M&M: Part 3

1239 Kata
"Jadi, apa yg ingin kau bicarakan?" Tanya Mahesa setelah ia telah kembali rapi dengan setelan kemeja dan jas nya. Di salah satu sudut ruangan itu, kekasihnya yg bernama Johanna duduk di sofa dengan santai. Beberapa kali, Anna, panggilan yg ia berikan sendiri, melihat ke arah Sita dan tersenyum. Sita membalasnya dengan anggukan dan juga tersenyum canggung. "Sita, aku berbicara padamu." Ujar Mahesa menarik perhatian Sita. "Oh, Eh iya pak. Anu, itu tadi Linda bilang bapak mau ketemu saya. Ada apa ya pak?" Akhirnya Sita menyatakan maksudnya sebelum Mahesa menegurnya lagi. Kening Mahesa terlihat mengerut sebentar sebelum akhirnya pria itu mengingat sesuatu. "Ah, iya. Jadi, mana laporan yg aku minta? Apa kau lupa aku memintamu untuk memberikan laporan jam 8 pagi? Dimana laporan itu?" Tanya Mahesa dengan nada menuntut. Wajah pria itu terlihat kesal dan tidak senang. Berbeda dengan Sita yg terbengong tidak percaya dengan apa yg ia dengar. Kepala Sita langsung melirik meja kerja Mahesa dan mencari keseluruh sudut meja. Dimana laporan itu? Ia bersumpah dalam hati bahwa ia telah meletakkan laporan itu tepat di meja kerja Mahesa. Sungguh ia tidak mungkin lupa. "Ta... tapi, seharusnya--" jari Sita menunjuk ke arah meja kerja Mahesa. "Saya sudah meletakkannya, pak. Laporan itu--" "Aku tidak peduli. Kenyataannya, aku belum menerima laporan itu. Apa kau pikir aku buta? Aku tidak mau tau! Aku berikan kau waktu 15 menit untuk memberikan laporan itu atau kau kupecat." Jelas Mahesa memotong perkataan Sita dan membuat wanita itu seketika pucat saat mendengar konsekuensi dari nya. Melihat kepanikan dan ekspresi Sita yg ketakutan, diam - diam Mahesa tersenyum puas. "Apa kau ingin kupecat?" Tubuh Sita tersentak dan ia refleks menggeleng. "Tidak, pak." "Kalau begitu segera kerjakan tugasmu! Waktumu 13 menit lagi. Atau ucapakan selamat tinggal pada kantor ini."                                                                                          ******* Mahesa memandangi wanita bertubuh gemuk itu dengan tajam. Bagaimana wanita itu terlihat tersiksa dengan perintah - perintah yg ia berikan, membuatnya merasa puas. Ia sekilas tersenyum saat melihat Sita mengumpat tanpa suara saat harus mencetak ulang laporan yg sebenarnya sudah ia baca dan terima pagi tadi. Entah mengapa, menyiksa wanita itu membuatnya terhibur. Mengingat bagaimana wanita itu telah mempermalukan dirinya di hadapan seluruh karyawan perusahaannya, membuat Mahesa kembali kesal. Meski begitu, ia harus mengakui bahwa pekerjaan wanita itu benar - benar rapi. Sangat bagus dan teliti. Dari pertama kali menerima laporan yg diberikan Sita, jujur Mahesa sudah puas dengan hasil kerjanya. Namun, keinginan untuk sedikit memberi pelajaran pada Sita membuat sisi jahatnya bangkit. "Kenapa kau begitu kejam padanya?" Anna berjalan mendekat dan menompangkan dagunya di bahu Mahesa. Wanita itu menatap iba Sita yg tengah sibuk merapikan lembaran - lembaran laporan yg begitu banyak. "Dia pantas mendapatkannya. Ia telah menjatuhkan harga diriku." Jawab Mahesa tidak peduli. Anna mendengus, "Tidak ada yg pantas mendapat siksaanmu hanya karena ia tidak sengaja mempermalukanmu." Mahesa menoleh sekilas. "Darimana kau tau dia tidak sengaja?" Anna menarik dirinya dan memutar bola matanya. "Itu sudah terlihat jelas. Wanita seperti dia tidak akan mungkin sengaja melakukan itu." Jelas Anna. Mahesa mengerutkan keningnya. "Hanya karena kau seorang psikiater, belum tentu semua yg kau katakan itu benar." Anna mengangkat bahunya. "Who knows? Aku hanya menggunakan kemampuanku." "Meski begitu, dia tetap pantas mendapatkannya." Ujar Mahesa yg membuat Anna menghela nafas kesal. Tidak pernah berubah. Kekasihnya itu tetap keras kepala dan terlalu mementingkan harga diri dibanding apapun. Bunyi alarm di ponselnya, membuat Anna menoleh dan merogoh tas tangannya. Ia lalu mematikan alarm itu bangkit berdiri. "Aku harus pergi. Jangan lupa nanti malam kau akan bertemu dengan Pop dan Mom. Jangan lupa gunakan kemeja yg mereka berikan, Pops akan menyukainya. Bye, Hon." Anna memberikan kecupan singkat pada bibir Mahesa sebelum melangkah menuju pintu. Baru saja ia ingin meraih engsel