M&M : Part 20

2470 Kata
Hendra mengumpat pelan saat terbangun dan menemukan bahwa dirinya dan Sasa telah melakukannya. Ia tidak begitu ingat kejadian kemarin malam, yang ia tahu Sasa meminta bertemu disebuah club di daerah Setiabudi. Tempat paling tidak disukai Hendra untuk diinjak oleh Sasa. Gadis itu akan melakukan hal itu jika ada sesuatu yang membuatnya stress. Dan saat Sasa mengatakan bahwa dia berada disana, dengan segera Hendra menyusulnya. Tapi, apa ini? Kenapa dia dan Sasa bisa berakhir di kamar hotel dengan tanpa menggunakan apapun? Apakah mereka melakukannya? Sial! Hendra dengan segera bangun dari tempat tidur dan menyebabkan guncangan yang membuat Sasa terbangun. "Hendra..." gumam Sasa khas suara baru bangun. Gadis itu menarik selimut dan mengintip Hendra yang kini tengah memakai kembali pakaiannya dan sama sekali tidak mendengarkan. "Ndra? Kamu mau kema--" "Apalagi sekarang Sa?!" Tanpa diduga Hendra berseru marah dan menatap Sasa kesal. Sasa tersentak, "Apa maksudmu?" Frustasi, Hendra meremas rambutnya dan mengerang. "Demi tuhan Sa! Apa yang sebenarnya lu mau?! Lu bilang ada masalah, gua datang! Gua temenin lu minum! Tapi kenapa bisa jadi gini?!" Bentak Hendra lagi kali ini menggunakan sebutan yang tidak pernah ia gunakan pada Sasa. Gadis itu terlihat takut dan perlahan duduk di kasurnya, menatap Hendra menyesal. "Aku.. aku cuma kangen sama kamu Ndra." Ujar Sasa dengan suara bergetar. "Kangen?! Setelah lu campakin gua? Lu kangen? Bukan gini cara melampiaskan kangen lu Sa! Astaga! Lu uda milik orang Sa!" "Engga! Aku bukan milik dia! Aku ga pernah jadi milik dia! Ndra! Aku mohon.. dengerin aku dulu! Ndra!!" Teriak Sasa panik karena Hendra sudah tidak peduli dan berjalan pergi. Gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mengejar Hendra. "Ndra! Tunggu dulu! Aku bakal jelasin kenapa aku.." "Udah lah Sa! Gua udah muak! Harusnya gua ga nemuin lu! Kita uda berakhir dari 3 bulan yang lalu dan please! Lupain gua!" Teriak Hendra menghempaskan tangan Sasa yang mencoba menahannya. Tidak peduli dengan tangisan Sasa yang terdengar, Hendra buru - buru mengambil kunci mobil dan barang - barangnya sebelum meninggalkan kamar. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2.45 petang dan kembali memaki pelan. Sudah 5 jam ia telat dari waktu yang dijanjikannya pada Sita. Semoga saja wanita itu tidak marah. Hendra merasa bersalah, sudah memaksa sahabatnya itu menemaninya tapi malah berakhir meninggalkannya. Seharusnya ia bersyukur memiliki sahabat seperti Sita dan melupakan Sasa. Jika dipikir, ia merasa lebih nyaman bersama wanita itu dibanding dengan Sasa. Dengan cepat Hendra menaiki mobilnya dan menghidupkan mesin. Dia langsung pergi menuju hotel dimana ia meninggalkan Sita. Dan hanya butuh waktu 20 menit untuk tiba di hotel tempat Sita menginap. Setelah memarkirkan mobilnya, Hendra langsung menuju kamar Sita dan mengetuknya. Menekan berulang kali bel kamar hingga membuatnya bingung kenapa Sita tidak juga menjawab? Apa terjadi sesuatu? Atau wanita itu sedang keluar? Tapi, Sita pasti akan mengatakanya jika benar. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Suara cleaning service mengejutkan Hendra. Pria itu menoleh dan tersenyum tipis. "Ini teh, yang nginep di kamar ini lagi keluar ya?" Tanya Hendra. "Oh, neng yang badannya gemuk itu ya?" Hendra mengangguk. "Dia sudah check out tadi siang pak. Sekitar jam 11 an kalo ga salah." Ujar mba CS menjelaskan. Kening Hendra mengerut bingung. Check out jam 11? Kenapa Sita tidak mengatakan apa apa? Apa telah terjadi sesuatu? Setelah berterimakasih, Hendra kembali ke mobil dan mencoba menghubungi Sita. Rasa khawatir menyelimuti saat memikirkan kemungkinan buruk yang sudah terjadi. Tidak mungkin Sita tidak mengatakan apapun. Wanita itu tidak pernah seperti ini. Sudah dering keempat, namun Sita belum mengangkat teleponnya. Menambah rasa khawatir Hendra yang mulai berpikiran buruk. 'Halo?' "Halo?! Sit lu dimana?! Lu ga kenapa - napa kan?!" Begitu lega mendengar suara itu membuat Hendra tidak sadar hampir berteriak. 'Iya, gua baik - baik aja. Napa lu? Panik amat.' Mendengar suara Sita yang menunjukkan bahwa wanita itu baik - baik saja, membuat Hendra menghela nafas. "Gua pikir lu diculik alien, lagian main check out check out aje lu. Kemana lu?" 'Ya lagian lu lama. Ntar gua kena denda.' "Yaelah bacot, gua bayar denda nya. Takut amat lu. Eh jawab gua, lu kemana? Dimana lu sekarang?" Sudah merasa tenang, kini Hendra bisa kembali menghidupkan mobilnya. Pria itu menyambungkan koneksi ponsel dengan mobilnya dan menghidupkan speaker. Sebelum melempar ponselnya ke kursi disampingnya. Agar ia bisa lebih mudah mengendarai mobilnya. 'Gua otw balik ke jakarta nih.' "Hah? Lu uda jalan balik? Naik apa? Uda masuk tol?" 'Belum masuk tol sih.' "Yauda turun aja dimana, biar gua jemput deh. Lagian lu ga sabaran banget deh, ga bakal telat lu nyampe sana." 'Hmm, gausa Ndra.' Jawaban itu membuat Hendra mengernyit heran. "Gausa napa? Lu.. Napa suara lu kaya gitu dah? Jijik gua dengernya!" Mendengar suara Sita yang di pelankan dan lembut membuat Hendra terganggu. Jawaban berikutnya, terdengar bisikan Sita yang mengisyaratkan kemarahan. 'Gua balik sama atasan gua setan..' kata - kata itu cukup menjawab semua rasa penasaran Hendra. Tanpa bisa di lihat Sita, pria itu bergumam dan membentuk huruf 'O' dengan bibirnya. Baru paham alasan dibalik kalimat singkat dan lembut Sita. "Bilang dong dari awal. Lu sih." Ujar Hendra ikut mengecilkan suaranya. 'Gua sedang mencoba mengatakannya.' "Yauda kalo gitu. Sorry ya buat kemarin, ntar gua traktir sebagai permintaan maaf. Hati - hati lu. Salam buat atasan lu." Ujar Hendra sebelum memutuskan sambungan. Sekarang dia sudah bisa bernafas lega karena Sita tidak mengalami hal buruk. Tapi, bagaimana bisa Sita pulang dengan Mahesa? Apa pria itu sengaja menjemputnya? Pikiran itu mendadak memenuhi kepala Hendra yang penasaran. Jika diingat - ingat, Mahesa bersikap sedikit aneh belakangan ini. Iya, Hendra mulai menyadari ada yang aneh dengan atasan sahabatnya itu. Dimulai dari hari dimana ia menjemput Sita. Hingga saat ia menghubungi Sita. Kesannya seperti Mahesa tidak pernah senang jika Sita pergi bersama dirinya. Ditambah hari ini, kebetulan sekali pria itu berada di bandung. Kali ini alasan apa yang digunakan Mahesa? Memiliki meeting penting lagi? Benar - benar kuno. Hendra tersenyum tak percaya. Apa yang dilakukan Mahesa tampak seperti pria itu cemburu. Dan Hendra tidak habis pikir, bagaimana Sita mengubah seseorang dulu begitu membencinya menjadi seseorang yang menyukainya? Tapi, sebelum terlalu yakin, ia harus memastikannya sekali lagi. **** Suasana di mobil begitu hening setelah Sita mengakhiri pembicaraan dengan Hendra. Disampingnya, Mahesa diam seribu bahasa dan fokus pada jalanan. Sejak Sita memutuskan untuk mengangkat telpon, sikap Mahesa berubah dingin. Seakan pria itu begitu kesal. Memang apa yang sudah ku lakukan? Gumam Sita pada dirinya sendiri. Merasa tidak mengerti dengan asal kemarahan Mahesa. Ia hanya mengangkat telepon Hendra. Apa itu salah? "Tapi, saya harus ngabarin dia pak. Eh bentar.." adalah kalimat yang diucapkan Sita sebelum terburu - buru mengangkat panggilan yang akan segera mati itu. Sejak itu Mahesa diam. Bahkan menoleh saat ia bersin pun tidak. Membuat situasi menjadi canggung luar biasa. "Hmm, pak?" Memberanikan diri, Sita mencoba mengeluarkan suara. Tapi, tidak ada jawaban. Dan Sita kembali diam. Kemudian mencoba lagi dengan suara yang lebih besar. "Pak!" "Oo pak!" "Bapak!" "Pak Mahesa!" Dan akhirnya setelah panggilan itu bercampur dengan sedikit emosi, Mahesa merespon. "Apa?" Rasanya Sita ingin menendang wajah Mahesa saat itu juga karena kesal. Namun, berusaha ia pendam dan tahan. "Bapak kenapa?" Suara Sita masih terdengar lembut meski ia kesal. "Memangnya saya kenapa?" Ingin rasanya Sita membuka jendela, mengeluarkan kepala dan berteriak 'WOY MONYONG! MUKE LU KAYA ASAM JAWA! IYE KALI LU GA KENAPA NAPA!' tapi ia tahan. Dengan sabar menghadapi Mahesa. "Nng, bapak marah tiba - tiba. Hmm, saya cuma ngangkat telepon doang pak. Memang salah ya?" Ujar Sita hati - hati, takut salah berkata - kata. Mahesa tidak menoleh, masi melihat lurus ke depan. "Salah." Jawabnya dengan suara ketus. Membuat Sita kini terdiam setelah mendengarkannya. Sekarang apa yang harus ia katakan? Mencari tau? Atau hanya diam? "Wah, maaf pak. Soalnya, setau saya kalo ada telepon itu mesti di angkat. Kecuali pas lagi rapat atau--" Sita mencoba menggunakan logikanya untuk menjawab, namun akhirnya tatapan Mahesa membuatnya diam. "Disini, saya yang membuat peraturan. Jadi terserah saya mau itu salah atau tidak." Tidak habis pikir, akhirnya Sita mengangguk dan diam. Ia juga mengatakan permintaan maaf dan menggeleng pelan. Merasa heran dengan perilaku Mahesa yang suka berubah - ubah. Sita membayangkan, apakah pria disampingnya ini memiliki kepribadian ganda? Terkadang baik, dan tiba - tiba menjadi kejam. Tidak lama mereka sudah berada di tol. Perjalanan berjalan tanpa komunikasi, hanya suara radio yang menghiasi. Sementara pengemudi dan penumpang hanya diam seribu bahasa. "Hmm, pak. Boleh singgah di rest area ga? Saya ingin buang air kecil.." akhirnya Sita memecahkan keheningan dan menarik perhatian Mahesa. Pria itu hanya mengangguk dan seperti permintaan Sita, mereka akhirnya singgah di rest area. "Bentar ya pak." Ujar Sita sebelum berlari turun menuju toilet. Meninggalkan Mahesa yang segera meremas rambutnya dan membenturkan kepalanya ke setir berulang kali. Merasa sangat bodoh dengan perilakunya. "Dasar bodoh! Kau telah mempermalukan dirimu!" maki Mahesa pada diri sendiri. Selama menunggu Sita, Mahesa terus mengutuk dirinya. Sama sekali tidak mengerti kenapa emosinya sering terpancing jika Sita berurusan dengan Hendra, atau pria lain. Dia sadar jika ia cemburu. Sejak mendengar perkataan Anna, Mahesa sadar dirinya memang memiliki perasaan pada Sita. Sialan. Ting tong. Bunyi ponsel Sita mengejutkan Mahesa yang dengan cepat menoleh ke arah kursi disampingnya. Ia bisa melihat notif pesan masuk yang muncul di layar. Sesaat Mahesa ingin mengabaikan, tapi setelah melihat siapa pengirimnya, raut wajahnya langsung berubah. Tanpa merasa bersalah, ia meraih ponsel Sita dan melihatnya. Sialnya, wanita itu menggunakan kunci pola dan Mahesa hanya bisa membaca pesan yang muncul di layar ponsel. 'Sit, lu uda nyampe mana?' 'Kalo uda di jkt' 'Jgn lupa kabarin gw.' 'Ntar gw jemput lu.' 'Makan yuk.' Dan pesan - pesan itu berhasil membangunkan kembali emosi Mahesa. Yang tanpa sadar meremas ponsel Sita. Ia sampai menatap Sita yang baru saja membuka pintu dengan tajam. Membuat wanita itu kaget dan hampir menutup kembali pintu mobil jika tidak melihat benda di tangan Mahesa. "Eh, ada apa pak? Apa ada yang nelpon?" Sita menatap Mahesa bingung. Jika ada yang menghubunginya, kenapa Mahesa terlihat kesal? Bukannya seharusnya pria itu memberikan ponselnya dengan cepat? Atau ada penipu yang menelpon dan Mahesa mengangkatnya? Lalu Mahesa merasa kesal karena penipunya ternyata menyebalkan? Mungkin seperti itu. "Penipu ya pak? Yang nelpon? Aduh, memang tuh nomer saya suka di telponin orang gila pak. Saya aja heran. Maaf ya pak, jadi bikin kesel." Ujar Sita merasa bersalah dan buru - buru masuk. Ia lalu hendak mengambil kembali ponselnya saat Mahesa dengan cepat menjauhkannya. Membuat yang empunya jadi mengerutkan kening heran. "Pak.. saya.. mau.." "Pola hape kamu apa?" Tanya Mahesa dengan serius. "Hah?" "Password. Pola nya apa?" Kening Sita semakin keriting dibuat Mahesa yang menatapnya dengan raut 'katakan, atau aku akan membunuhmu'. Tapi, untuk apa ia memberikan polanya? Apa yang akan dilakukan pria itu dengan ponselnya? "Buat apa pak?" "Udah bilang aja." "Gak mau." Jawaban itu membuat Mahesa menyipitkan matanya. Menatap Sita seakan mengancam wanita itu untuk tidak melawannya. Namun, dengan mempertaruhkan hak asasi manusianya Sita menolak dengan tegas. "Maaf ya pak. Tapi, itu uda melanggar hak saya. Tolong kembalikan hape saya pak." Ujar Sita masih mencoba untuk sopan. Beberapa detik diam, Mahesa memikirkan sesuatu. Ia memperbaiki posisi duduknya dan kemudian memasukkan ponsel Sita ke saku celananya. "Gak mau." Mata Sita membulat lebar, tidak menyangka dengan tingkah Mahesa. Emosinya seakan tersulut, ia mencoba sabar. "Pak, maaf tapi saya butuh ponsel saya. Saya mau menghubungi seseorang." "Siapa?" "POLISI PAK! Ya ampun, Astaghfirullaah! Pak, tolong dong!" Ingin rasanya Sita berteriak seperti itu, namun ia menahannya. "Mungkin orang yang tadi menghubungi saya. Atau teman saya pak." "Gak." Jawab Mahesa tidak berubah dan mulai menghidupkan mobilnya. Gila nih orang, pikir Sita. Ingin sekali ia menyerang Mahesa. Mencabik - cabik wajah atasannya dan mencincangnya. Sepertinya bayangan Mahesa yang baik hati hanya khayalan semata. Pria itu tidak pernah dan akan pernah menjadi pria yang baik untuknya. "Pak, tolong dong. Itu hape saya, bapak kenapa sih? Daritadi begini? Saya salah apa? Perasaan habis dari nenek saya ga melakukan apa - apa." Kehilangan sedikit kesabaran, Sita mulai mengeluarkan kekesalannya. Mahesa tidak menjawab, ia sibuk mengetuk setir mobilnya. Menunggu dengan sabar, wanita di sampingnya menyerah. Tapi, tidak semudah itu. Sita yang mulai kesal akhirnya menarik tangan Mahesa, membuat pria itu terlonjak. "Kalo bapak gamau ngasi, saya ambil sendiri nih." Tantang wanita itu sama sekali tidak main - main. Awalnya Mahesa merasa kaget hingga akhirnya ia menerima tantangan itu. "Silahkan kalo kamu bisa." Mahesa menyeringai, memancing tatapan kesal Sita. Wanita itu tidak menjawab dan langsung memajukan tubuhnya ke arah Mahesa. Satu tangannya terulur ke arah kaki Mahesa yang dekat dengan pintu sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Sita mendesis kesal dan mencoba dengan tangan yang lain namun Mahesa kembali menahan tangannya. Mereka bergulat, dengan Sita yang tidak mau mengalah dan Mahesa yang tidak mau membiarkan. Wanita itu terus mendesak hingga menggunakan cara menarik tuas kursi Mahesa hingga pria itu terdorong ke belakang dan menyebabkan tawa Mahesa pecah. Namun, dengan begitu Sita lebih mudah untuk memajukan tubuhnya dan merangkak lebih dekat. Susah payah ia mencoba meraih saku celana Mahesa hingga tanpa sengaja, keseimbangan tubuhnya hilang. Dengan gerakan refleks, Mahesa menahan tubuh Sita secepatnya. Mencegah wanita itu terluka, namun yang terjadi malah hal yang lebih parah. Mereka berdua terkejut. Kedua pasang mata itu membulat sempurna, saat salah satu dari mereka menangkup benda kenyal besar yang memenuhi tangannya. Sementara yang lain merasakan sesuatu yang kuat dan besar telah menangkup salah satu bukit kembarnya. Tidak ada yang berani bergerak. Keduanya terlalu takut mengambil langkah, hingga akhirnya sang wanita dengan kecepatan cahaya menarik dirinya hingga menyebabkan kepalanya menabrak spion mobil dengan keras. Erangan kesakitan yang tertahan terdengar. Sita bergelung di kursinya, kedua tangannya memeluk kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di pangkuan. Rasa malu yang bercampur aduk membuatnya ingin menangis. Sialan. Sialan. Maki Sita dalam benaknya. Sekarang ia benar - benar.. "Eheem.." terdengar suara Mahesa berdeham. Pria itu kembali memperbaiki duduknya dari gerakan yang membuat mobil sedikit berguncang. Ia sedikit salah tingkah dan bingung harus berbuat apa. Ini bukan pertama kalinya ia menyentuh bahkan memegang benda itu secara langsung. Tapi, kali ini ia tidak mengerti kenapa ia merasa malu. Saat akan mengatakan sesuatu, mata Mahesa menangkap gerakan di sampingnya. Ia menoleh untuk melihat tubuh Sita bergetar. Lalu terdengar isakan tertahan. Sita menangis. Wanita itu menangis. Dan itu karena dirinya. Sedikit perasaan bersalah membuat Mahesa khawatir. Ia mencoba menyentuh wanita itu namun sepertinya itu hanya akan memperburuk keadaan. Sehingga yang ia lakukan adalah mengembalikan ponsel Sita dengan secepatnya. "Sita?" Mahesa mencoba memanggil Sita, namun wanita itu terlalu kesal untuk menjawab. "Ini, saya kembalikan." Ujar Mahesa sembari menyodorkan ponsel Sita. Bukannya berhenti, tangisan Sita semakin terdengar. Sementara Mahesa akhirnya diam dan mengurungkan niatnya. Membiarkan wanita itu menangis hingga sesenggukan. Lalu berikutnya, Sita menyeka airmata dan ingusnya. Terburu - buru membereskan barang - barangnya dan kemudian meminta ponselnya. "Kembalikan!" Sudah habis kesabaran Sita, ia tidak peduli jika Mahesa akan memecatnya. Sekarang ia hanya ingin pergi dari mobil ini. Ia tidak ingin melihat wajah pria ini lagi. "Kau mau kemana?" Untuk terakhir kali Mahesa bertanya. "Bukan urusanmu! Dan cepat kembalikan ponselku atau aku bersumpah akan membunuhmu!" To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN