M&M: Part 4

1091 Kata
'Sit, gua di lobby.' Pesan itu masuk tepat ketika Sita tiba di lantai dasar. Wanita itu mengangguk dan berjalan cepat keluar dari lift menuju pintu keluar lobby. Matanya sibuk mencari mobil Ford Escape milik Hendra. "B 3413 MIN... B 34-- Ah!" Setelah menemukan mobil yg dia cari, Sita dengan cepat berjalan mendekat. "Woy! Lama lu! Buruan!" Seru Hendra yg menurunkan jendela bagian pintu penumpang yg akan dibuka Sita. Wanita itu segera masuk ke kursi samping supir. Sebelum menjawab ocehan Hendra, wanita itu hanya tertawa dan memasang sabuk pengaman. "Tadi liftnya berebut mulu. Pusing gua." Hendra mendengus becanda dan membawa mobilnya pergi. "Hampir jadi mummy gua nungguin lu." "Lebay lu. Btw, tumben lu jemput gua? Lagi berantem lu sama Sasa?" Tanya Sita to the point. Karena sepengetahuannya, Hendra tidak akan memperdulikan dirinya apabila ia sedang baik - baik saja dengan sang kekasih. Yang berarti saat ini pasti ada masalah dalam hubungan mereka. Melihat Hendra hanya diam, Sita sudah bisa mengambil kesimpulan. Wanita itu menghela nafas dan menatap kasihan sekaligus kesal pria disampingnya. "Kenapa lagi? Kebodohan apalagi yg lu lakuin sekarang?" Tanya Sita mencoba untuk membuat Hendra menceritakan masalahnya. Wajah pria itu terlihat tidak senang. Hanya diam dan menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Sita. Yang akhirnya menbuat wanita itu menyerah dan mengangkat bahu. "Yah, kalo lu ga mau cerita juga gapapa. Btw--" "Dia selingkuh." Kata - kata itu membuat Sita diam dan menoleh cepat. Menatap Hendra dengan mata bulat sempurna. "WHAT?!" Teriak Sita begitu keras hingga membuat Hendra mengernyit karena telinganya berdengung. "Berisik lu dugong!" "Eh, eh gua gamau tau. Ceritain ke gua gimana bisa? Cewe yang begitu mencintai lu bagaikan lu adalah hidup dan mati maupun nafas dan jiwanya itu NYELINGKUHIN LU?!!" Kali ini Sita tidak sadar telah mengeluarkan apa yg selama ini dia pikirkan tentang gadis itu meski itu memang kenyataan. Hendra menatap sesaat Sita disamping nya dengan tatapan kesal. "Lebay banget sih lu! Mencintai gua apaan? Taik!" Maki Hendra kesal. Sita bisa melihat bahwa dirinya telah membuat pria disampingnya emosi. Bukan pada dirinya, namun pada seorang wanita disana. "Bodo amat gua lebay. Tapi, kan lu sendiri tau betapa posesifnya dia sama lu? Yg ngechat sama gua aja cemburu. Lah lupa apa dia gimana bentukan gua?" Ujar Sita mencoba mengingat betapa sakit perasaannya saat harus rela dijauhi Hendra yg adalah sahabatnya karena kekasih pencemburu nya itu. 'Maaf Sit. Tapi, gua gabisa sering - sering chat sama lu lagi. Sasa ga suka.' 'Lu kenapa Sit? Maaf gua gabisa balas Line lu. Sasa tau pass gua. Ntar dia buka berabe.' 'Hmm, maaf Sit. Bukan gua ga mau bantu. Tapi, gua ga enak sama Sasa.' Sesaat Sita terbawa ke masa lalu. Ingatan pahit yg masih tersimpan itu membuatnya menatap kosong jalanan di depan. Hingga suara Hendra menyadarkannya kembali. "Sit? Sit? Woy!" "Eh iya iya, apa?" "Wah wah hati - hati lu. Hati - hati." Kening Sita mengerut bingung. "Maksud lu?" "Hati - hati lu, gua turunin depan. Capek mulut gua berbusa cerita, lu malah enak - enak melamun." Geram Hendra emosi. Entah kenapa hal itu terdengar lucu dan membuat Sita tertawa. "Kan sekarang ketawa. Lu gila ya, Sit?" Gumam Hendra takut. Sita mencoba menggeleng dan masih tertawa. "Engga. Gua kangen. Kangen becandan sama lu, Ndra."                                                                                          ******* "Bah! Jadi selama ini dia cuma pura - pura? Selama ini dia cuma memanfaatkan lu dong?" Seru Sita sembari menyeruput es Milo jumbonya. Ia baru saja selesai mendengarkan cerita lengkap Hendra tentang kandasnya hubungan percintaan yg telah dibina 5 tahun lamanya itu. Benar - benar seperti drama, Sasa yg selama ini mengekang Hendra ternyata memiliki kekasih lain di belakang. Gadis itu menggunakan Hendra sebagai sarana mendapatkan uang dan berfoya - foya. Beruntung, Fedrick sahabat Hendra menciduk Sasa dan melaporkannya langsung ke Hendra. "Gua juga mau tuh berfoya - foya pake duit lu, Ndra. Ga butuh gua barang - barang mewah. Beliin gua makanan enak aja tiap hari gua senang." Sindir Sita yg mendapatkan lemparan tisu bekas dari Hendra. "Taik lu! Tapi, mending ya gua hamburin duit buat lu. Lebih bagus gua melihara anak gajah daripada dia. Lebih barokah." Kali ini giliran Hendra yg menerima lemparan sendal di wajahnya. "Kurang ajar emang lu, k*****t!" "Woy! Sakit monyet! Gua pake tisu lho! Lu! Awas lu!" Hendra kemudian mengambil sendal Sita yg membuat wanita itu seketika panik. Karena apa yg dilakukan Hendra adalah membuang sendal itu jauh dari pandangan mereka. "HENDRAAAAAAAAAAA!!!" Teriakan Sita menggelegar. Tidak peduli dengan tatapan orang di restoran yg bingung. Kini sendal swallow kesayangannya kehilangan pasangannya. Hendra yg puas kembali dengan wajah sumringah. "Makanya, lu jangan macem - macem." "TAIK LU, HENDRAAA!"                                                                                          ******* "Hesa!!" Panggil Anna yg telah menunggu kekasihnya di lobby mall. Mahesa yg baru turun dari mobil menoleh dan tersenyum. Ia berjalan mendekati Anna dan mencium singkat bibir wanita itu. "Kenapa kau tidak menunggu ku jemput?" Ujar Mahesa terlihat sedikit kesal. Anna tersenyum. "Aku terlalu bosan menunggumu. Lagian ini menyenangkan." "Kau menggunakan busway lagi?" Anna mengangguk dan merangkul pinggang Mahesa masuk ke dalam mall. "Tentu saja. Dan kau tau, aku juga menggunakan benda itu. Hmm aku lupa. Yg menggunakan kuda?" Anna terlihat memikirkan sesuatu sebelum Mahesa menjawab. "Delman? Really?" Tanya pria itu tidak percaya. "Nah, itu dia! Sangat menyenangkan!" Seru Anna bersemangat. Wanita itu benar - benar membuat Mahesa kagum. Semangat, cerdas, pemberani, cantik dan bisa segalanya. Sesaat Mahesa hanya memandangi Anna lembut dan tiba - tiba mencium wanita itu. "Whoaa, hey. Ada apa sayang?" "Tidak ada, aku hanya terlalu mencintaimu." Gumam Mahesa dan mencium Anna sekali lagi. Wanita itu tersenyum, "Aku juga mencintaimu." Semua terasa tenang hingga mereka mendengar teriakan dari restoran yg hendak mereka masuki. "What is it?" Tanya Anna heran. Mahesa menggeleng, "I don't know." Mereka kemudian berjalan masuk dan masih penasaran dengan teriakan barusan hingga akhirnya melihat asal suara itu. "TAIK LU HENDRAAA!!" Kembali suara itu mengeluarkan teriakannya. Dan Anna langsung tersenyum geli saat melihat Sita penyebabnya. "Oh my.." Berbeda dengan Anna, pria disampingnya menatap kesal wanita itu dan mendengus. "Kita cari tempat lain. Ayo Anna." Mahesa baru akan menarik Anna saat wanita itu memilih berjalan ke arah Sita. "Anna, kita cari restoran lain." Ujar Mahesa mengikuti Anna. "No. It's okay. Aku ingin makan disini. Hey, Sita." Anna menyapa Sita yg tengah menjambak rambut sahabatnya ramah. Membuat gadis bertubuh besar itu terperangah dan dengan segera melepaskan tangannya. Ia lalu berdiri dengan begitu cepat dan membungkukkan tubuh. "Hai Bu Anna." Sapa Sita sopan dan memukul sekilas Hendra yg masih meringis disampingnya. Lalu mata Sita menoleh ke sosok pria yg berada di belakang Anna. Pria menyebalkan yg paling ia hindari. "Hai, pak Mahesa." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN