Suara langkah sepatu laki-laki bertapak perlahan di lorong rumah tua itu. Diana duduk di atas kursi kayu di dekat jendela, matanya kosong menatap keluar, namun pikirannya berjalan aktif seperti seorang komandan strategi di medan perang. Sudah tiga hari ia berada di tempat ini. Setiap pergerakan, rutinitas, bahkan jadwal penjagaan telah ia hafal. Pria bertato yang dijuluki “Bajak” itu selalu bergantian jaga dengan dua pria lainnya yang tidak banyak bicara. Salah satunya cenderung pelupa, dan satu lagi gemar merokok hingga tidak sadar meninggalkan korek api sembarangan. Itu akan berguna. Diana tahu, ia tidak bisa selamanya menunggu Justin datang menyelamatkannya. Ia tidak tahu sejauh mana Justin akan menemukan petunjuk. Ia harus punya rencana. Tapi untuk itu, dia harus tetap bersikap seol

