M&M: Part 5

996 Kata
"Boleh kami bergabung?" Tanya Anna ramah. "Oh, kami sudah akan per--" "Tentu saja. Silahkan." Memotong perkataan Sita, Hendra mempersilahkan Anna untuk duduk di meja mereka. Membuat Sita refleks menoleh dan membulatkan matanya tidak percaya. "Apa kau lakukan?" Bisik Sita kesal. Hendra tidak menjawab, hanya menggeleng dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya sebelum kembali tersenyum pada Anna yg sudah mengambil posisi duduk di depannya. Sementara Mahesa mendapatkan posisi di depan Sita. Ingin rasanya Sita mencubit pria disampingnya. Yang malah cengengesan karena wanita cantik di depannya. Hendra sibuk berbicara dengan Anna yg memang mudah berbaur dengan orang. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah akrab. Meninggalkan Sita dan Mahesa yg hanya diam seribu bahasa. "Hmm, bapak mau mesen makanan?" Tanya Sita memecahkan keheningan. "Menurutmu apa yg kulakukan disini? Memesan baju?" Jawab Mahesa ketus. Dalam hati, Sita memaki. Menyesal telah mencoba untuk mencairkan suasana yg malah semakin canggung dan membuatnya kesal. Sita menoleh ke arah Hendra yg sibuk berbicara dengan Anna dan memutuskan untuk memotong pembicaraan. "Hen, lu diem dulu deh. Bu Anna mau mesen makan dulu." Gumam Sita mengingatkan Hendra. "Oh iya. Maaf, silahkan pesen dulu aja. Permisi, mba!" Dengan sok gentleman, Hendra memanggil salah seorang waitress dan meminta menu. Setelah memilih beberapa makanan, akhirnya Sita terpaksa memesan makanan lagi. "Gua gamau tau, lu traktir gua." Bisik Sita di telinga Hendra. "Iye badut." Lalu mereka kembali ke pembicaraan mereka. Kali ini Anna mengajak Sita dan Mahesa untuk bergabung. "Jadi, kalian berdua sudah bersahabat sejak kuliah?" Tanya Anna. Sita mengangguk. "Wah, pantas saja. Aku dan Hesa juga. Tapi, kami sudah berteman sejak SMA. Saat itu Mahesa pindah ke L.A dan menjadi murid paling pintar di sekolah." Jelas Anna membanggakan pria dingin di sampingnya. "Oh benarkah? Wah, anda benar - benar hebat, Sir." Puji Hendra yg mendapat anggukan Mahesa. Ntah bagaimana, mereka bertiga mengobrol dengan lancar seakan - akan Sita tidak pernah menjadi bagian disana. Akhirnya, Sita memutuskan mengambil ponselnya dan mulai membuka pesan - pesan dan socmed yg ia miliki. "Sita? Kenapa kau diam saja?" Tanya Anna yg sejujurnya menganggu Sita yg tengah asik melihat berita tentang boyband korea favoritnya. Canggung, Sita hanya tersenyum dan menggeleng. "Tidak, aku hanya lebih suka mendengarkan." Jawab Sita beralasan. Hendra disampingnya mengeluarkan dengusan mengejek. "Mendengarkan darimana.." bisik pria itu yg mendapat hadiah injakan kaki dari Sita. "Jika kau mendengarkan, kau tidak akan sibuk memainkan ponsel. Dasar tidak sopan." Kata - kata itu meluncur indah dari bibir Mahesa yg membuat Sita diam. Dalam hati ia ingin sekali membalas perkataan pria kejam itu. Tapi, ia masih menghormatinya karena dia seorang atasan. Sita bisa melihat bagaimana Anna mencoba menghentikan Mahesa dari cara Anna menyentuh lengan Mahesa. "Tidak hanya denganku. Ternyata kau memang wanita yg sangat bar - bar." Lanjut Mahesa kembali menyudutkan Sita. "Mahesa!" Anna mencoba memperingati Mahesa. Disamping Sita, Hendra terlihat bingung dan heran. Ia menatap Mahesa yg terlihat penuh kebencian, dan kemudian Sita yg kini menunduk diam. Kata - kata pria itu telah membuat Sita marah dan sejujurnya dirinya. Tapi, dia tahu saat ini Sita tengah