilang saya memang berangkat sama bapak. Orang tadi saya kira juga saya ga jadi ikut. Nama saya aja ga ada di daftar bus." Ujar Sita membela diri. Merasa di fitnah, mendadak emosi yg selama ini ia tahan menyeruak keluar. Terlebih ia sudah lelah menunggu, ditambah cuaca yg panas, perut lapar dan kurang tidur membuat Sita tidak bisa menahan emosinya. "Tetap aja kamu harusnya--" "Kok jadi salah saya sih? Emang saya yg maksa naik mobil bapak?! Kalo tau gini bagus saya naik kereta lho pak!" Tanpa sadar Sita memotong perkataan Mahesa dan membentak pria itu yg kini menatapnya takut. "Kenapa kamu yang--" "Saya mau turun! Tolong berhenti di depan!" Sekali lagi Sita memotong perkataan Mahesa yg menatap Sita tidak percaya. "Saya bilang saya mau turun! Berhenti ga?!" Teriak Sita kesal dan menatap Mahesa tajam. Tanpa ia sadari, ia telah membuat amarah Mahesa kembali. Pria itu dengan kesal menepikan mobilnya dan saat Sita hendak membuka pintu, ia sudah lebih dulu mengunci pintu. Menyebabkan wanita itu bingung dan kembali menatapnya heran. "Bukain pintunya! Saya mau keluar!" Seakan tidak mendengar perkataan itu, Mahesa menatap Sita tajam. Begitu tajam hingga membuat wanita itu terdiam. "You will not go anywhere and never use that tone while talking to me." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN