Diana P.O.V Aku menatap punggung Adi yang meninggalkan ruanganku dengan langkah pelan, seolah ada beban yang tak mampu dia tanggung sendirian. Rasa sesak itu belum pergi dari dadaku sejak dia menceritakan semua hal menyakitkan tentang tunangannya tentang kejadian malam itu yang merenggut banyak hal dari gadis yang ia cintai. Aku bisa merasakan betapa ia mencintai gadis itu, karena walau luka itu bukan miliknya secara langsung, tapi dia memilih untuk tetap tinggal, untuk tetap memperjuangkan. Setelah pintu tertutup, aku menarik napas panjang. Aku berdiri dari kursi dan menuju jendela besar di ruanganku. Langit Jakarta siang itu mendung. Awan kelabu seolah mewakili suasana hatiku. Kepalaku masih berat memikirkan semua hal yang sedang terjadi. Kasus Sarah yang masih berjalan, klienku di la