menahan amarahnya. Dan dia tidak ingin merusak apa yg sudah dipertahankan sahabatnya. Karena jika boleh jujur, gadis disampingnya akan berubah mengerikan saat ia marah. "Apa kau memang sudah seperti ini sejak kau dilahirkan?" Melihat Sita yg terus diam, Mahesa kembali melanjutkan. "Mahesa, sudah hentikan!" Perintah Anna hampir berteriak. "Oh, apa orangtuamu tidak pernah mendidikmu sopan san--" Brakk Perkataan Mahesa terhenti oleh Hendra yg mendadak berdiri dan sengaja sedikit memukul meja. Seluruh mata refleks menoleh ke arah nya yg kini tersenyum dengan begitu manis. "Maaf, sepertinya aku melupakan sesuatu yg penting. Hmm, kami harus pergi sekarang. Maaf ya, yuk Sit. Oh iya, sebagai ganti aku yg traktir. Sampai jumpa lagi." Ujar Hendra sopan dan memberikan senyuman manisnya sebelum berjalan pergi dengan Sita mengikuti. "Saya permisi dulu." Ujar Sita sopan dan membungkuk. Meninggalkan Anna yg kemudian menghela nafas dan memejamkan mata bersama Mahesa yg tetap tanpa ekpresi. "What's wrong with you?" Gumam Anna kesal. Mahesa hanya mengangkat bahu acuh dan menyesap cappucino nya.                                                                                         ******* "Makasi Hen." Gumam Sita pelan setelah mereka sudah berada di mobil kembali. "Gausa manggil gua Hen. Lu kira gua ayam betina?" Canda Hendra dengan muka sebal. Sita hanya tersenyum tipis dan menatap keluar jendela disampingnya. Membuat Hendra yg mencoba menghibur jadi kasihan. "Lagian lu sabar amat sama orang kaya gitu. Resign aja napa dah?" Ujar Hendra memecahkan keheningan. Menjawab Hendra, Sita hanya mendengus dan bergumam tidak jelas. "Apa? Lu ngomong apaan? Kagak denger gua!" Seru Hendra yg tetap fokus membawa mobil. "Bodo." Hanya itu jawaban Sita yg membuat Hendra kesal dan memutuskan untuk mengerjai sahabatnya. "Berani lu ya! Ngomong ga?! Lu bilang apa tadi?! Bilang!" Hendra menyerbu Sita dengan serangan gelitikan yg membuat gadis itu berteriak. "HENDRAA! LU LG NYETIR g****k!!" Teriak Sita kesal dan memukul lengan Hendra dengan membabi buta. "Aduh! Aduh! Banteng mengamuk! Lagian lu ga ngomong! Diem aja lu! Kaya kesambet setan!" Balas Hendra menahan setiap pukulan yg diberikan Sita. "BIARIN! BODO AMAT!" "Lah? Kenapa jadi marah sama gua? Lu bagusan cerita deh, sini sini." Hendra mencoba menenangkan Sita yg masih marah. Sita lalu diam. Menggembungkan pipi dan melipat kedua tangan di depan d**a. Masih kesal. "Tau ah. Bete banget gua. Setan emang itu manusia. Pengen banget rasanya gua resign! TAIK!" Geram Sita emosi. "Astaghfirullaah! Istighfar lu istighfar. Aneh memang gua liat dia. Kayanya benci banget dia sama lu." "Ga ngerti gua. Hanya karena gua ga sengaja marahin dia pas marahin karyawan. Langsung dia benci banget sama gua." Jelas Sita. "Marahin?!! Lu marahin atasan lu sendiri, nyet?" Tanya Hendra tidak percaya. Sita memutar bola matanya. "Ya, gua juga baru tau dia atasan gua beberapa minggu lalu, Ndra. Lagian baru juga dateng, dia uda marah - marah ga jelas." Ujar Sita menjelaskan alasan mengapa atasannya membencinya. Disampingnya, Hendra hanya menggeleng. "Napa lu geleng - geleng." Lalu Hendra menatap Sita. "Lu marahin dia di depan karyawan lain?" Tanya Hendra. Sita mengangguk ragu. "Iya." Hendra kembali menggeleng dan menghela nafas. "Pantes sih. Pantes dia benci banget sama lu. Lu telah melukai harga diri dia nyet." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN