Hujan mulai turun tipis di atas langit Jakarta sore itu, seolah alam pun ikut merasakan duka mendalam yang dirasakan seseorang. Justin Markham duduk terpaku di kursi mobilnya yang berhenti di basement apartemen Diana. Tangannya menggenggam erat stir kemudi. Matanya memerah, bukan hanya karena lelah tapi karena kenyataan yang baru saja menghantamnya tanpa ampun. Diana. Nama itu terus berputar dalam benaknya, tak henti. Kilasan wajahnya, suara tawanya, sorot matanya saat menatapnya, semua itu kini terasa seperti kenangan yang mengiris. Ia turun dari mobil perlahan. Kemejanya basah karena keringat dingin, dan langkahnya gontai saat menyusuri lorong apartemen menuju unit yang telah ia hafal luar kepala. Pintu terbuka setelah ia ketuk pelan. Mbak, pembantu yang membersihkan flat Diana memb

