M&M : Part 7

941 Kata
Happy reading! "Sita! Bawakan map merah itu!" "Sita! Dimana laporan minggu lalu?" "Sita! Ke ruangan saya sekarang!" "Sita!" "SITA!" Minggu itu adalah minggu terberat dalam hidup Marsita. Setelah insiden permintaan maaf, hari demi hari dilalui Sita hampir selalu bersama Mahesa. Tidak ada sehari terlewati tanpa Mahesa menyebut dan meneriakan namanya. Hingga Sita membenci kenyataan bahwa namanya adalah Sita. "Sita." "WHAAAT!!" Tanpa sadar Sita membentak Linda yg hendak menyapanya. "Njir, santai Sit. Gua cuma mau ngajak lu makan. Ngeri amat." Ujar Linda sedikit takut. Sita mengerang dan merebahkan wajahnya yg benar - benar lelah di atas meja. "Maaf Lin. Gua sensi denger nama gua di sebut. Sumpah! Gua pengen istirahat~" rengek Sita tidak tahan lagi. Sebuah tepukan ringan mendarat di punggungnya. Merasa iba akan nasib teman nya, Linda hanya bisa memberikan semangat. "Sabar, Sit. Lu masih beruntung kok, berurusan ama orang ganteng. Ga kaya si Rita tuh, kasian. Bersyukur lu." "Jigong lu bersyukur. Lu aja sana berurusan sama dia." Sita menepis tangan Linda dengan kesal. "Dih, sensitif amat. Yauda, mau makan ga?" Tawar Linda sekali lagi. Bingung antara ingin istirahat dan lapar, akhirnya Sita mengangguk. Namun, baru saja dia hendak berdiri, suara yg paling tidak ingin di dengarnya kembali menggema. "Marsita, segera ke ruangan saya sekarang." *** Mahesa menghela nafas panjang setelah akhirnya laporan terakhir yg harus ia kerjakan telah selesai. Ia mengistirahatkan sejenak tubuhnya di kursi kerjanya dan memejamkan mata. Mencoba menstabilkan segala rasa penat dan lelahnya. Suara dengkuran pelan membuat Mahesa membuka matanya dan menoleh ke arah sofa. Dimana Sita sudah tertidur dengan posisi duduk di atas karpet dan kepala diatas meja. Gadis bertubuh gendut itu terlihat kelelahan. Tumpukan kertas dan juga laporan yg lain memenuhi meja tempatnya merebahkan wajahnya. Ia benar - benar menghabiskan waktu bersama Mahesa seminggu ini. Mahesa melirik jam tangannya dan kembali menghela nafas. Sudah hampir pukul 1 pagi ternyata mereka berada di kantor. Itu artinya, dirinya dan juga wanita yg ia paksa membantunya itu telah melewati makan malam. Perlahan Mahesa berjalan menuju tempat Sita berada. Pria itu berjongkok tepat di samping tubuh Sita dan sesaat sebelum membangunkan, ia menatap kasihan wanita itu. Sepertinya dia sudah sedikit keterlaluan dalam membalas dendam. Namun, sejujurnya ia memang membutuhkan bantuan. Dan anehnya, hanya wanita ini yg dapat ia percaya. Wanita yg sejak awal tidak menunjukkan ketertarikan padanya seperti karyawan wanita lainnya. Yang tidak bisa mengalihkan tatapan mereka dari wajahnya. Meski begitu di satu sisi, Mahesa merasa penasaran. Hal apa yg membuat wanita ini tidak tertarik padanya? Jika dilihat dengan seksama, Sita memiliki wajah yg cantik, pipi chubby, alis yg pas tanpa harus di tambah dengan goresan pensil, pipi yg memerah alami, bulu mata yg panjang dan bibir... Menyadari dirinya tengah melamun sembari menatap wajah wanita lain, membuat Mahesa segera menggelengkan kepala dan memutuskan untuk membangunkan Sita. Pria itu menggoyangkan bahu Sita pelan hingga membuatnya membuka mata. "Ehmm?" "Bangunlah, ayo pulang." Ujar Mahesa dan berjalan kembali ke mejanya. Sita mengerjap berulang kali sebelum mencoba mengumpulkan nyawanya yg tengah berterbangan. Mulutnya terbuka lebar saat menguap sementara tangannya meraih benda - benda diatas meja. Membereskannya dengan setengah sadar. "Hari ini aku akan mengantarmu." Ujar Mahesa saat berjalan mendekati Sita yg kini menatapnya bingung. "Hah?" Mahesa mengangkat sebelah alisnya. "Bukan hah, tapi terima kasih. Sudah ayo cepat." Jawab Mahesa dan berjalan menuju pintu keluar. "Eh, tapi pak. Gausa repot - repot." *** "Saya drive thrue aja pak. Mcd juga boleh deh." Setelah menemukan tidak satu restoran atau tempat makan yg masih buka, akhirnya Sita memutuskan untuk drive thrue. Berhubung Mahesa merasa bersalah karena membuat Sita melewatkan makan siang dan malamnya, pria itu terpaksa harus membuat wanita itu memasukkan sesuatu ke dalam perutnya. Meski ia tahu cadangan lemak dalam tubuh Sita cukup untuk membuat wanita itu bertahan selama seminggu tanpa makan, tetap saja. Ia tidak mau jika terjadi sesuatu yg akan merugikan dirinya kelak. "Kau biasa makan apa? Nasi? Burger? Atau keduanya?" Tanya Mahesa saat melihat menu. "Saya apa saja pak, asal makanan." Jawab Sita mencoba sopan. "Baiklah, Happy meal." "Boleh pak." "Saya ambil makanannya, kamu mainannya." Mahesa mengatakan itu dengan wajah datarnya dan mengemudikan kembali mobilnya. Disampingnya, Sita terdiam bingung harus melakukan apa. Haruskah ia tertawa? Atau marah? Dan membalas perkataan Mahesa? Dan... "Hmm, gitu pak?" "Iya. Ketawa." Perintah Mahesa sebelum menyebutkan pesanannya pada mesin pesanan. Disana Sita mencoba mengeluarkan suara tawa yg memungkinkan dan tidak menyinggung. Dalam hati, Sita merasa sedikit iba dengan rasa humor yg benar - benar menyedihkan itu. Jika saja wajah dan sifat Mahesa tidak seperti celana dalam baru, mungkin semua akan terasa lucu. "Besok kamu tidak perlu masuk." Sita baru saja akan melepas seatbealt saat mendengar itu. Ekspresi wajah wanita itu berubah dari setenang air menjadi panik. Apalagi ini? Apa yg telah ia lakukan? Hingga membuat pria ini marah? "Ke.. ke.. kena..pa pak? Saya membuat kesalahan?" Suara Sita terdengar lirih saat mengatakannya. Waktu terasa berhenti saat ia menunggu jawaban Mahesa yg lalu menatapnya datar. "Kau kuberikan libur sehari. Terima kasih karena kau tugas penting itu selesai. Jadi, nikmati waktumu." Dan rasanya seperti ikan yg membutuhkan air, Sita menghirup udara dalam - dalam dan membiarkan paru - parunya kembali bekerja. "YaAllah pak. Saya kira--" Sita tidak menyelesaikan kata - katanya karena ia sibuk bersyukur dan mengelus d**a. Melihat itu Mahesa tersenyum sekilas. "Yauda buruan. Saya mau balik. Sana keluar." Perintah Mahesa mengusir Sita yg langsung buru - buru keluar dari mobil. "Terima kasih banyak, pak." Ujar Sita sebelum menutup pintu. Setelah mobil itu pergi, Sita merasakan hasrat untuk tersenyum. Ternyata, pria yg ia pikir berhati iblis itu masih memiliki sisi kemanusiaan. Tidak sia - sia ia meminta maaf. Hendra benar. Ia berhasil menyelesaikan masalah itu. Mahesa sudah tidak berniat membunuhnya lagi. *dalam artian si Mahesa masi dendam* *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN