M&M : Part 12

1739 Kata
Sehari setelah terkena demam tinggi, tubuh Sita sudah merasa jauh lebih baik. Apalagi setelah mendapat perawatan dari Gisel dan Hendra. Dirinya sudah kembali bisa membereskan kamar dan beraktifitas meski batuk dan pilek masih menjangkiti. Setelah di paksa oleh Gisel, Sita akhirnya mengambil cuti sehari untuk benar - benar beristirahat. Dan yg dilakukannya adalah membersihkan kamarnya yg terlihat sangat berantakan. "Woy! Lu ngapain? Masih sakit juga." Suara itu membuat Sita untuk sesaat berhenti menyapu dan menoleh. Wajahnya berubah kesal saat melihat sosok Hendra berdiri dengan dua bungkus plastik yg berisi makanan. Senyuman dan cengiran Hendra hanya dibalas dengan tatapan kesal Sita yg melanjutkan tugasnya. "Jutek amat si lu?! Masa gitu sikap lu sama orang yg telah berjasa merawat dan menjaga lu saat sakit?" "Bodo amat." Hendra pura - pura terlihat sakit hati dan berjalan mendekati Sita yg hampir memaki saat Hendra menginjak lantai yg baru ia sapu dengan sepatu kerjanya. Dan memang benar, saat ini adalah saat jam istirahat kantor. Dimana Hendra memutuskan mengunjungi Sita dan menjenguk wanita itu. "Baru gua sapu itu, k*****t lu. Minggir deh ah! Lepas dulu napa itu sepatu! Kotor! Hendra!" Teriak Sita frustasi ketika Hendra sama sekali tidak mendengar perkataannya. Pria itu senang melihat amarah Sita dan bahagia ketika berhasil menganggunya. Itu adalah hal favorit Hendra sejak pertama kali mereka berkenalan. Melihat ekspresi marah, kesal dan bete Sita merupakan hal yg lucu dan ia sukai. Tapi, entah mengapa meski begitu ia tetap tidak bisa menyukai gadis itu. Begitulah yg ia rasakan. Hendra menarik sapu dari tangan Sita dan membuat wanita itu semakin emosi. Namun, sebelum Sita meluapkan emosinya dengan menghajar Hendra, pria itu lebih dulu menarik tangan Sita dan mengajaknya masuk. "Udah, lu makan aja dulu. Terus minum obat, baru lu istirahat lagi. Mau lanjut juga gapapa. Sekalian kosan gua lu beresin." Cerocos Hendra sesuka hati meletakkan bungkusan makanan dan duduk di kasur yg baru dirapikan Sita. "Muka lu gua tonjok nih, bangun! Duduk di lantai! Seenak jidat! Eh kutil minggir lu!" Sita menarik tangan Hendra dan menyeret pria itu ke lantai kamarnya. "Jahat banget lu yee, yauda sini duduk makan nih. Gua beliin lu soto ayam dan banana nugget rasa campur - campur." Bungkusan demi bungkusan dibuka Hendra lalu makanan yg telah ia beli di letakkan dengan rapi di lantai. Siapa yg tidak tergoda saat melihat deretan makanan yg menggiurkan? Sudah pasti Sita akhirnya menyerah dan memutuskan duduk di hadapan Hendra sambil membuka satu persatu bungkusan makanan. "Gimana kabar si entong?" Sambil mengunyah kentang goreng yg dibelinya Hendra bertanya. Pria itu menyenderkan tubuhnya di kasur berkaki rendah milik Sita. Kedua kakinya berselonjor nyaman dengan bungkusan makanan yg sudah habis di pangkuannya. Menoleh berulang kali ke arah Sita yg sibuk mengunyah dan memasukkan apapun yg ia lihat ke dalam mulutnya. Dengan tendangan ringan Hendra, Sita akhirnya menoleh. "Entong yg mana?" "Emang ada berapa entong yg lu kenal?" Tanya Hendra bingung. "Kagak ada." Jawab Sita santai dan kembali mengunyah siomay miliknya. "Heh, sapi! Serius gua!" Sekali lg Hendra menendang paha Sita yg terpaku dengan siomaynya. "Bentar k*****t, gua lg makan. Ga punya mata lu? Sabar." "Ya tinggal jawab aja, itu mulut jgn ngunyah mulu!" "Suka - suka gua. Ga sabar, pergi lu sana." Mengalah, Hendra menunggu hingga akhirnya Sita selesai menyuapkan sendok terakhir siomay nya. Butuh waktu 15 menit untuk Sita selesai mengunyah, membereskan sisa makanan, minum dan kembali duduk. Menyebabkan Hendra mengunyah dengan kesal snack yg ia makan. "Nanya apa tadi lu? Oh kabar si itu?" Tanya Sita mengulangi pertanyaan Hedra yg mengangguk cepat. Sejenak Sita diam dan berpikir sebelum menjawab. "Baik - baik aja setau gua. Cuma dia jadi lebih friendly sekarang sama gua. Ga sejahat dulu lagi." "Oh ya? Serius lu? Kok bisa?" "Ya bisalah." Akhirnya, Sita menceritakan bagaimana awal mula hubungannya dan Mahesa menjadi lebih baik. Lengkap dengan dirinya yg tidak sengaja tertidur di apartemen pria itu. "Wah, gua curiga nih." Gumam Hendra setelah Sita menyelesaikan ceritanya. Kening Sita mengerut bingung. "Curiga apaan lu?" Hendra lalu diam. Lanjut mengunyah snack yg ia makan dan mengabaikan Sita yg kemudian mencubit paha Hendra tanpa ampun. **** Sita berjalan masuk ke perusahaan tempatnya bekerja dan menyapa beberapa karyawan yg sudah ia kenal dan juga security yg tengah berjaga. Ia melirik jam tangannya yg masih menunjukkan pukul 8. Artinya ia belum terlambat untuk menyiapkan laporan untuk Mahesa. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan pria itu akan menceramahinya lagi. Kaki Sita melangkah lebih cepat saat melihat pintu lift sudah terbuka dan orang - orang sudah lebih dulu masuk. Mengambil peluang yg meski kecil, Sita berlari dan menyusup masuk. Dengan tubuhnya yg lumayan besar, Sita sudah hampir menjatuhkan orang lain saat memaksakan tubuhnya masuk. Beruntung lift belum berbunyi dan ia berhasil naik. "Maksa banget sih lu, ndut." Suara bisikan itu membuat Sita menoleh dan menemukan Linda berdiri di belakangnya. Hampir saja Sita berteriak namun ia lgsg menahannya hingga mereka tiba di lantai mereka. "Linda! Kangen gua!" Teriak Sita memeluk Linda yg hanya melengos malas. "Lebay lu, kaya ga jumpa gua bertahun - tahun aja. Baru juga 2 hari." "Yeee, tapi gua berterima kasih banget lu uda mau memback up kerjaan gua. Sayang Linda!" Sita memeluk tubuh Linda yg hanya pasrah dan mengangguk. "Yauda buruan gih siapin laporan. Ntar lu kena marah lagi sama bapak atasan." Sita mengangguk dan berjalan menuju meja kerjanya sebelum tiba - tiba Linda bersuara. "Eh Sit. Tapi gua mau bilang sesuatu." "Apaan?" "Lu ngapain sama pak Mahesa 2 hari lalu? Kok pulang dari kosan lu dia lgsg bete?" Ujar Linda yg membuat kedua alis Sita naik. "Hah? Pulang dr kosan gua? Kapan dia ke kosan gua?!" Tanya Sita bingung dan begitu juga Linda yg menatapnya heran. "Lah? Kalian ga jumpa? Eh apa gua salah kasi alamat lu? Lu masih di kosan yg deket Tower apa itu kan?" Sita mengangguk masih terlihat bingung. "Iya masih. Gua belum ada pikiran untuk pindah. Gua uda terlanjur sayang--" "Bacot Sit. Intinya, iya dia ke kosan lu pas lu ijin sakit itu. Dia minta alamat lu soalnya. Lah masa kalian ga jumpa? Terus dia kemana dong? Masa bolos?" Lama kelamaan Linda seperti berbicara pada dirinya sendiri yg membuat Sita semakin bingung. "Mungkin dia tersesat kali ya? Kan kosan gua lu tau harus melewati rintangan gang yg berliku - liku. Kesel kali dia karena ga nemu terus jadi bete balik - balik." Jelas Sita mencoba menebak penyebab rasa bete Mahesa. Mendengar itu Linda ikut mengiyakan dab berpikir sama. "Tapi, baik banget ya? Gua dijengukin sama bos. Ah, gua harus bilang terima kasih nih. Merasa terharu gua." "Yauda buru sana makanya." **** Dengan berkas laporan yg sudah ia siapkan, Sita berjalan menuju ruangan Mahesa dengan percaya diri. Ia sudah merangkai kata - kata terima kasih di kepalanya. Rasa terharu membuatnya tidak berhenti tersenyum hingga saat mengetuk pintu ruangan Mahesa. "Permisi pak." Sapa Sita dengan suara yg terdengar ceria. Wanita itu melangkah masuk dan menemukan Mahesa tengah mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. Pria itu terlihat serius. Sama sekali tidak menoleh atau sekedar melihat siapa gerangan sosok yg masuk ke ruangannya. Seketika senyuman riang Sita hilang berganti dengan senyum tipis yg hampir sirna. Aura yg dipancarkan Mahesa saat itu terasa tidak bersahabat. Pria itu seperti sedang tidak ingin di ganggu. "Hmm, pak. Ini laporan untuk hari ini" "Letakkan saja. Kau bisa pergi." Ujar Mahesa cepat dan dingin. Sita hanya mengangguk dan buru - buru pergi keluar ruangan. Wajahnya terlihat bingung, takut dan penasaran. Ada apa? Kenapa Mahesa bersikap seperti awal dan malah kali ini lebih mengerikan? "Kenapa lu? Muka lu serem banget." Ujar Linda. Sita mengangkat wajahnya yg sedari tadi menekuk dan menatap Linda dengan kening mengerut. "Kayanya ada sesuatu yg terjadi." **** "Apa doi lg berantem sama neng Anna ya? Tapi kenapa jd imbasnya ke kita?" Ujar Sita menerka - nerka hal yg menjadi penyebab Mahesa bete. Dari kemungkinan pria itu mengalami hari yg sial seperti mobilnya ditabrak orang, kompornya meledak, apartemennya terbakar, kehilangan barang sampai diputusi pacar. Sita dan Linda sama - sama bingung dengan perubahan sikap Mahesa yg mendadak menjadi dingin kembali. Apa dia sedang di landa masah besar? Pernikahannya batal? Ia mengalami kerugian? Atau jangan - jangan dia dipecat? Tapi, itu tidak mungkin. Karena jika iya, dia tidak mungkin masih berada disana. "Terus apa dong? Masa iya dia pms? Kan dia pria." "Ya makanya itu, gua jg bingung kenapa. Kan gua nanya td apa yg terjadi disana? Soalnya balik dari kosan lu, dia mulai begitu." Jelas Linda. Tapi, tidak ke semua orang pria itu bersikap dingin. Hanya pada Sita dan hal yg berhubungan dengan Sita. Semua itu membuat mood pria itu memburuk dan sudah pasti ada yg terjadi. "Aduuuuuh! Kayanya beneran deh! Dia kesal sama gua karena gang jalan ke kosan gua ribet amat kaya labirin. Kayanya dia tersesat terus malah ketemu anjing dan terus dikejer sampe akhirnya dia digigit. Aduuh gimana kalo dia ga sengaja kepleset masuk ke selokan? Kan jalan kekosan gua licin paraah! Aduh gua jd takut." Oceh Sita frustasi. "Tenang. Tenang. Mending lu sekarang minta maaf deh." Saran Linda. Sejenak Sita diam dan berpikir. Jika memang benar ini salah nya dan kemungkinan itu terjadi, ia harus meminta maaf karena sudah merepotkan. Lalu ia putuskan untuk menemui Mahesa kembali. Wanita itu berjalan pelan menuju ruangan Mahesa. Mengumpulkan keberanian untuk berbicara dan mengatakan permohonan maafnya. "Permisi pak." Ujar Sita setelah mengetuk pintu. Sita berjalan ke depan meja kerja Mahesa dan berdiri dengan wajah menunduk dan kedua tangan terjalin di depan perutnya. "Pak, saya mau bicara." Gumam Sita pelan namun tidak ada jawaban dari Mahesa yg masih sibuk melihat dan mengerjakan tugasnya. Hati Sita sedikit berdegup karena takut dan kesal, tapi ia berusaha untuk sabar. Sekali lagi ia mencoba berbicara hingga akhirnya Mahesa merespon. "Katakan saja. Saya sibuk. Jadi cepat." Ujar Mahesa. Sita mengangguk. "Hmm, saya dengar bapak kemarin datang menjenguk saya?" Mendengar itu Mahesa tiba - tiba berhenti mengerjakan apa yg ia kerjakan dan menaikan sebelah alisnya. "Maaf ya pak." Lanjut Sita yg membuat Mahesa akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Sita. "Saya mau minta maaf karena bapak sudah repot - repot datang da--" Perkataan Sita terputus saat Mahesa dengan dingin memotong. "Jangan besar kepala, saya datang bukan untuk menjenguk. Tapi untuk mengingatkan mu, bahwa kau tidak bisa seenaknya meninggalkan tanggungjawabmu." Suara Mahesa terdengar berbeda. Terdengar lebih penuh emosi dan rasa kesal. Yang membuat Sita merasa sakit saat mendengar jawaban itu. Seakan tertohok batang kayu yg tajam tepat di jantungnya. Tidak menjawab dan hanya diam, Sita lalu kembali mendengar kata - kata Mahesa. "Jika kau sudah selesai. Kau bisa keluar. Kerjakan tugasmu dan belajarlah bertanggung jawab." To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN