Hendra menghela nafas untuk yang kesekian kali. Setelah akhirnya ia kembali menjalankan mobilnya, dengan satu orang penumpang tambahan.
Berulang kali ia melihat ke arah kaca spion untuk meminta penjelasan dari Sita yang duduk di kursi belakang. Namun, wanita itu hanya bisa mengidikkan bahu dan menggeleng pelan. Berusaha tidak ketahuan penumpang lain yaitu Mahesa.
"Terima kasih atas tumpangannya." Ujar Mahesa memecahkan keheningan.
Tidak sadar bahwa perkataannya mengejutkan dua orang lainnya yg tengah berinteraksi dalam diam.
"Oh iya, sama - sama." Jawab Hendra sedikit gugup dan tersenyum canggung.
"Kita pernah bertemu sebelumnya kan?" Tanya Mahesa yang membuat Hendra menoleh sesaat.
Hendra mengangguk.
"Iya, saat waktu makan siang di mall pak."
"Ah, iya. Kejadian dimana teriakan gorila itu membahana ya?" Ujar Mahesa tidak sadar telah menyebabkan orang yg dimaksudnya tersindir dan menatapnya kaget.
'Go... go.. rila?' Gumam Sita dalam hati.
Rasanya ia ingin memukul kepala Mahesa jika saja pria itu bukan atasannya. Namun, karena Hendra mengeluarkan tawa yg membahana saat mendengar perkataan Mahesa, mau tidak mau ia harus rela menjadi korban pelampiasan Sita.
"Aow! Sakit Sit!" Erang Hendra setelah Sita mencubit lengannya dengan sekuat tenaga.
Hendra menoleh ke belakang dan memberikan tatapan kesal sebelum kembali menatap jalanan.
"Kalo gua ga nyetir, habis lu Sit. Liat aja"
Mahesa melihat pertengkaran mereka dalam diam. Merasa sedikit kesal entah kenapa. Ia lalu berdeham, mengembalikan perhatian dua insan itu kepadanya.
"Oh iya pak. Bapak ga jadi pulang?" Akhirnya Sita mencoba membuka topik.
Mahesa menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa pak?"
"Saya baru ingat ada janji bertemu seseorang." Jawab Mahesa yang membuat Sita mengangguk.
"Ketemu mba Anna ya pak?" Tanya Sita berniat menggoda Mahesa.
"Kenapa kau ingin tau?" Jawaban Mahesa yg serius membuat Sita diam.
Suasana menjadi sedikit canggung karena Sita bingung harus bereaksi seperti apa terhadap pertanyaan itu. Yang akhirnya ia lakukan hanya tertawa hambar dan menjawab seadanya.
"Ya kan mana tau pak. Soalnya tiba - tiba. Memang bapak ga bawa mobil?"
"Bawa."
Baik Hendra maupun Sita saling menatap satu sama lain melalui spion. Mencoba memikirkan kata yang baik untuk menjawab.
"Oh, emang mobil bapak kenapa pak? Rusak?" Tanya Sita lagi, mencoba melanjutkan pembicaraan yang semakin lama semakin membingungkan.
"Tidak juga. Hanya saya sedang tidak mood membawa mobil." Kali ini Mahesa membuat Hendra meremas setirnya karena gemas.
Mendengar jawaban demi jawaban Mahesa membuat Hendra kesal. Beruntung saja pria ini atasan sahabatnya, jika tidak, mungkin mulutnya tidak akan berhenti mengumpat.
"Oh gitu..." adalah jawaban terakhir Sita sebelum akhirnya diam.
Tidak tau lagi harus berkata apa. Setelah mengetahui kenyataan yg dikatakan Mahesa, Sita mulai berpikir keras. Dimulai dari pria itu mendadak batal pulang, lalu ternyata ia membawa mobil tapi malah memilih menumpang. Apakah ini hanya kebetulan? Atau disengaja?