pintu, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan memperlihatkan sosok Sita yg terlihat benar - benar berantakan. "Oh my, look how messy you are. Good luck." Gumam Anna prihatin dan menepuk bahu Sita yg terlihat bingung sekaligus panik. Sebelum benar - benar pergi, Anna memberikan senyumannya sekali lagi. Di dalam ruangan, Mahesa menunggu dengan kedua tangan di lipat di depan d**a. Ia menyenderkan tubuhnya di meja kerja dan melihat Sita tergopoh - gopoh membawa laporan itu ke arahnya. "Maaf lama, pak. Ini laporan yg bapak minta. Silahkan dilihat." Ujar Sita dengan suara pelan. "Letakkan di meja." Perintah Mahesa dan Sita menuruti. "Kalau begitu, saya perm--" belum sempat Sita menyelesaikan kalimatnya, Mahesa langsung memotong. "Tunggu." Wajah Sita terlihat bingung, namun ia tetap diam. Menunggu kata - kata berikut dari atasannya. "Iya, kenapa pak?" "Siapa bilang kamu sudah boleh pergi? Aku mau kau menjelaskan isi laporan ini padaku. Sekarang."                                                                                         ******* "Astaghfirullaah, mimpi apa ya gua sebelum masuk ke perusahaan ini? Kok apes banget gua? Apa gua resign aja ya Lin?" Rengek Sita frustasi. "Hush! Sembarangan. Dikira nyari kerja itu gampang? Gua ingetin ya Sit, sekarang tuh lu nyari kerja susah. Apalagi yg gajinya lumayan kaya disini. Ntar lu nyesal deh, yakin gua." Jawab Linda menasehati. Sita yg menyembunyikan wajahnya atas lengannya mengerang. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap Linda dengan sedih. "Tapi Lin, gua benar - benar ga kuat. Sumpah ini gua sial banget dapat atasan kaya iblis gitu. Rasanya gua pengen pulang aja ke kampung halaman." Keluh Sita lagi. "Ih! Jangan dong! Lu ya harus sabar. Hidup tuh ga ada yg semudah lu bayangkan. Semua pasti ada cobaannya. Anggap aja ini cobaan, emak lu juga bakal sedih kalo lu resign." Lanjut Linda berapi - api menasehati temannya. Disatu sisi, Linda tidak ingin kehilangan teman sekantor yg dekat dengannya. Sama seperti Sita, Linda juga merupakan karyawan baru. Dimana hanya Sita satu - satunya karyawan yg cocok dan dekat dengannya. Begitu juga Sita terhadapnya. Sita mendengus kesal. "Iya sih. Aduh ribet banget hidup gua. Kenapa sih gua ga bisa tenang. Kemarin pas mau lulus aja susah, sekarang pas dapet kerja malah atasannya yg susah. Cobaan cobaan.." gumam Sita kembali menyembunyikan wajahnya di kedua lengan. Drrt.. drrt.. Getaran ponsel membuat Sita mengangkat wajahnya dan memeriksa siapa yg telah menghubunginya. 'Hendra.' Melihat nama itu membuat Sita terdiam sesaat sebelum mengangkat. "Assalamualaikum, oy?" Ujar Sita pelan. 'Waalaikumsalam, woy Sit! Dimana lu?' "Kantor. Napa lu?" 'Jamber lu kelar?' Sita melirik ke jam tangannya sebelum menjawab. "Bentar lagi, kenapa? Lu mau jemput gua? Baik banget lu." Ujar Sita asal. 'Iya nih. Kabarin aja kalo lu uda pulang. Kantor lu dimana btw?' Jantung Sita sesaat berdegup, namun ia menutupi semua itu dengan baik. "Di jakarta." 'Aelah, tuhan. Jakarta luas b**o. Lu kira gua dukun?!' "Iye iye bawel. Gua sms deh." 'Oks. Buruan!' "Iyee!" Jawab Sita sebelum akhirnya menutup telpon. Disampingnya, Linda melirik usil saat melihat ekspresi Sita yg agak berbeda saat menerima telpon tadi. "Hayoo, siapa tuh yg nelpon? Kayanya someone special ya?" Ledek Linda yg terkekeh. Wajah Sita mengerut bingung, ia menepuk lengan Linda pelan karena kesal dengan ekspresi temannya itu. "Aduh, sakit. Yaelah, gapapa kali cerita ke gua. Jadi gimana?" "Ga gimana gimana. Apaan sih lu?" Jawab Sita sedikit salah tingkah. Gadis gemuk itu sulit untuk berbohong, saat tubuhnya lebih jujur daripada pikirannya. Buktinya kini wajahnya sudah berubah merah dan membuat Linda terkekeh geli. "Percuma lu mencoba nipu, Sit. Muka lu uda menjawab. Ceileeeh, jadi gebetan tuh? Duh duh. Uda berapa lama?" Goda Linda menyenggol lengan Sita yg tengah mengirim pesan pada Hendra. "Berisik lu. Uda biasa aja kali gua." Tawa Linda semakin membahana saat akhirnya Sita mengakui. "Kan gua bilang juga. Biasa darimana? Muka kaya gitu. Pasti lu deg - degan deh." Linda terus menerus mencolek dan menggoda Sita hingga akhirnya wanita itu berang. "Udah ah! Bodo amat!" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN