Diana P.O.V Aku baru saja mengakhiri meeting bersama Bu Anita, calon klien potensial yang cukup membuatku simpatik karna dia adalah korban KDRT. Pembicaraan kami cukup panjang dan melelahkan, tapi berjalan lancar. Jasmine tertidur di stroller-nya setelah sempat kugendong sepanjang diskusi. Aku melirik jam tanganku dan menyenderkan tubuhku sejenak di kursi kafe itu sambil menikmati sisa lemon tea-ku yang mulai menghangat. Pesanku pada Adi sudah terkirim, aku hanya perlu menunggu dia membawa mobilku dari kantor. Aku sedang akan berdiri untuk membayar makanan ketika sebuah suara yang sangat kukenal memanggil namaku. “Aku bayarin,” ujar Justin sambil meletakkan tangannya di bahuku. Aku menoleh, lalu tersenyum lelah tapi senang. “Kamu bisa-bisanya muncul kayak hantu,” kataku pelan. Justin