Jika kebetulan, itu artinya Mahesa memang benar - benar ada janji mendadak yang ia lupakan. Mungkin jika ia menunggu mobilnya, ia akan terlambat. Oleh karena itu ia memilih menumpang, karena kebetulan mereka searah. Tapi....
"Ngomong - ngomong bapak mau kemana ya?" Tanya Sita setelah sadar ia belum mendengar sama sekali kemana tujuan Mahesa.
Ia bahkan tidak tau kemana Hendra akan membawanya. Lalu bagaimana Mahesa tau bahwa mereka searah?
Hendra pun baru ingat bahwa ia belum menanyakan kemana tujuan Mahesa.
"Oh iya, anda mau kemana ya?" Tanya Hendra.
Mendengar itu Mahesa diam. Sedikit salah tingkah sebelum akhirnya mencoba tenang.
"Ah iya. Apa kau lewat Sency?" Mahesa mencoba memikirkan kemungkinan tempat yang dilewati Hendra setelah melihat sekitar mereka dan papan jalan.
"Oh, kebetulan. Saya mau ke Sency. Bapak mau diturunkan dimana?"
Mahesa yang mendengar jawaban itu diam - diam menghela nafas lega.
"Kalau begitu, saya minta tolong diturunkan di lobby saja."
****
"Kocak ya bos lu. Aneh - aneh aja tingkahya." Ujar Hendra setelah menurunkan Mahesa di lobby.
Sita menghela nafas lega dan melemaskan tubuhnya yang sejak tadi tegang.
"Emang. Gua juga bingung tuh orang kenapa ya?"
"Gila sih. Mobil ada, males bawa. Malah numpang, dikira gua supir kali ya?"
"Memang."
Kesal, Hendra melempar bungkus snack yg masih berisi ke arah Sita yg sedang setengah melamun.
"k*****t lu, Ndra. Kaget gua." Seru Sita marah.
"Makanya gausa melamun. Hobi banget lu melamun. Woy! Pindah sini depan. Lu kira gua supir taksi?!"
Sita memutar bola mata jengah.
"Yaelah monyet, kita uda mau ke parkiran juga. Males ah gua."
"Buru naik sini ga?!" Ancam Hendra menghentikan mobilnya di tengah antrian menuju parkiran.
"Woy! Ini lagi antri! Hendra!" Mereka akhirnya menerima klakson yang bertubi - tubi karena perbuatan Hendra.
Mau tidak mau, Sita terpaksa melompat maju dan duduk di depan.
"Kekanakan banget lu emang."
Sita menghela nafas kesal, sementara Hendra disampingnya terkekeh dan lanjut membawa mobil.
"Kan gua ga berniat masuk ke Sency."
Mendengar itu Sita menoleh cepat dan menatap Hendra bingung.
"Lah terus ngapain lu kesini? Tadi katanya lu mau ke Sency."
Hendra mengangguk membenarkan.
"Memang. Tapi gua berubah pikiran."
"Terus lu mau kemana?"
"Liat aja nanti."
Menahan kesal Sita hanya diam. Menatap tajam Hendra yang tersenyum senang karena berhasil menjahilinya.. lagi.
"Terus ngapain kita masuk ke parkiran?" Tanya Sita dengan sabar.
Hendra mengangkat bahu acuh.
"Numpang lewat aja."
****
Mahesa berjalan masuk ke lobby utama dengan biasa. Setelah yakin bahwa mobil Hendra sudah menghilang, dia akhirnya menghela nafas.
Apa yang sudah ia lakukan? Kenapa tiba - tiba ia jadi seperti ini?
Tubuhnya melakukan sesuatu semaunya. Saat melihat Hendra ntah kenapa Mahesa merasa tidak tenang. Padahal sebelumnya ia biasa saja melihat Sita bersama pria itu. Tapi, sejak hari itu melihat Sita bersama Hendra membuatnya kesal.
Siapa pria itu? Ia harus mencari tau.
"Silahkan pak, kami memiliki menu baru.... bla bla.." sapa seorang waitress yang berdiri di depan restoran.
Mahesa menggeleng dan melanjutkan perjalanan tanpa arahnya.
Sekarang apa?
Bagaimana ia harus melanjutkan kebohongannya? Apa dia harus mencari Sita? Ya, mungkin itu ide yang baik.
Sembari berjalan, Mahesa menelusuri semua tempat, lantai dan bahkan tempat permainan. Kalau dipikir - pikir, dia sama sekali tidak pernah sesantai ini. Berkeliling mall sendiri dan melihat - lihat tanpa ada unsur pekerjaan.
Setelah hampir 1.5 jam berkeliling, Mahesa memutuskan untuk beristirahat di sebuah cafe. Apakah mall ini begitu luas? Ia sama sekali belum bertemu dengan Sita ataupun Hendra. Tempat seperti apa yang mungkin mereka datangi? Bioskop?
Membayangkan Sita dan Hendra kencan membuat hatinya panas. Bagaimana bisa seorang Mahesa menjadi seperti ini?
"Hesa?"
Suara itu membuat Mahesa menoleh.
"Anna?"
Kekasihnya itu terlihat tidak percaya, namun wanita itu tersenyum. Anna tidak sendiri, ia bersama dengan beberapa orang yang menurut Mahesa adalah klien Anna.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Anna dan mengecup singkat pipi Mahesa.
"Bersantai. Kau sedang bekerja?"
Anna mengangguk dan lalu memperkenalkan kliennya dengan Mahesa.
"Jika kita melakukannya disini, apa anda keberatan?" Tanya Anna pada para kliennya.
Dua orang pria itu menggeleng dan tersenyum.
"Silahkan saja."
Lalu mereka pun mulai berdiskusi, bersama Mahesa yang akhirnya ikut mendengar dan melihat hasil diskusi mereka. Bahkan Anna merekomendasikan dirinya pada para klien hingga kerja sama itu ikut membawa dirinya.
"Jadi, mungkin akan butuh waktu beberapa bulan. Namun, saya bisa pastikan semua akan selesai dengan sempurna, bukan begitu Mahesa?" Jelas Anna.
Mahesa mengangguk tegas.
"Iya, untuk membangun bagian ini dan ini bisa saya usahakan secepat mungkin. Untuk desain dan yang lain nanti akan saya kirimkan. Anda bisa memilih mau seperti apa?"
Kedua klien itu tersenyum puas dan mengangguk. Setelah diskusi dan urusan mereka selesai, Anna dan Mahesa mengantar kedua klien itu pergi.
"Kau sendiri? Dimana bawahanmu si Edwan? Biasa kau selalu bersama dengannya."
Mahesa menyesap kopinya dan menggeleng.
"Aku sedang tidak bekerja."
"Jadi kau menyetir sendiri?" Anna pindah posisi duduk disamping Mahesa dan bersandar di bahu pria itu.
Sekali lagi Mahesa menggeleng.
"Tidak. Aku tadi menumpang mobil teman Sita. Kebetulan mereka juga ingin ke tempat ini." Ujar Mahesa dengan tenang.
Anna menarik wajahnya dan menatap Mahesa.
"Sita disini? Bersama Hendra? Kau serius?" Suara Anna terdengar begitu semangat dan antusias.
Terakhir bertemu dengan Hendra, ia sangat menyukai pria itu. Menurutnya pria itu memiliki talenta yang bagus dan ia sangat tertarik.
Mahesa mengangguk membuat Anna menjadi semangat.
"Kalau begitu ayo bertemu. Dimana mereka? Kenapa kau tidak sekalian mengajak mereka? Kemarikan ponselmu." Anna hendak mengambil ponsel Mahesa yang langsung ditahan pria itu.
"Hentikan. Aku tidak mau bertemu mereka." Ujar Mahesa mencoba menghentikan Anna.
Tapi, tidak semudah itu Anna menyerah.
"Kenapa? Apa karena Sita? Kau masih tidak menyukainya? Berhentilah bersikap seperti itu."
