M&M : Part 19

2426 Kata
'Dimana rumah nenekmu? Kebetulan saya sedang dibandung. Saya mau menjenguk nenekmu.' Kata - kata itu terus terngiang di kepala Sita yang tengah membeku menatap layar ponsel yang sudah mati. Sesaat ia melamun, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tengah bermimpi. Tapi, kenyataan tidak begitu. Ia tidak sedang bermimpi. "Oh Tuhan!" Sita meremas rambutnya frustasi. Sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Berbohong memang bukan keahliannya. Kali ini tamat sudah, ia pasti akan berakhir. Apa yang harus ia lakukan? Mengatakan yang sebenarnya? Atau kembali berbohong? Sita kembali membuka ponselnya. Mencari nama Hendra sebelum menghentikan niatnya. Tidak bisa. Ia tidak bisa menghubungi Hendra sekarang. Karena seingatnya Hendra bahkan lupa untuk menghubunginya jam 10. Tapi.. Ponselnya mati. Tidak punya banyak waktu, Sita akhirnya menekan nomer yang pertama kali terlintas di kepalanya. **** Mahesa menunggu dengan tenang di mobilnya. Sebelah tangannya mengetuk - ngetuk setir mobil, sementara yang lain memegang ponsel miliknya. Berharap balasan segera masuk. Namun, tidak ada tanda - tanda balasan setelah begitu lama ia menunggu. Membuatnya yakin jika Sita telah berbohong mengenai neneknya. Bayangan akan Sita dan Hendra menghabiskan malam bersama, membuat Mahesa kesal. Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa begitu tidak senang. Bahkan ia sadar dirinya sudah gila karena memutuskan untuk pergi ke Bandung secara tiba - tiba. Tubuhnya bergerak tanpa bisa ia cegah. Saat sadar, Mahesa telah membawa dirinya menuju bandung. Karena sudah terlanjur, kenapa ia tidak sekalian meyakinkan dirinya? Ia hanya perlu tau bahwa Sita tidak menghabiskan waktunya bersama Hendra. Tidak. Pikiran itu benar - benar menganggunya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kata Anna? Dia menyukai Sita? Sialan. Mahesa tidak bisa menunggu lebih lama. Sudah hampir 1 jam ia menunggu balasan Sita dan tidak bisa lebih lama lagi. Ia harus memastikan sendiri jika wanita itu tidak berbohong dan bersama pria itu. "Dimana kau?" Suara Mahesa terdengar hampir seperti seruan saat akhirnya Sita menjawab panggilannya. Butuh beberapa detik untuk Mahesa bisa bernafas lega setelah mengetahui Sita berada di rumah neneknya. Namun, ia harus memastikannya. Bisa saja Sita berbohong. "Dimana rumah nenekmu? Aku akan kesana. Tidak, aku akan tetap datang. Kirimkan aku lokasinya. Sekarang." Ujar Mahesa yang terdengar seperti perintah. Ia lalu menunggu Sita mengirimkan lokasi rumah sang nenek sebelum kembali mengemudikan mobilnya. Tidak butuh lama bagi Mahesa menemukan lokasi rumah nenek Sita, karena kebetulan posisinya berada di dekat daerah tersebut. Ia membeli buah tangan lebih dulu sebelum menuju rumah nenek Sita. Jalanannya terbilang cukup sulit, karena harus memasuki gang kecil yang untungnya masih bisa dilewati mobilnya. Menemukan nomor rumah yang sesuai, Mahesa terdiam. Terlihat bingung harus memarkirkan mobil dimana. Akhirnya, ia menghubungi Sita. "Halo? Kamu dimana? Saya sudah di depan." Ujar Mahesa. 'Saya dibelakang bapak.' Jawab Sita yang membuat Mahesa menatap kaca spionnya dan menemukan sosok Sita di belakang mobilnya. Wanita itu berdiri dengan sebuah plastik belanja di lengannya. Menunggu Mahesa menjawab kembali dan akhirnya berjalan menuju jendela mobilnya. Terlihat Sita mematikan ponselnya dan mengetuk jendela mobil Mahesa. "Pak, masuk aja. Parkir di dalam, ntar saya bukain gerbang dulu." Sita menunjuk ke arah pintu pagar neneknya dan berlari masuk untuk membuka gerbang. Berbeda dengan rumah lainnya, gerbang milik neneknya agak berada di dalam. Menyisakan beberapa meter tanah kosong seperti bekas telepon umum yang sudah di bongkar. "Iya terus pak. Lewat kok. Nah.. lurus aja pak. Oke pas!" Teriak Sita membantu Mahesa memarkirkan mobilnya. Setelah itu, pria itu akhirnya turun dan berjalan menuju rumah nenek Sita yang masih bernuansa rumah jaman dulu. Tidak hanya rumah, neneknya juga memiliki 4 kamar kos - kosan di luar rumah dan juga warnet kecil yang Sita bilang milik om nya. "Assalamualaikum, nenek." Sapa Sita saat memasuki rumah. Dari arah dapur yang berada di sebelah kanan tidak jauh dari pintu masuk, neneknya menjawab. "Waalaikumsalam, mari masuk." Mahesa harus sedikit menunduk agar tidak menabrak pintu yang memang sedikit rendah untuk tubuh tingginya. Ia menatap Sita yang langsung berjalan menuju dapur dan berdiri di tempatnya. Rumah itu tidak besar, namun tidak juga kecil. Ada 3 kamar yang berada tepat di depannya dengan tangga kayu yang menuju ke lantai 2 yang adalah tempat menjemur pakaian dan 2 lagi disudut kiri di depanya. Tepat di sebelah kirinya berdiri, terdapat ruang tamu kecil. Mahesa berjalan perlahan menuju ke arah dapur yang ternyata sedikit menurun. Ia bisa melihat Sita dan neneknya tengah menyiapkan jamuan kecil untuknya. "Ah, tidak perlu repot - repot." Ujar Mahesa tidak enak dan membuat Sita maupun neneknya menoleh. "Gapapa nak. Eh, adek jangan biarin tuh tamunya kesini. Ga enak atuh. Bawa ke ruang tamu aja. Idupin tv gih." Ujar nenek menepuk bahu cucunya. "Iya nek, bentar dulu. Tanggung nih, nenek mending duduk dulu. Jangan banyak gerak, nanti sakit lagi." Sedikit mendecak becanda, sang nenek kemudian berbalik dan tersenyum pada Mahesa. Pria itu balas tersenyum dan mengangguk sopan. "Ayo, duduk dulu Nak. Maaf ya rumahnya kecil. Padahal gausa repot - repot datang lho." Nenek Sita menepuk lembut punggung Mahesa dan menuntun pria itu menuju sofa ruang tamu. Berbincang sedikit, akhirnya Sita datang dengan membawa minuman dan kue kering buatan neneknya. "Maaf ya pak, cuma ada ini." "Eh, gapapa. Makasi uda di hidangkan." Ujar Mahesa tidak enak dan mencicipi kue nenek Sita. Sesaat pria itu diam, mencoba merasakan rasa kue itu sebelum kembali menggigitnya. Membuat Sita tersenyum dan menggodanya. "Enak ya pak? Buatan nenek dong." Mahesa mengangguk bersemangat dan tampak kagum. "Iya, ini benar - benar enak. Nenek hebat." Ujar Mahesa yang membuat Sita menatapnya tidak percaya. Apa dia salah lihat? Wah, ini merupakan hal langka yang jarang terjadi. Mahesa terlihat seperti manusia. Nenek Sita kembali tersenyum. "Kamu suka? Nanti nenek bikinin ya." "Gausa repot - repot nek." "Gapapa, nenek senang kalo ada yang suka. Ini mau di bawa aja? Adek katanya mau balik hari ini kan?" Nenek Sita menoleh menatap cucunya yang mengangguk. "Yauda, ini bawa aja biar buat makan di jalan ya?" Tawar nenek yang kembali mendapat anggukan Sita. "Iya boleh tuh. Mau kan pak?" Tanya Sita yang lebih ke pernyataan. Nenek Sita lalu berdiri, berjalan menuju dapur yang diikuti cucunya. "Nek, gausa banyak - banyak. Nanti nenek sisa apa dong?" Gumam Sita saat melihat neneknya memasukkan hampir seluruh isi toples ke dalam tupperware. "Gapapa. Dia keliatan suka, biarinlah. Sama pacar ga boleh pelit." Ucapan sang nenek hampir saja membuat Sita tersedak jika ia sedang minum atau makan sesuatu. "Hah? Pacar? Bukan nek! Dia bukan pacar adek!" Sanggah Sita buru - buru. "Ah, masa? Udah gapapa. Nenek ga bakal bilang mama kok." Neneknya menutup bibirnya seakan sedang menarik resleting yang ada di mulutnya. "Yaelah Nek. Busyet, seriusan ini adek. Itu atasan adek bukan pacar. Iya kali pacar, kaga mungkin." Neneknya menatap Sita dengan ekspresi --masa sih?-- yang membuat Sita ingin mencubit neneknya gemas. "Kalo bukan, kenapa mesti nenek harus pura - pura sakit? Bilang baru pulang dirawat? Kenapa bohong? Takut ketauan lagi jalan sama cowo lain ya?" Goda neneknya sambil terkikik geli. "Ih nenek, Astaghfirullah. Pokoknya ya, intinya dia bukan pacar adek. Titik ga pake koma. Sip!" Merasa sedikit salah tingkah, Sita hampir menjatuhkan bungkusan kue di tangannya yang mengundang godaan sang nenek. Wajah Sita cemberut saat kembali ke ruang tamu. Membuat Mahesa mengerutkan kening bingung. "Ada apa?" Sita menggeleng, "Engga ada pak. Mmm, bapak bukannya ada urusan? Ga telat tuh?" Mengingat alasan Mahesa ke bandung, membuat Sita sadar. "Engga kok. Kamu jam berapa balik ke jakarta?" Jawab Mahesa berbohong dan mengalihkan topik. "Belum tau pak. Mungkin sore?" "Sama siapa? Hendra?" Raut wajah Mahesa berubah sedikit masam saat mengatakannya. Begitu juga Sita yang tanpa disangka memasang raut bete. "Naik bus mungkin. Hendra mah tidam diketahui keberadaannya." Jawab Sita ketus. Wanita itu berjalan ke arah tangga dan mengambil plastik kecil untuk menyimpan kue yg diberikan neneknya sebelum menyerahkan pada Mahesa. "Nih pak kuenya." "Kamu pegang aja." Perkataan Mahesa menimbulkan kerutan kecil di kening Sita. "Hah? Kan ini buat bapak, kok jadi saya yang megang?" Mahesa menghela nafas. "Ya memang buat saya. Tapi kan kamu juga bakal pulang bareng saya, jadi sekalian." Kali ini raut wajah Sita berubah menjadi datar. "Hah? Sejak kapan saya pulang bareng bapak?" "Daripada naik bus, lebih baik kamu menumpang mobil saya. Saya juga kembali ke bandung sore. Atau bisa jadi sekarang. Udah jam 3 juga. Gimana?" Belum sempat mengutarakan penolakan, nenek Sita yang mendengarkan sedari tadi ikut bicara. "Nah, yaudalah pulang bareng aja. Lagian juga gausa malu - malu di depan nenek." Kali ini Sita benar - benar ingin menyeret neneknya masuk ke kamar. Benar saja, Mahesa menatapnya bingung karena perkataan sang nenek barusan. "Anu pak, yauda deh boleh. Kalo ga merepotkan." "Lho, masa merepotkan? Pacar sendiri ju--" "Ya Allah nek! Ampun, nenek istirahat gih! Nanti kambuh lagi tuh vertigonya! Buru - buru!" Sebelum neneknya mengatakan hal yang aneh lagi, Sita buru - buru mendorong neneknya masuk ke kamar. "Eh bentar dulu. Nak Mahesa, tolong ya dijaga cucu nenek. Dia memang pemalu, tapi baik kok." Ujar nenek Sita sebelum menyerah didorong masuk Sita. "Nenek ih!" ".. ganteng dek, buruan gih nikah. Biar nenek sempat liat cicit dari kamu.." "MasyaAllah nek!" **** "Maaf ya pak. Nenek saya suka gitu. Excited sendiri kalo uda akrab." Gumam Sita sedikit malu. Sekarang mereka sudah pergi dari rumah sang nenek. Mahesa mengangguk dan tersenyum. "Sepertinya keluarga kamu memang unik ya?" Sita mengernyitkan kening mendengar perkataan Mahesa. "Maksud bapak?" "Ya, nenek kamu sifatnya ga jauh beda dari kamu, ceplas ceplos, sumringah dan ya gitu.." jelas Mahesa sembari tersenyum geli. Membuat Sita merasa sedikit malu dan meringis. "Heboh ya pak? Memang udah turun temurun kalo itu. Keluarga mama sih memang kaya kesebelasan semua rata - rata. Tapi, papa saya orangnya jaim kok pak. Eh bukan jaim, tapi pendiam." Mahesa mengangguk - angguk mendengarkan. "Terus kadang papa tuh suka malu kalo mama uda heboh pas belanja. Pernah tuh ya pak, kan mama saya kursng jago bahasa inggris tuh malah gabisa kayanya. Terus dia mau beli kopi yang namanya pake inggris - inggris gitu.." Mendengar Sita bercerita dengan begitu semangat, Mahesa menjadi sedikit geli. Ia merasa senang mendengar wanita itu mulai berceloteh. Dengan berbagai ekspresi dan gesture yang berubah - ubah. "Terus?" "Terus kan mama saya ga nemu tuh kopinya. Dia juga suruh saya nyari ke rak - rak, sampe terakhir dia memutuskan buat nanya sama mbak - mbak pegawainya. Dan bapak tau mama saya ngomong apa? Tau ga pak?" Hampir saja Sita menyemburkan tawa yang ia tahan karena geli dengan ceritanya sendiri. Mahesa yang belum mendengar sambungan cerita pun ikut terkekeh karena melihat tingkah Sita. Wanita itu sudah lebih dulu tertawa geli karena ceritanya, hingga butuh beberapa saat sebelum ia bisa melanjutkan. "...Mama saya nanya dengan gaya soknya itu, 'Eh mba, dimana ya kopi wit kopi? Kok uda saya cari ga nemu - nemu?' Terus mba yang malang jadi bingung kan ya? Dia juga mikir itu kopi apa? Terus mama saya dengan pedenya malah pake mendecak lagi, 'ck, alah itu lho kopi yang ada luwak luwak itu. Kopi luwak masa gatau?' Hahahaha.." gelak tawa Sita dan Mahesa yang mendengarkan cerita memenuhi mobil. Mereka berdua tertawa begitu lepas hingga membuat tubuh mereka bergetar. Wajah Mahesa berubah merah karena tertawa begitu lepas, begitu juga Sita yang menangis karena gelinya. Wanita itu terus melanjutkan cerita dengan sisa - sisa tawa yang membuat Mahesa tidak bisa menghentikan tawanya. "...saya disitu antara mau lari aja ninggalin mama saya, uda ga peduli lagi dah malunya itu! Tapi, kalo iya kasian itu mama saya sendiri, tapi kok begitu amat ya? Jadi terakhir saya dengan penuh kesabaran membenarkan 'ma, white ma wa-it ma buka wit..' terus mama saya diem bentar tuh sebelum ketawa ngakak. Disitu ga cuma saya, mba sama pembeli yang disekitar situ terkejut pak!" Sekali lagi Sita tertawa dan kali ini Mahesa harus menepikan mobilnya karena ia benar - benar tidak sanggup menahan sakit perut akibat tertawa terlalu keras. Pria itu melipat kedua lengannya di atas setir mobil dan membenamkan wajahnya disana. Mencoba menghentikan rasa geli akibat cerita Sita. Disampingnya, Sita yang tawanya perlahan memudar dan menyisakan kekehan pelan, memperhatikan Mahesa dengan tidak menyangka. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata Mahesa memiliki selera humor. Selama ini yang ia tahu, pria ini hanyalah makhluk dingin tak punya hati. Sekarang ia sadar, semua itu salah. "Ternyata kalo bapak ketawa jadi ganteng ya?" Tanpa ia sadar, kata - kata itu meluncur dari bibirnya. Membuat tidak hanya dirinya, bahkan Mahesa langsung berhenti tertawa karena kaget. Sudah terlambat untuk menyesali, karena ia sudsh terlanjur mengatakannya. Sehingga cara satu - satunya menghilangkan kecanggungan yang mungkin hadir adalah dengan melanjutkan kalimat berikutnya. "Daripada bapak tiap hari marah - marah, kan mending bapak kaya gini. Lebih enak di lihat pak." Ujar Sita mencoba mencairkan situasi canggung. Di luar dugaan, Mahesa sudah duluan menyadari jika Sita keceplosan mengatakan hal itu. Ia juga sadar wanita itu menjadi salah tingkah dan berusaha menghilangkan kecanggungan. Tapi, ia terlalu senang karenanya. Itu artinya wanita ini tertarik padanya. Hanya memikirkan itu, perasaan Mahesa jadi hangat. Keinginan untuk mengisengi Sita pun muncul. Ia mengangkat wajahnya sedikit hanya untuk mengubah posisi wajahnya yang kini menatap wanita itu dengan wajah masih berada diatas lengannya. Ia yakin, posisinya saat ini membuat Sita tidak nyaman dan tidak tenang. Itu bisa terlihat dari cara Sita yang tiba - tiba mengerjap berulang kali dan melihat ke arah lain dengan panik. "Jadi menurutmu aku ini ganteng?" Goda Mahesa. Pria itu memberikan tatapan mematikannya. Membuat Sita yang terlalu kaget karena menerima serangan itu bingung harus bagaimana? 'Setan nih orang! Tuhan! Kenapa dia tiba - tiba begini?! Nyesal saya nyesal!' Gumam Sita dalam hati. 'Tenang Sit tenang. Lu bisa menghadapi ini. Gausa bayangin drama korea! Ga bakal kejadian gitu! Ni orang cuma ngerjain lu! Balas Sit balas!' Teriaknya dalam hati. Beberapa saat ia mencoba mengatur strategi untuk membalas Mahesa. Hingga akhirnya, dengan kemampuan menghadapi rintangan, Sita memberanikan diri menatap mata Mahesa. "Yaa gimana pak. Saya buta kalo bilang bapak jelek. Tapi, kalo ketawa gantengnya bapak jadi maksimal." Ujar Sita mencoba menenangkan debaran jantungnya akibat tatapan Mahesa. "Hmm, berarti kamu suka kalo saya ketawa ya?" "Iya pak. Lagian kalo sering marah - marah nanti bapak cepat tua." Kali ini Sita mencoba menyunggingkan senyum paksanya yang berhasil membuat Mahesa kembali tertawa. Pria itu menyerah untuk menggoda Sita. Wanita ini terlalu sulit dirayu. Tapi, ia tidak akan berhenti mencoba. Di lain waktu. "Baiklah. Sekarang kita harus melanjutkan--" Mahesa baru akan menjalankan mobilnya kembali saat bunyi ponsel Sita menarik perhatiannya. Sita mengambil ponselnya dan melihat layarnya. 'Hendra' Ada perasaan kesal saat melihat nama itu muncul di layarnya. Ingin rasanya ia membuka jendela dan membuang ponselnya, namun sungguh disayangkan. Rasa ragu itu bertahan beberapa detik sebelum sebuah tangan menyentuh dan menggenggam ibu jarinya. Kaget, Sita menoleh ke arah Mahesa yang kembali memberikan ekspresi dinginnya. Terlihat tidak senang dan terganggu. Pria itu menatap Sita tajam sebelum berkata. "Jangan angkat telepon itu." To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN