Mahesa membuka mata saat akhirnya rasa sakit dikepalanya mulai mereda. Rasa panas disekujur tubuhnya juga sudah hilang. Berganti dengan gerah dan sedikit pegal di tubuhnya. Sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh handuk basah yg menutupi kening dan sebagian matanya.
Sejenak ia diam dan mencoba mengingat yg terjadi. Jika ia tidak salah, ia menerima panggilan telpon dari Sita dan menyuruh wanita itu datang. Lalu suara berisik bel yg menganggunya hingga ia menandatangani surat. Setelah itu semua gelap. Tapi, tidak hanya itu. Ia yakin tidak bermimpi saat mendengar ocehan Sita dan juga siksaan wanita itu yg membuatnya hampir mati.
Iya, Sita telah merawatnya. Wanita itu membuatnya merasa lebih baik sekarang. Dan anehnya itu membuatnya senang dan menyunggingkan senyuman.
Merasa cukup baik, Mahesa mencoba bangun dan mengangkat tubuhnya. Ia mengukur suhunya dengan telapak tangan. Sepertinya ia sudah jauh lebih baik dan bisa mandi. Karena sejujurnya, ia merasa sangat gerah dan lengket. Ia butuh mandi.
Saat berjalan menuju kamar mandi, Mahesa melirik jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 6 malam. Itu berarti dia sudah tertidur cukup lama. Pantas ia merasa cukup baik sekarang. Tubuhnya sudah terlalu lama beristirahat.
****
Mengenakan celana pendek tanpa atasan, Mahesa berjalan keluar dari kamar mandi. Sebelah tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Ia lalu berjalan menuju lemari pakaian nya dan mengambil asal kaos yg bisa ia pakai.
Pria itu lalu berjalan keluar kamar dan menemukan tv ruang tamunya menyala. Kening Mahesa mengerut bingung. Siapa yg sudah menyalakan tv nya? Apa Sita masih berada disini? Batin Mahesa sebelum berjalan mendekati sofa ruang tengah dan menemukan tidak ada seorang pun disana.
Rasa kecewa sedikit menyelimuti, namun ia menutup hal itu dengan merasa kesal karena keteledoran Sita yg meninggalkan tv nya menyala. Emosi, Mahesa mengambil remote dan mematikan tv dan kemudian melempar remote itu asal. Ia merasa kesal tanpa sebab dan kecewa.
Ada satu sisi di hatinya yg menginginkan wanita itu tetap tinggal. Menunggunya hingga ia terbangun. Namun, kenyataannya tidak. Sesaat Mahesa tersadar dari lamunan dan mengenyahkan pikiran itu segera. Bagaimana bisa ia memikirkan wanita lain?
Tapi, wanita itu berbeda. Dia tidak tau kenapa tapi ia merasa begitu tertarik dengan Sita. Tanpa ia bisa menghentikan.
Dan setelah mengingat - ingat, Mahesa menyadari bahwa dirinya tanpa sengaja telah mengacuhkan wanita itu hanya karena dirinya tidak sengaja melihat seorang pria di kamar Sita waktu itu. Dia membenci kenyataan bahwa Sita sudah memiliki kekasih. Itu benar - benar membuatnya kesal.
Sekali lagi Mahesa kembali tersadar dan kali ini keningnya ikut mengerut. Apa yg sebenarnya terjadi? Kenapa wajah wanita itu terus berada di kepalanya? Bagaimana bisa?
Mahesa mencoba mengenyahkan pikiran kotor yg memenuhi kepalanya saat memikirkan Sita.
'Tidak. Tidak boleh. Bagaimana bisa kau tertarik pada wanita gendut itu?' Batin Mahesa pada dirinya.
Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali dan menghela nafas kasar. Ia berjalan menuju kulkas dan mengambil air dingin lalu menegaknya. Ia sepertinya butuh menyegarkan pikirannya. Demam telah menghancurkan sistem dan hormon tubuhnya. Ia menjadi tidak bisa mengontrol hasratnya dan malah hampir melakukan kesalahan.
'Kau sudah memiliki Anna yg begitu menggoda, kenapa malah memikirkan wanita gendut itu? Sadarlah Mahesa!' Perintah Mahesa pada otaknya.
Dan setelah menenangkan pikirannya, untuk terakhir kali pria itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sebelum sebuah suara dari arah kamar mandi membuatnya menoleh.
"Lho? Bapak uda sehat?"
Mahesa berani bersumpah, jantungnya hampir berhenti berdetak saat melihat Sita saat itu.
***
Ternyata, harapannya dikabulkan. Sita memang tinggal. Wanita itu hanya melakukan ritual alamiah manusia di kamar mandi. Ia sama sekali tidak menyadari suara apapun saat bangun dan itu salahnya.
Sekarang dengan hati berbunga - bunga yg ia sembunyikan dibalik wajah dinginnya, Mahesa menatap Sita yg tenga sibuk menyiapkan makan malam. Ternyata, Sita memang tinggal dan menunggunya.
"Bapak habisin bubur dulu ya? Sama minum teh hangat nih." Ujar Sita sembari meletakkan semangkuk bubur di hadapan Mahesa yg mengerutkan keningnya.
"Lah, kok bubur? Bukannya tadi kamu masak sesuatu?"
"Oh itu mah buat saya. Saya tadi beli capcay terus minjem kompor bapak ya hehe lupa bilang." Ujar Sita dengan cengiran di wajahnya.
Untuk sesaat perasaan bahagia Mahesa berubah menjadi kesal. Ia menatap Sita tidak percaya dan hendak memprotes saat wanita itu lebih dulu memotong.
Dengan kedua alis terangkat dan satu tangan menodongkan sendok, Sita berujar, "Anda masih sakit, jangan banyak bicara. Makan aja dulu dan minum obatnya. Ini demi kesehatan bapak. Jangan membantah."
Kata - kata itu membuat Mahesa refleks menahan ucapannya dan memilih mengulum bibirnya. Ia secara alamiah menurut dan segera menyantap makanannya, sementara Sita juga mengambil makanannya.
"Kenapa kamu makan disana?" Tanya Mahesa saat melihat Sita yg duduk di kursi meja dapurnya.
"Eh, gapapa pak. Saya lebih--"
"Sini." Tidak membiarkan Sita menyelesaikan kalimatnya, dengan nada memerintah Mahesa menyuruh Sita untuk duduk di meja makan bersamanya.
Takut membuat Mahesa marah, Sita akhirnya berjalan membawa piringnya dan duduk di bagian kiri Mahesa. Setelah itu suasana terasa hening dan tidak ada sepatah katapun hingga makanan dihabiskan.
"Kenapa kau tidak pulang?" Ujar Mahesa memecahkan keheningan.
"Hmm, tadinya saya juga langsung ke kantor buat ngasi laporan ke pak Ayub dulu." Jelas Sita.
Mahesa menahan diri untuk ber 'Oh' dan hanya menganggukkan kepala.
"Terus karena saya khawatir ya saya kembali lagi. Takut bapak tiba - tiba lewat aja ga ada orang." Lanjut Sita yg mendapat tatapan tajam Mahesa.
"Saya tidak selemah itu."
"Iya sih ga lemah. Cuma ga berdaya aja." Balas Sita cepat tidak sadar memancing Mahesa.
"Kamu terlalu berlebihan dalam menggambarkan."
"Lah memang iya lho. Kalo saya langsung pergi, mau sampe kapan bapak tengkurep kaya orang ma--" kata - kata Sita harus berhenti saat ia melihat ekspresi Mahesa yg merasa tersinggung.
Pria itu rasanya ingin menghilang karena malu. Mengingat betapa lemah dia karena demam.
"Eh iya hehe. Oh iya pak, maaf ya tadi saya ngambil kartu buat kunci apart. soalnya kan saya gatau kodenya." Aku Sita yg merasa menjadi pencuri dan mengembalikan kunci apart. Yg berbentuk kartu kecil.
Biasanya, Mahesa akan marah dan merasa kesal saat privasi dan barangnya disentuh. Tapi, kali ini dia hanya diam, mengangguk dan merasa bersyukur.
"Iya."
****
"Oh iya, saya balik dulu ya pak. Udah mau malam." Pamit Sita setelah selesai membereskan piring kotor.
Mahesa yg tengah membaca berita di sofa ruang tv menoleh dan lalu mengecek jam di ponselnya.
"Bukan mau malam. Ini udah malam. Yauda saya antar." Ujar Mahesa menutup aplikasi ponselnya dan bangkit berdiri.
"Eh eh gausa pak. Saya bisa pulang sendiri. Bapak kan lagi sakit. Istirahat aja." Tolak Sita.
Mahesa diam sesaat sebelum mengangguk.
"Oh gitu? Yauda deh. Hati - hati ya."
Mendengar jawaban Mahesa, Sita sempat diam sebelum menjawab dengan lemas.
"Oh oke pak. Saya permisi ya."
Mahesa mengangguk dan kembali melihat ponselnya.
'Busyet, ga ada basa basi sama sekali. Langsung aja gitu? Bener - bener deh.' Batin Sita sambil mengenakan sepatu dan membuka pintu apart. Mahesa.
"Eh!" Pekik Sita saat pintu itu juga tengah dibuka seseorang.
"Mba Anna?!" Seru Sita saat melihat wajah Anna yg juga terlihat kaget saat melihatnya.
"Lho? Sita? Kamu disini?" Tanya Anna heran.
Sita mengangguk, "Iya bu, tadi saya minta tanda tangan pak Mahesa soalnya."
"Oh. Dia uda sehat?"
Sita kembali mengangguk, "Uda kok. Silahkan dilihat sendiri. Saya ijin pulang dulu ya bu." Sebelum terlibat masalah, Sita buru - buru pergi.
Anna lalu mengangguk dan sedikit menyingkir dari pintu. Setelah Sita benar - benar pergi barulah dia masuk dan menemukan Mahesa.
"Kau sudah baik - baik saja?" Tanya Anna mendekati kekasihnya yg sama sekali tidak menoleh.
"Hey.." kali ini Anna mengelus kepala Mahesa dan membuat pria itu menatapnya.
"Tidak memiliki waktu menghawatirkan ku?"
Anna menghela nafas, melihat kesinisan Mahesa itu tandanya pria itu sedang tidak dalam mood baik.
"Kau tau sendiri, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku." Jelas Anna.
"Well, bahkan jika aku benar - benar sekarat sekalipun." Gumam Mahesa dingin.
Sekali lagi Anna menghela nafas dan duduk di pangkuan Mahesa.
"Kenapa kau jadi begitu sensitif? Ini bukan yg pertama kalinya. Dan sekarang kau mempermasalahkannya?" Ujar Anna lembut.
Mahesa tidak menjawab dan memilih diam. Hingga Anna menarik wajahnya hingga menatap wanita itu.
"Sampai kapan kau akan marah?" Goda Anna dengan mendekatkan bibirnya ke bibir pria itu.
Menahan hasrat yg telah ia pendam, membuat Mahesa akhirnya menyerah. Dalam beberapa detik ia akhirnya mengulum bibir Anna dan membawa wanita itu masuk ke kamarnya.
****
"Untung aja untung." Ujar Sita setelah berhasil keluar dari apart. Mahesa.
Sejujurnya, Jeah merasa canggung saat melihat Anna. Karena balasan chat yg ia terima sebagai Mahesa. Ia sama sekali tidak menyangka Anna setega itu pada Mahesa. Memang apa pekerjaan Anna hingga ia tidak bisa meluangkan sedikit waktunya untuk pacar yg sakit?
Sita merasa sedikit kasihan pada Mahesa. Hingga ia sadar telah melupakan sesuatu. Seharusnya ia tadi menanyakan lada Mahesa alasan kenapa pria itu marah padanya. Tapi, yasudahlah. Sepertinya semua sudah baik - baik saja.
Setelah menyingkirkan pikiran itu, Sita meraih ponselnya dan memesan ojek online dengan aplikasi sebelum sebuah panggilan telpon menganggu.
'Hendra'
Kening Sita mengerut bingung saat melihat temannya itu menghubungi. Dengan sedikit rasa khawatir Sita menekan tombol hijau.
"Halo Ndra? Kena--"
'Sit. Gua hancur Sit...'
To Be Continued