"Sit, Sit. Bangun." Panggil Hendra mencoba membangunkan Sita.
Pria itu menguncang bahu Sita pelan hingga akhirnya wanita itu membuka mata. Beberapa kali mengerjap sebelum melihat keadaan sekitarnya.
"Dimana?"
"Punclut. Maaf, gua ga jadi muter balik. Tadi--" Hendra menghentikan kalimatnya saat Sita menghela nafas kesal.
Hening sesaat sebelum akhirnya Sita membuka pintu dan berjalan keluar. Hendra hanya bisa diam, tidak berani berkata apapun karena menyadari kesalahannya. Dia memang salah, tidak seharusnya dia melampiaskan amarahnya pada Sita. Ia sama sekali tidak sengaja. Hendra merasa begitu marah saat melihat Sasa diperlakukan begitu kasar. Rasanya ia ingin menghajar pria b******k itu dan membunuhnya. Namun, karena ia sedang bersama Sita, ia menahannya. Ia sudah begitu melukai wanita itu.
Hendra terlonjak saat suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya.
"Gila! Gila! Dingin banget! Mati gua!" Seru Sita panik dan buru - buru masuk ke dalam mobil.
Sesaat Hendra diam, mencoba mencari kata yang tepat untuk ia ucapkan. Lalu saat Sita menoleh dan menatapnya tajam Hendra menahan nafas.
"Apa lu liat - liat?! Buru cari tempat! Gua mau mesen yang anget - anget!" Seru Sita sembari memeluk tubuhnya.
Melihat reaksi Sita yang sudah kembali seperti biasa, Hendra diam lalu tersenyum. Rasa lega memenuhi dirinya. Ia tidak pernah berhenti mengagumi sifat Sita yang bisa dengan tenang menerima semuanya. Seakan tidak terjadi apa - apa, Sita akan kembali seperti biasa.
"Buruan Ndra!"
Hendra akhirnya mengangguk dan kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"Siap bos siap!"
Mereka mencari tempat singgahan yang lumayan ramai dan memarkirkan mobil.
Sita buru - buru turun dan berlari menuju pondok lesehan yang masih kosong, sementara Hendra mematikan mesin dan mengunci pintu mobil sebelum menyusul.
"Aa pesen s**u jahe panas satu sama-- Woy Ndra! Lu mau apa?"
"Kopi hitam aja satu." Ujar Hendra sebelum meletakkan pantatnya diatas tikar.
"Eh! Makanan kita. Mana kunci?" Sita kembali berdiri dan meminta kunci mobil Hendra.
"Jangan lupa kunci lagi."
"Iye iye." Sita mengambil kunci mobil dan mengambil makanan mereka.
Saat akan menutup pintu, dering ponsel menarik perhatiannya. Sita mencari asal bunyi dan menemukannya di jok pintu Hendra. Dengan penuh perjuangan, Sita meraih ponsel Hendra dan melihat siapa yang menelepon.
'Sasa'
Raut wajah Sita seketika berubah muram. Tangannya meremas ponsel Hendra, hingga rasanya ia bisa menghancurkan benda itu dalam sekejap mata. Disatu sisi Sita hanya ingin mengabaikan panggilan itu, menghapus riwayat telepon Hendra sehingga pria itu tidak akan tau jika Sasa meneleponnya. Tapi disatu sisi, Sita tidak tega. Bagaimana jika telepon itu penting?
"Sialan."
Dengan sedikit kesal, Sita mengangkat telepon itu. Awalnya, Sitah hanya tidak ingin dering telepon mati dan segera memberikan pada Hendra. Namun, saat mendengar isakan diseberang sana. Mau tidak mau Sita meletakkan benda itu di telinganya.
"Halo?"
'....'
"Sa?"
'Hendra mana?' Akhirnya suara Sasa terdengar meski begitu ketus.
Sita tanpa sadar memutar bola matanya jengkel dan mencoba untuk bersabar.
"Ada, bentar aku panggil." Sedikit kesal Sita menutup pintu mobil dan berjalan menuju tempat Hendra.
Pria yang tengah menikmati pemandangan malam kota yang terlihat dari atas merasa kaget saat Sita menyodorkan ponsel ke depan wajahnya. Hendra menoleh dan menatap heran wajah Sita yang terlihat kesal.
"Nih, Sasa." Ujar Sita ketus namun tetap membuat Hendra dengan cepat meraih ponselnya dan menjawab panggilan.
Diam - diam Sita mendengus. Memperhatikan dengan kesal ekspresi Hendra yang begitu bersemangat menerima panggilan itu. Wajah Hendra terlihat menegang saat mendengar sesuatu. Pria itu berusaha menahan sesuatu yang Sita yakin telah membuatnya marah. Karena tidak lama, Hendra mengumpat setelah menutup telepon.
"Kenapa la--" baru ingin menanyakan spa yang terjadi, Hendra dengan tiba - tiba bangun dan berdiri.
"Ayo, kita pergi Sit."
"Hah?"
"Buruan."
****
"Kita kemana, Ndra?" Tanya Sita setelah akhirnya mereka batal menikmati pemandangan dan segelas minuman hangat di Punclut.
Setelah mengajak pergi, Hendra langsung membayar minuman yg sudah dipesan dan meminta minumannya di bungkus.
"Rumah Sasa." Hanya itu jawaban dari Hendra sebelum kembali fokus membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mendengar jawaban Hendra, hati Sita mencelos. Perasaannya sedikit terluka namun ia menahannya.
"Sesuatu terjadi?" Tanya Sita dan Hendra mengangguk.
Dari cara Hendra mengemudi, sepertinya telah terjadi sesuatu yang penting. Hendra benar - benar lupa ia tengah membawa seseorang dalam mobilnya. Beruntung jam sudah menunjukkan pukul 12 dini hari, sehingga jalanan begitu sepi dan memudahkan Hendra mengemudi. Karena jika tidak, mungkin Sita sudah menjadikan Hendra daging cincang pilihan.
Tidak lama, mereka tiba di sebuah hotel bintang 4 di kawasan Braga.
"Lho? Sejak kapan rumah Sasa pindah ke hotel?" Tanya Sita curiga dan menatap Hendra dengan tajam.
Tanpa banyak bicara Hendra memarkirkan mobilnya dan turun. Tidak peduli dengan Sita yang membutuhkan jawaban. Pria itu masuk ke lobby dan menuju tempat resepsionis. Mengundang kerutan dalam di wajah Sita.
'Apa yang dilakukan Hendra? Tidak mungkin mereka..' pikiran Sita mulai kemana - mana. Ia mencoba memikirkan apa yang dilakukan Hendra saat ini. Kenapa pria itu membawa mereka ke hotel bukan ke rumah Sasa? Apa sebenarnya Sasa berada di hotel dan meminta Hendra kemari? Dan karena Hendra membawa dirinya, pria itu terpaksa berbohong dan mengatakan akan ke rumah Sasa agar Sita tidak melarangnya?
"Sialan lu Ndra." Maki Sita saat menyadari maksud Hendra.
Sita dengan segera turun dari mobil dan menuju resepsionis hotel dimana Hendra berada. Ingin rasanya ia meninju wajah Hendra karena mengetahui niat pria itu. Ingin bersenang - senang dengan mantan sementara ia menunggu di mobil? Kurang ajar.
"Hen--" Panggil Sita bersamaan dengan Hendra yang kebetulan berbalik.
"Oh lu uda disini?" Pria itu menghentikan kata - kata yang hendak terlontar dari bibir Sita.
Dengan ragu, Sita mengangguk. Masih menatap Hendra curiga. Lalu berikutnya, Sita melihat Hendra menyerahkan kartu kamar dan sebuah kertas.
"Nih, malam ini lu tidur disini. Uda gua pesenin kamar buat lu. Besok pagi, jam 10 gua jemput." Jelas Hendra yang membuat Sita kini terdiam seribu bahasa.
Sita menatap kosong kartu kamar hotel ditangannya. Mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi. Jika Hendra memesan kamar untuknya, itu berarti pria itu tidak berniat untuk bertemu dengan Sasa disini.
"Terus lu?" Tanpa mengalihkan pandangannya, Sita bersuara.
"Gua mau ke Sasa dulu. Kayanya gua bakal nginap di rumah Ringga. Ntar gua kabarin lagi. Sekarang istirahat aja lu." Ujar Hendra lagi.
Mau tidak mau Sita mengangguk. Meski ada rasa kesal dan kecewa, Sita hanya mematuhi perkataan Hendra. Tidak ingin memperlihatkan kecemburuan yang ia rasakan. Ia harus menahannya.
"Kalo gitu gua pergi dulu. Tidur lu jangan berkeliaran." Hendra menambah sedikit candaan diakhir kalimatnya.
"Iye bawel. Uda sana lu."
Dan akhirnya Hendra pun pergi meninggalkannya sendiri.
"Haa.." Sita menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya berjalan menuju kamar hotel yang tertera di cover kartunya.
Sita masuk ke kamar hotel yang dipesankan Hendra. Merasa puas dengan kamar yang dipesan Hendra untuknya. Well, mencoba menghilangkan rasa sakit di hatinya Sita mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengagumi kamar itu.
Ia membuka lemari pakaian yang ternyata memiliki jubah mandi. Yang membuatnya memutuskan untuk mandi dan berendam. Setelah itu ia merebahkan diri di kasur kingsize miliknya. Meraih remote dan menghidupkan tv.
Mencoba mengalihkan pikirannya dari Hendra. Namun, tetap saja. Sita tidak bisa berhenti membayangkan apa yang dilakukan Hendra di rumah Sasa. Meski gadis itu sudah memiliki pacar yang lain, tidak memutup kemungkinan ia tidak akan merayu Hendra lagi.
Tapi, apa hubungannya dengan dirinya? Toh, Hendra sudah pernah mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa. Meskipun Sita berubah menjadi kurus sekalipun. Hendra tidak akan bisa menyukainya.
"Sialan." Umpat Sita ketika mengingat kenangan pahit itu.
Setelah berapa lama sejak terakhir kali ia menangis karena Hendra? Ketika akhirnya dia berhasil melupakan pria itu, dengan kejamnya Hendra kembali datang. Seakan tidak pernah meninggalkan luka di hatinya. Pria itu mengetahui dengan jelas perasaan Sita padanya. Dan terkadang, Sita merasa pria itu memanfaatkan hal itu.
Tangisan Sita perlahan berubah menjadi isakan. Hatinya terlalu sakit memendam perasaan yang begitu dalam pada Hendra. Perasaan yang tidak akan pernah terbalaskan. Karena ia bukan tipe Hendra. Ia hanya wanita bertubuh besar, yang tidak cantik atau menarik.
Tidak akan ada satupun pria yang akan meliriknya. Bahkan jika di dunia ini hanya dia wanita yang tersisa.
Apa yang harus ia lakukan? Tetap mempertahankan persahabatannya dengan Hendra dan menahan perasaannya? Atau pergi menjauh dari pria itu dan memulai lembar baru?
Ia tidak tahu.
****
Sinar matahari yang menembus jendela dan menyinari wajah Sita, membuat wanita itu mengerjap. Rasa perih di matanya, membuat Sita mengerutkan kening dan menarik selimut untuk menutupi cahaya matahari yang terpapar ke wajahnya. Sebelah tangannya sibuk mencari ponsel yang tidak kunjung ia temukan. Hingga akhirnya membuat Sita terpaksa bangun dan mencari dengan wajah bingung.
Ia menemukan ponselnya di tas dalam keadaan mati karena kehabisan daya. Sita mencharger ponselnya dengan powerbank sebelum menghidupkannya.
Pukul berapa ini? Dan jam berapa ia tertidur tadi malam? Sita sama sekali tidak ingat. Yang ia tahu, ia menangis hingga akhirnya ketiduran. Dan sialnya, membuat matanya terasa seperti bola tenis.
Baru saja menyala, getaran demi getaran menyerbu ponsel Sita. Tanda begitu banyak notif pesan dan lainnya masuk. Sita menunggu, hingga akhirnya getaran itu berhenti dan membuatnya mudah memeriksa pesan itu satu persatu.
Kebanyakan berasal dari grup chat, lalu beberapa notif social media. Baru setelah membuka pesan, Sita menemukan cukup banyak notif dari Linda, Gisel dan Mahesa. Membuka pesan yang berada di posisi paling bawah, Sita melihat pesan Gisel.
'Sit, kamu dimana? Ga balik kekosan?'
Sita mengetik balasan untuk Gisel dan pindah ke pesan milik Linda.
'Woy! Kemana lu? Kok ga masuk? Lu sakit lagi?'
'Janjian lu ya sama pak Mahesa? Apa lu pergi sama dia? Wah wah parah..'
'Heh! Beneran nih! Gua gamau tau lu harus cerita semua ke gua!'
'Sit! Balas kali chat gua! Jangan ena - ena lu sama bos ganteng!'
'Beneran nih ya. Ena - ena lu kan? Ga nyangka gua Sit.'
Deretan pesan milik Linda membuat Sita tersenyum geli. Sedikit kesal karena tuduhan tidak masuk akal Linda padanya. Ini sudah pukul 12, tentu saja Linda sibuk mencarinya. Tapi, setelah membaca ulang isi pesan Linda. Sita mengerutkan kening.
"Pak Mahesa juga tidak masuk?" Gumam Sita pelan.
Lalu mengabaikan pesan Linda, Sita membuka pesan Mahesa. Entah kenapa membuatnya penasaran sekaligus takut. Apa terjadi sesuatu di kantor? Dan ketika pesan dibuka Sita menahan nafasnya.
'Dimana rumah nenekmu? Kebetulan saya sedang dibandung. Saya mau menjenguk nenekmu.'
To Be Continued