Diana P.O.V Pukul 13.30 siang. Jasmine baru saja selesai makan MPASI sesi keduanya—labu kuning kukus dan bubur ayam halus yang kubuat pagi tadi. Dia duduk manis di stroller-nya dengan tatapan puas, sesekali mengunyah sambil menatap langit-langit seolah sedang merenung. Aku duduk di kursi kerja dengan satu tangan mengetik email balasan kepada salah satu kolega, sementara tangan satuku sibuk menyuapi mulut mungilnya tadi. Beberapa dokumen sudah ditandatangani, dan stafku, Mbak Rika, tadi baru saja masuk membawakan amplop cokelat berisi surat penting yang harus aku bubuhi paraf. Jasmine, seperti biasa, hanya melirik sejenak lalu kembali fokus pada gigitan empuk dari teether-nya. Bocah ini benar-benar cocok jadi co-worker andalan. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tok! Tok! To

