Diana P.O.V Langit Jakarta sore itu seakan tahu isi kepalaku yang bagaikan warna abu-abu, menggantung, dan belum juga hujan. Di dalam mobil, aku menyandarkan kepala di jendela dengan pandangan kosong. Jasmine tertidur di kursi belakang, masih memeluk boneka kelinci kecilnya. Sementara Justin menyetir dalam diam, wajahnya sulit dibaca. Baru saja kami keluar dari kafe tempat kami membahas finalisasi desain rumah bersama Bagas dan teman-teman. Semua berjalan lancar. Rumah impian kami akan mulai dibangun akhir bulan depan. Satu lantai, konsep terbuka, dengan taman kecil untuk Jasmine bermain. Tapi tak satu pun dari itu bisa membuat dadaku lega. Ada yang menggantung di antara kami. Sesuatu yang tak selesai dibicarakan dan tak bisa lagi ditunda. "Jadi..." Justin akhirnya buka suara, masih me

