M&M : Part 11

1487 Kata
"Sita, Sit!" Ketukan di pintu kamarnya membuat Sita membuka mata dengan terpaksa. "Hmm?" Gumaman Sita terdengar menyedihkan dan ia harus membersihkan tenggorokan sekali sebelum mengeluarkan suara seraknya. "Ada apa Sel?" "Sit? Kamu sakit? Lu ga balas line aku! Kamu kenapa?" Suara Gisel terdengar khawatir dan Sita tahu wanita itu pasti menyadari keadaannya saat ini. Sudah dua hari berlalu sejak acara kantor yg menghabiskan seluruh energinya. Dan hari ini merupakan batas tubuhnya menahan rasa lelah itu. Demam tinggi yang menguasainya, ditambah radang dan flu membuat Sita benar - benar KO. Ia bahkan sudah mematikan AC kamarnya tetapi rasa dingin tetap menguasai. Kaos kaki dan jaket ditambah selimut baru bisa menghangatkannya walau hanya sementara. Mencoba untuk membuka pintu kamarnya, Sita merangkak turun dan berusaha memutarkan kunci kamarnya. Ia lalu merangkak kembali ke kasurnya sementara Gisel, temannya terpekik kaget begitu membuka pintu kamarnya. "YaAllah sit, kamu gapapa? Eh pasti kenapa napa ya, aduh ini kamar berantakan banget." Ocehan Gisel sama sekalu tidak dihiraukan Sita. Ia sibuk menahan batuk yg tak kunjung berhenti dan rasa panas yg hampir membuatnya gila. Kepalanya terasa akan pecah dan ia mencoba menahannya dengan mengeraskan rahangnya. Perlahan ia merasakan sesuatu yg dingin menyentuh keningnya dan membuatnya mengeliat. "Astaghfirullah, Sit! Kamu panas banget! Eh udah minum obat? Udah makan?" Seru Gisel panik. Wanita itu menoleh ke kanan kiri dan tidak menemukan bekas makanan atau obat apapun disana. Yang menandakan bahwa teman nya ini belum memasukkan apapun ke lambungnya. "Ya ampun kamu. Tunggu aku beliin bubur sama obat dulu ya." Ujar Gisel khawatir dan meninggalkan Sita untuk membeli apa yg ia katakan. Tidak bisa berkata, Sita hanya diam. Kembali menggigil dan pusing. Berulang kali ia terbatuk hingga rasanya ia ingin mencabut tenggorokannya yg terasa gatal. Jatuh sakit benar - benar menyiksanya. Sita tidak tau berapa lama terlewatkan saat seseorang kembali masuk ke kamarnya. Ia tidak bisa melihat karena ia membelakangi pintu dan hanya mengetahui dari suara pintu yg terbuka. "Makasi Sel." Gumam Sita pelan, mencoba memberi tanda bahwa ia masih hidup. Gisel tidak menjawab. Sesaat Sita mengerjap silau saat lampu dihidupkan. Ia hanya mendengar suara piring yg diambil dan plastik yg sedang dibuka. Tidak ada suara berisik Gisel terdengar. Mungkin wanita itu sedang berkonsentrasi menyiapkan makanannya. Lalu Sita hanya diam, menunggu makanannya disiapkan. Saat Gisel berjalan mendekat dan tangannya menyentuh kening Sita, saat itulah Sita menyadari bahwa itu bukan Gisel. Aroma dan tangan itu bukan milik Gisel. Tapi itu milik seseorang yg lain. "Gila lu ya, badan lu panas banget! Buru bangun, makan dulu!" Suara itu mengejutkan Sita. Namun, ia sama sekali tidak ada tenaga untuk memarahi pemilik suara itu. Sehingga yg bisa ia lakukan hanya menuruti perintah Hendra yg membantunya untuk duduk. Wajah Sita memasang mimik kesal saat melihat wajah Hendra. "Apa lu marah - marah? Jangan banyak tingkah, makan dulu terus minum obat!" Hendra meletakkan semangkuk bubur ayam di pangkuan wanita itu dan berbalik ke arah meja untuk mengambil air yg telah ia siapkan. Melihat bubur ayam itu Sita sama sekali tidak selera. Padahal biasanya ia bisa menghabiskannya dalam waktu 5 menit. Namun kali ini ia merasa ingin muntah. "Gak bakal habis itu bubur diliatin doang. Makan buru selagi anget." Perintah Hendra yg membuat rasa sakit kepala Sita bertambah parah. "Berisik lu monyet. Ini gua lagi beru--" suara serak itu terpotong oleh batuk yg membuatnya semakin tersiksa. "Aduh aduh, makanya jangan marah - marah. Ini minum dulu, minum." Hendra menyodorkan segelas air putih dan membantu Sita untuk meneguknya sembari menepuk pelan punggung wanita itu. Setelah itu Sita tidak banyak bicara dan hanya diam mengikuti celotehan Hendra. Ia memaksa beberapa suap bubur masuk ke dalam mulutnya yg terasa hambar sebelum akhirnya menelan obat pemberian Hendra. "Udah, sekarang lu tidur lagi. Gua kompres dulu. Nih, gua beli bye bye fever. Gatau deh ngaruh apa engga. Kan badan lu kaya badak jadi mungkin ga berasa apa - apa." Ujar Hendra yg menerima tendangan lemah Sita. Pria itu membuka satu sachet perekat penurun panas dan menempelkannya di kening Sita. Merasa nyaman akan rasa dingin yg ia dapatkan membuat Sita mengerang pelan dan menutup mata. Perlahan rasa kantuk mulai menghampiri bersamaan dengan elusan lembut di kepalanya. Tidak lama akhirnya dia benar - benar terlelap. *** Mahesa berulang kali melihat jam di tangannya dan jam di meja kerjanya. Sama sama menunjukkan pukul 10.00 dan ia belum juga melihat sosok yg biasanya sudah mengantarkan laporan terbaru ke mejanya. Hal itu membuatnya penasaran. Kemana perginya wanita bertubuh gempal itu? Sekali lagi, Mahesa berjalan keluar ruangannya untuk mengecek kehadiran Sita. Namun gerak geriknya terlihat seakan ia hendak melakukan hal lain. Kakinya mulai melangkah mendekati meja kerja Sita dan mengintip apakah wanita itu sudah berada disana atau belum? Dan jawabannya adalah BELUM. Mengetahui fakta itu Mahesa tidak menyadari ekspresi kecewa yg ia perlihatkan. Ia terlihat memandangi meja kosong itu dan sialnya, seseorang menyadari hal itu. "Bapak nyari Sita?" Suara itu membuatnya terperanjat dan hampir menabrak tempat sampah di depannya. Mahesa menahan makian di bibirnya dan berbalik untuk mendapati Linda sedang berdiri disana dengan setumpuk laporan di lengannya. Wanita itu menatapnya datar, namun Mahesa tau ada rasa penasaran tersembunyi di baliknya. Jadi yg dilakukan pria itu adalah berdeham sebelum mengangguk. "Ya, dimana dia? Saya sudah menunggu laporan hari ini. Tapi--" "Oh! Ini pak, laporan buat hari ini. Sita sudah menitipkan nya ke saya." Potong Linda dan menyerahkan laporan harian yg seharusnya diberikan Sita pada Mahesa. Pria itu terdiam, dan menatap bingung laporan yg diberikan Linda sebelum menatap wanita yg kini tersenyum padanya. "Hmm, Why.. Kenapa kamu yang--" "Sita sakit, pak. Dia gabisa datang, tapi dia yg ngirim laporan ini. Saya cuma ngeprint." Potong Linda sekali lagi sebelum Mahesa sempat menyelesaikan perkataannya. Mendengar jawaban itu Mahesa sedikit kaget. Jadi, wanita itu sakit? Apa dia kelelahan? Bagaimana keadaannya? "Dimana dia sekarang?" "Di kosannya pak." **** Setelah mendapatkan alamat lengkap Sita, Mahesa segera pergi menuju tempat wanita itu berada. Entah apa yg merasukinya, ia sendiri tidak mengerti. Tapi, rasa khawatir itu datang begitu saja. Tanpa ia sadari, ia mulai khawatir dan peduli pada wanita yg sudah mempermalukan dirinya. Seorang wanita yg seharusnya sangat dibenci olehnya. Kini berubah menjadi seseorang yg ia pedulikan. Saat mendengar keadaan Sita, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Ia bergerak menuju tempat wanita itu. Seolah menolak untuk mengakui dirinya khawatir, ia merasa bahwa ini semua karena sebagai seorang atasan yg baik, dia peduli terhadap karyawannya. Mengetahui latar belakang Sita, wanita itu tinggal jauh dari keluarganya. Dan itu berarti ia tidak memiliki seorang pun yg bisa merawatnya. Bagaimana jika tidak ada yg tau bahwa dia kemungkinan pingsan? Atau penyakitnya makin parah? Linda sendiri mengatakan bahwa Sita memang tidak memiliki siapa - siapa di Jakarta dan keluarganya tinggal jauh di Sumatera. Mahesa menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik. Ia lalu turun dan memesan beberapa obat untuk Sita. "Obat untuk kelelahan? Apa yg mungkin terjadi saat lelah? Demam? Flu? Berikan obat yg memungkinkan, apapun itu." Ia berakhir dengan membeli beberapa obat yg mungkin di butuhkan Sita. Berikutnya, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran dan memesan beberapa makanan lunak yg bisa dimakan orang sakit. Setelah itu ia langsung membawa mobilnya menuju kosan Sita. Sesampai disana, Mahesa harus memarkirkan mobilnya jauh dari kosan Sita karena lokasi kosan wanita itu berasa di gang kecil yg tidak memungkinkan sebuah mobil bisa melewatinya. Ia harus bertanya pada beberapa orang sebelum berhasil menemukan kosan milik Sita. "Permisi, cari siapa ya mas?" Tanya seorang pria paruh baya yg sepertinya penjaga kosan. "Marsita pak. Marsita Aysha Yusuf." "Oh, neng Sita? Kamarnya di belakang. Itu yg nomor 7. Tapi, ngomong - ngomong Mas ini siapanya ya?" Ujar penjaga kosan itu ramah. "Saya rekan kerjanya pak. Datang menjenguk." Jawab Mahesa sopan. Penjaga kosan itu mengangguk mengerti, "Oh, tadi juga ada mas - mas datang jenguk." Kata penjaga kosan yg membuat Mahesa menatapnya bingung. "Oh ya? Siapa pak? Keluarganya?" Penjaga itu menggeleng. "Bukan mas, temannya neng Sita." Pikiran Mahesa mulai membayangkan sosok teman yg datang menjenguk Sita. Jika pria itu sudah lebih dulu menjenguk, untuk apa dia datang? Seharusnya pria itu sudah memberikannya obat dan makan. Lalu untuk apa dia membeli semua ini? Ada sedikit rasa kesal hadir di hati Mahesa. Saat membayangkan hal yg telah ia lakukan sia - sia. Ia menatap bungkusan di tangannya dan berpikir. Apa lebih baik dia pergi? Tapi, sudah terlanjur berada disini. Akhirnya, Mahesa memutuskan untuk menuju kamar itu dan mengetuk pintu yg ternyata sudah terbuka itu. Pelan ia mendorong daun pintu dan menemukan sosok Sita yg tengah tertidur pulas di kasurnya. Lalu matanya teralih ke sosok pria yg kini duduk di samping Sita. Mengenggam tangan wanita itu dan mengelus lembut kepala wanita itu. Sesekali tersenyum dan menatap Sita dengan ekspresi yg sangat ia kenal. Refleks, kedua tangannya meremas bungkusan yg ia pegang dengan kesal. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia merasa sangat kesal saat melihat pemandangan itu. Yang ia tahu kini tubuhnya sudah bergerak pergi tanpa sempat memberikan makanan dan obat yg telah ia beli. "She already had it anyway." Gumam Mahesa sebelum melemparkan bungkusan itu ke tempat sampah. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN