Sita berlari secepat yang dia bisa setelah melompat turun dari ojek. Ia mencari tempat sebuah bar yg tadi diberitahu Hendra padanya. Rasa panik menguasainya, tidak pernah ia mendengar suara Hendra semenyedihkan itu. Bahkan saat anjingnya meninggal, Hendra tidak seperti ini. Dan hanya org yg tidak mengenalnya yg tidak tau betapa ia mencintai peliharaannya itu.
"Permisi, maaf permisi." Ujar Sita saat terburu - buru melewati kerumunan orang yg tengah menari dan berjoget.
Beberapa orang dalam keadaan mabuk mengumpat saat Sita tidak sengaja menabrak mereka. Namun, Sita mengabaikannya hingga ia menemukan sosok Hendra yg sudah setengah sadar duduk di meja bar.
"Hendra?" Sita menyentuh bahu Hendra yg kemudian menoleh saat mendengar suaranya.
Aroma alkohol yg kuat menampar wajah Sita saat Hendra mengayunkan tubuh ke arahnya. Pria itu memeluk Sita dan mengigau.
"Lamaaaaa... lu lamaaaa.. heuk!" Erang Hendra diselingi cengukan.
Sita harus menahan tubuh Hendra dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh menimpanya. Pria itu benar - benar mabuk. Sita membayangkan berapa botol yg telah ia habiskan hingga seperti ini?
"Woy, jan- Hendra! Yg bener dd-- Busyeeet!" Tubuh Hendra yg bergerak sesuka hatinya membuat Sita sulit untuk membopongnya.
"Permisi mas, pintu keluar dimana ya?" Tanya Sita setelah berhasil menahan lengan Hendra tetap melingkari lehernya.
Bartender yg ditanyai Sita menunjuk ke arah pintu di sebelah kanan. Cukup dekat dan mudah dilalui dibanding harus melewati kerumunan manusia yg tengah kehilangan kesadaran di tengah ruangan.
Penuh perjuangan serta godaan yg terlontar padanya, akhirnya Sita berhasil mengeluarkan mereka dari tempat mengerikan itu. Seumur - umur Sita tidak pernah masuk ke tempat seperti itu dan setelah mencoba, ia sama sekali tidak tertarik untuk kembali.
"Mana kunci mobil lu?" Tanya Sita setelah mendudukkan Hendra di bebatuan trotoar.
Yang ditanya hanya menyengir dan sesekali menggumamkan hal tidak jelas. Percuma menunggu, Sita berjongkok didepan Hendra dan mulai merogoh saku jas pria itu. Tidak ada. Saku kemejanya.
"Hey.. geli.. heuk.. apa yg kau.. heuk.. lakukan?" Gumam Hendra tidak jelas.
"Halah, diem lu. Buruan dimana kunci mobil lu, nyong?" Acuh Sita sembari menepis tangan Hendra yg terayun ke arahnya.
Tidak ditemukan di bajunya, terakhir adalah saku celana. Sesaat Sita ragu sebelum akhirnya merogoh saku celana Hendra dan membuat pria itu menggeliat. Satu tangan Hendra menarik lengan Sita dan yg lain menarik pinggangnya.
Begitu tiba - tiba hingga membuat Sita terpekik kaget dan kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terhuyung menimpa Hendra.
"Lu apa - apaan sih He--" kata - kata Sita terputus saat ia membuka mata dan melihat sorot mata Hendra dibawahnya.
Mata itu balas menatap matanya dengan lembut. Sorot mata yg selama ini ia harapkan dari Hendra. Sorot penuh rasa sayang dan mendamba.
Sita terdiam. Ia menahan nafasnya, tidak berani bergerak. Posisi itu bertahan selama 5 menit sebelum akhirnya Hendra melepaskan genggamannya di lengan Sita dan kemudian tertidur.
"What the--" Melihat perbuatan Hendra membuat Sita akhirnya sadar.
Kesal, Sita memukul jidat Hendra dengan keras hingga pria itu mengerang kesakitan.
"Enak bener lu ya! Buru bangun, gua tinggal juga lu disini!" Teriak Sita menarik paksa Hendra hingga pria itu berdiri dan menyeretnya ke mobil.
***
"Lu ya, ga password rumah ga password atm, semua sama. Gua bobol juga lama-lama rumah lu." Omel Sita sembari menompang tubuh Hendra yg mengoceh tidak jelas.
Pintu apart. Itu terbuka dan seisi ruangan itu terlihat benar - benar... kacau.
Tumpukan baju dimana - mana, kertas - kertas hingga bekas makanan yang berantakan.
"Ndra, ini tempat tinggal apa kebun binatang?"
Tidak menghiraukan pertanyaan Sita, pria itu hanya merancau dan bergumam tidak jelas. Mengharuskan Sita membawanya lebih dulu ke kamar.
Sama seperti diluar, keadaan kamar Hendra benar - benar sama kacau dan berantakan. Membuat Sita heran bagaimana bisa dia tinggal di tempat seperti ini? Kenapa ia tidak menyewa tukang bersih yg setidaknya bisa membersihkan saat dia bekerja?
Dengan terpaksa Sita meletakkan tubuh Hendra asal di kasurnya. Melepaskan sepatu, jam dan benda yang mungkin menyesakkan pria itu. Setelah yakin pria itu nyaman, Sita mulai merapikan kamar. Membersihkan yang bisa ia bersihkan.
Dalam sehari harus merawat dua pria bergantian, membuat Sita frustasi. Bagaimana bisa mereka janjian untuk mengerjainya seperti ini?
Setelah membersihkan ruang tengah, Sita menyiapkan air hangat untuk melap tubuh Hendra.
"Heh, bodoh. Bangun dulu, bau banget lu. Ganti baju." Perintah Sita memaksa Hendra untuk duduk dan melepaskan kemejanya.
Bersusah payah Sita melap badan Hendra dan memakaikan kaos. Beruntung ia sudah terbiasa melakukan ini. Sehingga ia tidak lagi bingung harus melakukan apa. Iya, ini bukan pertama kali Hendra seperti ini. Mabuk - mabukan dan menghubunginya.
Namun, suara Hendra yg tidak pernah ia dengar sebelumnya membuatnya khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sita mengigit bibirnya, menahan perasaan lama yg berusaha ia tekan itu kembali hadir. Melihat Hendra seperti ini membuat dinding itu kembali runtuh, mendengar suara Hendra dan menjadi tumpuan pria itu dikala dirinya seperti ini membuat Sita tidak bisa menahan perasaan itu.
Ia masih mencintai pria ini. Dengan segenap jiwanya.
Tidak terasa airmata itu mengalir. Sita menangis, mengenang kenangan - kenangan dan juga kebodohan yg telah terjadi.
Sebelum tangisan itu berubah menjadi isakan, Sita memutuskan untuk pergi. Ia bisa mendengar penjelasan Hendra besok. Yang penting, saat ini pria itu sudah aman. Dia tidak perlu khawatir.
Sita menghapus airmatanya dan beranjak pergi saat Hendra tiba - tiba menahan tangannya.
"Sit..." panggil pria itu dan Sita menoleh.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Please, temenin gua." Bisik Hendra memohon.
Ragu dan bimbang, Sita diam. Mendengar permohonan itu, hancur sudah tembok yg telah ia bangun. Sita mengangguk dan meraih tangan Hendra sebelum kembali duduk disamping pria itu.
"Iya, gua disini. Tidurlah." Gumam Sita lembut sembari mengelus kepala pria itu.
****
Keesokan paginya, Sita membuka mata dan menemukan dirinya kini berada di tempat tidur Hendra. Berbaring menyamping disatu sisi kasur. Sedikit panik, Sita berbalik dan menemukan Hendra sudah menghilang. Ia lalu bangkit duduk dan menatap sekitar.
"Ndra! Hendra!" Panggil Sita panik.
Kemana perginya pria itu? Sialan.
Melihat betapa cerahnya hari membuat Sita semakin panik. Jam berapa ini? Sita mengambil ponselnya dan memaki pelan, dengan buru - buru ia melompat dari kasur Hendra menuju kamar mandi.
"Hendra setan!" Maki Sita kesal sembari mencuci mukanya.
Setelah membaca pesan Hendra di ponselnya, Sita tidak bisa berhenti mengeluarkan kata - kata makian.
'Woy Sit, jangan lupa bangun. Gua berangkat duluan, uda telat. Hehehehe.'
Ingin sekali ia melemparkan granat ke wajah pria itu jika masih disini. Bagaimana bisa Hendra tidak membangunkannya? Disaat pria itu tau bagaimana sifat atasan luar biasa itu.
****
"Maaf pak. Saya telat." Gumam Sita merasa bersalah saat masuk ke ruang Mahesa.
Mahesa mendongak sesaat sebelum kembali menatap dokumen. Pria itu mengangguk.
"Iya, tidak apa. Kau bisa mulai bekerja sekarang." Ujar Mahesa yang demi apapun membuat Sita mengerjap beberapa kali.
Dia sedang bermimpi, atau ini memang benar terjadi? Bagaimana bisa Mahesa menerima begitu saja?
"Hmm.. kalau begitu saya permisi pak." Ujar Sita berjalan keluar.
Sita tidak bisa berhenti membayangkan sikap Mahesa yang begitu tenang. Biasanya pria itu akan memarahi atau menyindirnya, tapi tadi sikapnya berbeda. Mungkin dia berhutang budi karena Sita telah merawatnya.
"Sit, ini ada tugas dari pak Ayub. Lu disuruh inputin data sama misahin data barang import export bulan lalu. Ada ribuan tuh." Suara Linda membuyarkan lamunan Sita.
"Busyet, datanya excel kan? Kalo dikasih pdf lagi, gua gigit pak Ayub."
"Kagak tau gua, mudah - mudahan sih. Lagian ada - ada aja ya, ngasi data kok pdf. Ribet ngolahnya."
"Ya makanya, males gua convert. Kalo uda excel kan tinggal pake Access." Dan begitulah selanjutnya pembicaraan mereka hingga waktu makan siang tiba.
Sita merenggangkan tubuhnya setelah menyelesaikan satu tugas. Linda sudah lebih dulu pergi ke kantin meninggalkannya sendiri. Dan kini untuk berjalan menuju kantin, Sita benar - benar malas.
Baru saja akan mengecek ponsel, Sita merasakan getaran di saku nya. Ia menyentuh layar ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk.
'Hendra'
"Kenapa lagi nih landak arab?" Gumam Sita sebelum membuka pesan itu.
From: Hendra
'Wak! Ntar pulang kabarin. Gua jemput. Gua mau cerita.'
Membaca pesan itu membuat Sita kesal. Setelah kejadian tadi pagi, ia masih menyimpan dendam pada sahabatnya itu.
To: Hendra
'Gua sibuk. Ga ada waktu buat bacotan lu.'
From: Hendra
'Yaelaah. Gausa gaya lu. Apa si bos nyiksa lu lagi?'
To: Hendra
'Taik lu. Bener" ya lu tega banget ninggalin gua, nyet.'
From: Hendra
'Hahaha. Habis lu nyenyak banget Sit. Ga tega gua. Yauda gua jemput jamber?'
Sita menghela nafas. Merasa kalah dan menyerah, akhirnya ia pun menerima tawaran pria itu.
To: Hendra
'Jam 5 gua balik. Jemput di lobby ya. Gua gamau jalan jauh - jauh.'
From: Hendra
'Siap Nyonya!'
Dan berakhirlah komunikasi via pesan itu. Sekali lagi Sita menghela nafas dan tanpa sadar men-scroll chat lama mereka. Melihat betapa banyak hal absurd yang mereka bicarakan membuat Sita tersenyum. Dari waktu terakhir hingga akhirnya mereka mulai berkomunikasi lagi benar - benar lama.
Kini apakah semua akan berakhir sama? Apakah nanti Hendra akan kembali pergi? Meninggalkannya dalam rasa sakit dan kecewa.
Tawa pedih meluncur keluar dari bibir Sita. Ia meruntuki dirinya yg begitu bodoh. Mengharapkan sesuatu yg tidak bisa ia dapatkan.
"Berhentilah bodoh. Kau sudah berjanji." Gumam Sita pada dirinya sendiri.
****
"Sita." Panggil Mahesa saat Sita akan meninggalkan meja kerjanya dan pulang.
Wanita itu menoleh dan menatap Mahesa.
"Ah, iya pak? Ada apa?"
Mahesa menggaruk belakang lehernya sebelum berkata, "Apa kau ada rencana setelah ini?"
Sita diam sebelum mengingat janjinya dan mengangguk. Menyebabkan raut kekecewaan yg berhasil disembunyikan Mahesa dengan cepat.
"Saya ada janji sama teman pak. Kenapa gitu pak?"
"Oh, engga. Kalau begitu silahkan. Kau pulang atau--"
"Saya di jemput teman saya pak."
"Oh, gitu. Yauda ayo sekalian." Mahesa mengangguk - angguk dan mengajak Sita untuk berjalan turun bersama.
Mereka berbincang hingga tiba di lantai bawah. Terasa begitu nyaman tanpa ada rasa canggung sama sekali. Benar - benar tidak seperti bayangan Sita.
"Oh, saya uda dijemput. Kalau gitu saya duluan ya pak." Pamit Sita saat melihat mobil Hendra sudah tiba di depan lobby seperti keinginannya.
Mahesa mengangguk dan tersenyum sebelum melihat siapa teman Sita yg menjemputnya. Dan saat mata itu melihat Hendra, raut wajah Mahesa seketika berubah. Dengan gerakan refleks, ia meraih tangan Sita dan menahannya.
Membuat wanita itu hampir terhuyung karena kaget.
"Pak?" Sita yang bingung tiba - tiba ditarik menoleh menatap Mahesa.
Namun, ekspresi Mahesa membuat Sita mengerutkan kening. Ada apa?
Tanpa mengalihkan tatapannya dari Hendra yg kini ikut menatapnya, Mahesa berkata.
"Kau pulang dengan ku."
To Be Continued