Setelah perubahan perilaku Mahesa yang kembali dingin, Sita hanya bisa pasrah. Kali ini ia sama sekali tidak tahu apa yang telah ia lakukan hingga Mahesa seperti itu. Apa sakit merupakan kesalahannya?
"Gila gua lama - lama, Lin." Rengek Sita setelah tugas terakhir yg diberikan pak Ayub telah selesai ia kerjakan.
Sita melipat kedua tangan di atas meja dan membenamkan wajahnya disana. Menggumamkan hal - hal yg sama sekali tidak di mengerti Linda.
"Udah santai aja. Selama hidup lu ga terganggu mah yaudalah. Lagian biasa atasan mah selalu gitu." Jelas Linda dengan mulut penuh buah.
"Tapi, gua ga bisa ga mikirin alasan kenapa dia gitu. Padahal sebelumnya hubungan kami baik. Malah menurut gua jd makin akrab. Lah tiba - tiba.." Sita kembali membenamkan wajahnya dan mengerang.
Mendengar perkataan Sita yg memang benar, Linda mulai berpikir. Sembari mengunyah pir, Linda menoleh dan bergumam.
"Teringatnya, dia mulai berubah setelah lu sakit kan? Nah, kembalinya dari kosan lu kan dia bete tuh. Apa mungkin dia sebenarnya nyampe terus dia ngeliat sesuatu? Lu ngapain pas dia dateng?" Tanya Linda semangat. Merasa tertarik dengan teka - teki yg terjadi.
Bingung, Sita mengangkat wajahnya dan menatap Linda kesal.
"Ngapain apa gua? Tau aja kagak kapan dia datang. Emang gua bakal ngapain juga sampe bikin dia bete gitu? "
"Ngomongin dia mungkin? Atau lu ga sengaja ngigau maki - maki dia. Dia dateng pas jam makan siang lho." Jelas Linda mencoba membuat Sita mengingat apa yg sebenarnya telah terjadi.
Sita terdiam, mencoba memproses ingatannya akan hari itu. Hari dimana ia terbaring tak berdaya di kasur. Ia hanya ingat dirinya berusaha membuka pintu untuk Gisel dan mendengar celotehan Gisel. Lalu yg ia lakukan hanya tidur hingga Hendra datang membawa bubur dan obat. Selebihnya ia tidak ingat apa yg terjadi, karena ia terbangun keesokan hari dan menemukan Gisel tengah menyiapkan sarapannya.
Setelah menceritakan hal itu, Sita kembali diam dan mencoba mengingat hal apa yg mungkin ia lakukan? Apa dia tidak sengaja memaki dan mengigau saat Mahesa datang? Atau mungkin saat Mahesa datang ia malah tertidur nyenyak dan sulit di bangunkan? Dia benar - benar tidak ingat.
"Hmm, kalo kaya gini gua juga bingung kenapa Sit. Mungkin memang uda takdir lu kali ya? Yang sabar ya Sit." Menyerah, Linda hanya menepuk bahu Sita memberikan semangat.
Menyebabkan Sita menatapnya dengan kesal.
"Ga guna lu."
****
"Laporan ini butuh tanda tangan pak Mahesa. Setelah kamu selesaikan, langsung minta tanda tangan beliau." Ujar pak Ayub setelah memberikan tumpukan laporan harian pada Sita.
Wanita itu mengangguk dan mengambil semua laporan itu.
"Tapi, pak Mahesa hari ini ada meeting di luar. Mungkin besok saya baru bisa minta tanda tangannya pak." Ujar Sita kemudian.
Pak Ayub mengangguk.
"Iya besok saya tunggu siang."
"Baik pak." Ujar Sita sebelum melangkah keluar ruangan.
Ia lalu menoleh ke kanan saat melewati ruangan Mahesa yang tertutup dengan sekat. Kembali memikirkan kenapa sikap atasan nya jadi seperti itu.
***
Terburu - buru Sita berlari menuju ruangan Mahesa dikarenakan jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan ia belum mendapatkan tanda tangan beliau. Sesuai perjanjian, ia seharusnya mengumpulkan laporan itu siang. Dan jika tidak buru - buru, bisa saja ia telat.
Sita mengetuk berulang kali pintu ruangan itu dan mendorong daun pintu. Namun, ruangan itu terkunci. Tidak biasanya Mahesa mengunci ruangan. Apa Anna sedang mampir? Tapi, sejak pagi tadi Sita tidak melihat sosok Anna lewat atau berlalu di kantor mereka.
"Nyari pak Mahesa, Sit?" Tanya seseorang yg mengejutkan Sita.
Sita menoleh dan melihat Edwan, bawahan Mahesa berdiri tidak jauh dari nya. Wanita itu mengangguk.
"Iya Ed. Ada mba Anna ya?"
Edward menggeleng dan tersenyum.
"Pak Mahesa ga datang. Dia ijin hari ini." Ujar Edwan sebelum pergi meninggalkan Sita yg tidak sempat bertanya kenapa?
Jika pria itu tidak hadir, itu artinya ia tidak bisa meminta tanda tangan dan itu berarti ia akan kena marah pak Ayub. Oh, Tuhan.
****
Meski terkena sedikit ocehan pak Ayub. Ia masih diberikan waktu hingga jam 3 untuk meminta tanda tangan langsung ke Mahesa. Tapi, masalahnya ia sama sekali tidak tahu dimana pria itu berada.
Untuk pertama kali sejak ia bekerja di perusahaan itu, ia terpaksa menghubungi atasannya Mahesa. Bahkan saat ia terpaksa menunggu Mahesa di hari mereka acara sosial, ia tidak menghubungi Mahesa.
Dengan sedikit malas, Sita mencari nomer Mahesa dan menghubunginya. Lama terdengar suara dering yg tak kunjung terjawab hingga akhirnya suara berat Mahesa berbicara.
'Halo? Ini siapa?'
"Ah, pak. Ini saya Sita. Marsita."
Hening sesaat sebelum Mahesa menjawab.
'Ada apa?'
"Saya mau minta tanda tangan pak. Mohon maaf menganggu, tapi sekarang bapak dimana ya? Saya butuh tanda tangan bapak untuk--"
'Apartemen. Kemari saja.' Potong Mahesa cepat.
"Baik.. pak." Bahkan sebelum Sita selesai mengatakannya, Mahesa sudah lebih dulu mematikan telepon.
"Ampun deh. Sinis amat." Gumam Sita kesal dan menyimpan ponsel nya.
Ia melirik jam di pergelangan tangan dan menghela nafas. Waktunya tidak banyak untuk mendapatkan tanda tangan. Itu berarti dia harus segera berangkat.
Sita menggunakan jasa transportasi online untuk pergi menuju tempat tinggal Mahesa. Meski sudah pernah ke tempat ini sebelumnya, tetap saja ia masih merasa asing karena belum terbiasa. Melihat kawasan elite yg baru ia sadari membuatnya sedikit heran. Mahesa hanyalah seorang atasan yang mungkin memiliki gaji 2 digit di depan 6 angka 0. Tapi, bagaimana bisa ia tinggal di apartemen senilai maybe beberapa miliar? Apa sebenarnya dia anak orang kaya? Tapi, mengingat Mahesa lulusan luar, sepertinya bukan tidak mungkin dia memiliki pekerjaan yg lain.
Ting tong
Sita menekan bel apart. Mahesa berulang kali. Mencoba memberitahu bahwa dirinya sudah tiba di tempat. Tapi, beberapa menit terlewatkan tanpa jawaban. Apa pria itu sedang melakukan hal - hal tidak senonoh? Well, mengingat apa yg sudah dilakukan Mahesa dan Anna dikantor, membuat Sita bergidik geli.
"Masih siang, malah ena - ena. Pantesan ga masuk kerja. Ngejar target apa gimana?" Oceh Sita yg tidak suka menunggu begitu lama.
Ia menekan beberapa kali bel itu lagi dan memutuskan menelpon Mahesa. Rasanya ingin ia menendang pintu apart. Mahesa dengan keras tapi mengingat siapa pria itu membuatnya menahan diri.
Tidak ada jawaban.
"Gila sih. Ini orang ngapain deh? Woy gua butuh tanda tangan lu!!" Geram Sita sambil terus menekan tombol bulet yg ada di samping pintu Mahesa.
Amarah membuatnya menekan bel tanpa ampun hingga akhirnya bunyi 'klik' terdengar dan warna merah di gagang pintu berubah hijau. Baru saat itu Sita terdiam dan menunggu hingga perlahan daun pintu terbuka.
"Kau berisik. Tidak bisakah kau menunggu?" Terdengar suara berat Mahesa sebelum Sita mengerutkan kening dan terlihat bingung dengan keadaan Mahesa.
"Pak?" Suara Sita berubah khawatir saat melihat tampilan Mahesa yg benar - benar kacau.
Pria itu terlihat pucat dan batuk berulang kali sebelum meninggalkan Sita dengan pintu terbuka. Mahesa berjalan masuk dan duduk di meja makan, menunggu Sita menyerahkan laporan yg harus ia tanda tangani.
"Cepatlah, aku ingin tidur. Huk huk.." perintah Mahesa lemah.
Sita patuh dan berjalan cepat masuk ke apart. Mahesa. Ia mengeluarkan lembaran laporan dan meletakkannya di depan Mahesa.
"Kau sudah membacanya kan? Tidak ada yg mencurigakan?" Tanya Mahesa.
Sita mengangguk. Tidak bisa melepaskan tatapannya dari Mahesa yg terlihat begitu sakit. Berikutnya, Mahesa mengambil pulpen yg diberikan Sita dan menanda tangani surat itu dengan cepat. Setelahnya ia kembali menyodorkan lembaran surat itu ke Sita.
"Apa ada lagi yg harus aku tanda tangani?"
Dengan cepat Sita menggeleng.
"Tidak pak. Sudah semua."
"Kalau begitu kau bisa pergi. Jangan lupa menutup pintu." Ujar Mahesa mencoba bangkit dari kursi.
Masih khawatir dengan Mahesa, Sita tetap diam di tempat.
"Hmm, bapak baik - baik aja?"
Mendengar pertanyaan itu, Mahesa menoleh menatap Sita dengan mata sayu yg seakan tidak sanggup untuk tidak memejam.
Sesaat Mahesa diam, namun berikutnya ia mengalihkan tatapan dan kembali berjalan.
"Aku baik - baik saja. Hanya butuh istirahat. Kau pergilah."
Sedikit merasa ragu, Sita akhirnya menyerah. Wanita itu mengangguk dan berbalik ke arah pintu keluar. Well, sepertinya Mahesa bisa mengurus dirinya. Untuk apa dia khawatir?
Baru saja kakinya melangkah beberapa kali, sebuah suara dentuman membuatnya berhenti. Sita dengan segera menoleh dan melihat Mahesa yg sudah pingsan tak sadarkan diri.
Tanpa banyak bicara, ia langsung berlari mendekati Mahesa.
"Pak? Bapak? Astaga. Badanmu panas sekali. Pak!"
***
"Iya ma, uda adek kompres. Terus ini mau bikin bubur, bahannya cuma ada.. bentar ma. Wortel, brokoli, telur eh iya gausa telur, jamur ma? Bisa? Udang ga ada. Adanya ayam. Oh, iyaiya ma. Bentar ya." Ujar Sita sembari menelpon mama nya.
Wanita itu sibuk membongkar isi dapur Mahesa dan mendengarkan instruksi dari mamanya via telepon. Setelah menemukan Mahesa pingsan karena panas tinggi, ia tidak bisa membiarkan pria itu sendiri. Terpaksa ia harus setidaknya meyakinkan diri bahwa pria itu telah menelan sedikit makanan dan obat penurun panas.
Selesai mendengarkan arahan dari mama, Sita mulai menyiapkan makanan untuk Mahesa. Menunggu bubur masak, ia mengelilingi apart. Mahesa untuk mencari kotak obat yg berada di dekat pintu kamar mandi.
"Paracetamol, hmm ini bisa nurunin demam sekaligus untuk batuk. Nah, yg ini komplit nih." Gumam Sita memilih beberapa jenis obat yg ia temukan.
Setelah itu ia kembali berjalan menuju kamar yg ia yakini sebagai kamar Mahesa. Dilihat dari ukuran dan juga aroma yg menyebar di ruangan itu. Sangat khas Mahesa. Dan disana, diatas tempat tidur king size nya, Mahesa tertidur. Terlihat gelisah dengan peluh yg membanjiri wajah hingga leher.
Dengan pelan Sita mengambil handuk kecil di kening Mahesa dan kembali mencelupkannya ke baskom berisi es dan air dingin. Hanya butuh beberapa menit sebelum Sita harus kembali mengganti kembali handuk itu. Diakibatkan suhu tubuh Mahesa yg tinggi.
Melihat peluh yg sudah membanjiri, Sita berjalan menuju kamar mandi di kamar Mahesa. Ia mengambil handuk kering lain untuk mengeringkan tubuh Mahesa.
"Eungh..." erang Mahesa saat Sita dengan perlahan mengelap leher dan wajahnya.
"Maaf pak. Tapi, daripada masuk angin kan ya.. maaf ya.." ujar Sita merasa sedikit canggung saat membuka kancing piyama Mahesa.
"Hmm, pak. Maaf, tapi bangun bentar ya? Ganti bajunya. Basah nih pak. Sekalian makan." Ujar Sita pelan mencoba mengangkat tubuh Mahesa yg hanya mengerang dan bergumam tidak jelas.
"Pak.. Ooo pak. Ayoooo dong!" Erang Sita menarik tubuh Mahesa hingga duduk.
Namun, karena kondisi Mahesa yg benar - benar lemah. Tubuhnya terhuyung dan menubruk tubuh Sita.
Wanita itu terkesiap, namun tetap diam. Menahan berat tubuh Mahesa yg bertumpu pada tubuhnya sekarang. Beruntung ia tidak terhuyung juga hingga terbaring. Namun, panas tubuh Mahesa bisa ia rasakan di tubuhnya sendiri.
Nafas Mahesa yg panas terasa menggelitik leher dan pundaknya. Dan saat pria itu menyerukkan wajah di lehernya, Sita harus menahan rasa geli yg ia rasakan.
"Aduh, pak. Bentar.. Eugh, nah. Diem bentar. Eh eh eh! Waduh." Sitah mendorong perlahan tubuh Mahesa dan saat tubuh Mahesa hampir terhuyung ke belakang, Sita buru - buru menahannya dan menarik kembali tubuh itu hingga kembali jatuh ke arahnya.
Merasakan tubuhnya terhuyung - huyung, Mahesa hanya bisa mengerang tanpa sanggup melakukan apapun. Kepalanya terasa seakan ditimpa berton - ton semen. Dan tubuhnya begitu lemah. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yg dilakukan Sita yg kini tengah berusaha mematahkan tangannya saat melepaskan piyama yg ia kenakan.
"It... hurts..." gumam Mahesa hampir tidak terdengar.
"Eh? Oh ah! Maaf pak, aduh makanya bapak tegak dulu.. nah kan! Duh maafin maafin!" Seru Sita saat hampir benar - benar melukai orang sakit.
Setelah pergumulan itu berakhir, saatnya ia memberikan bubur buatannya. Menghidangkannya di mangkuk dengan air putih dan obat, Sita kembali duduk di pinggiran kasur.
"Pak, ini makan dulu. Baru minum obat. Terus bapak bisa tidur lagi." Ujar Sita.
Namun, Mahesa hanya bergumam dan melanjutkan tidurnya.
"Lah? Pak, ayo bangun dulu. Pak! Makan dulu ini, ayo!" Paksa Sita yg membangunkan Mahesa secara paksa.
Tidak bisa melawan, Mahesa hanya menurut dan memaksakan diri untuk menelan bubur dan obat. Dalam hati ia ingin mengumpat, namun ia sama sekali tidak memiliki kekuatan.
Setelah akhirnya ia berhasil menelan obat, barulah Sita berhenti menganggu dan membiarkan Mahesa untuk tidur.
"Nah, kan sekarang udah tenang." Gumam Sita lega.
Melihat Mahesa yg sudah tertidur dengan lebih nyaman berkat obat dan juga kompresan, membuat dirinya ikut tenang. Sekarang, meninggalkan Mahesa membuatnya sedikit tidak merasa bersalah. Dan harusnya Anna ada disini, tapi dimana wanita itu? Apa Mahesa tidak mengatakan pada siapapun mengenai keadaannya sekarang?
"Wah, gini nih. Kalo mati aja ga ada yg tau gimana?"
Sita menggelengkan kepala tidak percaya sembari menatap wajah pulas Mahesa. Ia lalu mengambil inisiatif dengan menghubungi Anna menggunakan ponsel Mahesa. Setidaknya, memberikan kabar pada kekasihnya bukanlah kesalahan.
'Anna, aku sakit.'
Ketik Sita singkat dan menunggu balasan. Tidak lama pesan balasan masuk dan Sita segera melihatnya. Namun, pesan itu membuat Sita terdiam dan membeku.
'Just call a doctor. Sorry, i'm kindda busy right now. Call ya later.'
Entah kenapa, Sita merasa d**a nya sedikit sakit. Padahal itu bukan dirinya yg menerima pesan. Dia hanya menjadi Mahesa. Namun, rasa sakit itu membuatnya benar - benar tidak bisa berkata - kata.
Lalu ia menoleh ke arah Mahesa dan menatap simpati pria itu. Pasti berat memiliki kekasih cuek seperti itu ya? Kau pria yg tegar, pak. Cetusnya dalam hati.
Sekarang dilema menghampiri Sita. Haruskah ia tinggal atau pergi saja? Tapi, jika ia tinggal maka ia mungkin akan dimarahi dan terkena sanksi. Tapi, jika meninggalkan Mahesa, ia benar - benar tidak tega. Lalu apa yg harus ia lakukan?
"Oh, Tuhan. Apa yg harus kulakukan?"
To Be Continued