"Tidak." Tetap Mahesa menolak.
Tidak berhasil mengambil ponsel Mahesa, membuat Anna ingat bahwa dia memiliki nomer Hendra.
"Baiklah kalo begitu. Aku yang akan menghubungi sendiri."
Dan terlambat. Saat Mahesa mencoba menghentikan, Anna sudah lebih dulu menghubungi Hendra. Hancur sudah harga diri Mahesa. Mereka pasti mengetahui kebohongan yang telah ia lakukan.
"Halo? Hendra? Ini aku Anna. Iya, aku dengar kau dan Sita sedang berada di Sency? Hah? Oh kalian tidak jadi?"
Wajah Mahesa detik itu menoleh ke arah Anna. Pria itu menatap penasaran pembicaraan Anna dan Hendra. Apa maksudnya mereka tidak jadi? Mereka tidak jadi ke Sency?
"Oh begitu? Jadi kalian pergi ke tempat lain? Sayang sekali.. Aku pikir bisa bertemu. Baiklah. Lain kali saja. Sampaikan salamku untuk Sita. Bye." Dan ketika Anna mematikan telpon, Mahesa disampingnya sudah memasang tampang meminta penjelasan.
"Haa, mereka tidak jadi kesini. Katanya setelah mengantarmu, mereka memutuskan pergi ke tempat lain. Padahal aku berharap bisa mengobr--"
"Kemana mereka pergi?" Tanpa peduli perkataan Anna, Mahesa memotong.
Membuat Anna mengerutkan kening bingung.
"Aku tidak tau. Hendra tidak mengatakannya." Jawab Anna yang kemudian tanpa Mahesa sadari memperhatikan ada yang berbeda dengan sikap pria itu.
Mahesa terlihat tidak suka dan kesal. Pria itu mengepalkan tangan dan menatap sesuatu dengan tajam. Seakan ia sedang membayangkan sesuatu yg membuatnya marah.
"Apa terjadi sesuatu?" Gumam Anna pelan.
Menghela nafas kesal, Mahesa menggeleng. Ia melihat jam tangannya dan kemudian bangkit dari kursi.
"Aku mau pulang."
****
"Lu mau bawa kita kemana, Ndra?" Tanya Sita saat melihat Hendra memasuki jalan tol.
"Bandung."
Kata - kata itu keluar begitu saja dengan gampangnya dari bibir Hendra. Sementara Sita yang mendengarnya membelalakkan mata tidak percaya.
"Woy, setan! Lu gila? Gua besok kerja bodoh!" Teriak Sita memukul lengan Mahesa.
Pria itu hanya tertawa.
"Ya terus? Kan bisa sekali jalan kali."
"Ini uda jam berapa?! Kagak mau gua!"
"Masih jam 6 kali. Jangan lebay deh." Ujar Hendra santai.
"Lebay kepala lu! Mau jam berapa kita balik? Kalo besok libur gapapa. Ini hari kerja. Balik balik!" Perintah Sita tidak mau mendengarkan penjelasan Hendra.
"Cuti dong Sit." Suara Hendra terdengar seperti memohon, namun Sita yang belum menyadari masih emosi.
"Cuti cuti gigi lu. Dikira enak apa? Gua mau nyimpan jatah cuti buat nanti leba--" kalimat Sita terputus saat Hendra tiba - tiba berkata.
"Kali ini aja. Gua butuh lu--" dan ketika pria itu menoleh menatapnya dengan serius, Sita terdiam.
"Gua mohon."
Tatapan Hendra terlihat begitu terluka dan Sita benci untuk mengatakan bahwa ia tidak kuat melihat itu. Perasaan itu memenuhi hatinya lagi. Seakan dipaksa oleh sesuatu, Sita hendak menyetujui dan mengalah. Namun, getaran ponsel mengejutkan dia dan Hendra.
Sita segera mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah panggilan yang entah mengapa membuat tubuhnya menegang.
'Mahesa'
To Be Continued