Diana P.O.V
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, aku sudah sampai di basement apartment. Dengan cepat kaki ku melangkah menaiki lift yang kebetulan kosong. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Jasmine.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat dilantai 10, dimana flatku berada. Pintu flat ku yang terbuka disertai suara tawa para sahabatku membuatku tenang.
"I'm Home!" ucapku sembari melepaskan heels yang sudah seharian ini ku pakai. Setelah mencuci tangan, aku menghampiri Jasmine. Anak ku yang saat ini menatapku dengan senyuman diwajahnya yang menggemaskan.
"Apa anak mama ini menjadi anak baik hari ini hmm?" tanyaku sembari menggendong dan mencium wajahnya. Bagaikan mengerti dengan pertanyaanku, Jasmine berceloteh dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti olehnya saja.
"Lo udah makan belum kak? Makan diluar yuk!" ajak Gwen yang ku jawab anggukan. "Gw ganti baju dulu ya, bibi mana?" tanya ku. "Bibi tadi udah izin pulang pas gw dateng, kak." jawab Isabella.
"Iya, gw emang bilang ke dia kalo misal Jasmine udah ada yang jaga, gapapa dia pulang." ujarku. "Yaudah, Di, lo buruan ganti baju! Gw udah laper nih.." kata Rania yang ku setujui.
Aku segera mengambil sweater oversize cream dan rok rajut dengan warna senada lalu tidak lupa mengambil kain untuk ku menggendong Jasmine yang berwarna senada.
"Di, si Jasmine ga mau pakai stroller aja?" tanya Rania yang ku jawab gelengan. "Gw belum mau pake stroller kalo bukan di kondisi tertentu lagian gw juga kangen sama anak gw." jawabku dengan santai.
"Menurut gw, lo tetep bawa kak. Biar nanti kalo dia tidur, ga kena makanan lo." saran Elysa yang pada akhirnya ku setujui.
Setelah memakai sedikit bedak dan lipbalm, akupun memakai jam tangan berwarna coklat dan segera memakaikan Jasmine kain gendongan yang sudah lebih dulu ku simpul.
"Yuk lah guys!" ajak Elysa.
Kami berlima mulai melangkah menuju lift dan masuk saat pintu lift terbuka. Terjadi keheningan sebentar, akupun menatap Jasmine yang saat ini terlihat begitu nyaman dalam gendonganku.
Ponselku bergetar, sepertinya ada notifikasi masuk. Dengan perlahan ku nyalakan, ternyata ada notif dari chat mommy.
'Sayang, mommy dan daddy akan segera ke Indonesia sekarang. Mungkin jam dua belas siang besok kami sampai. Tapi tidak apa, kamu bisa bekerja dan kami langsung ke flat mu karna kami ingin bertemu Jasmine, cucu kami. Selain itu, daddy mu berencana akan membangun rumah di Jakarta jadi kita akan lebih sering bertemu nanti. I miss you, my girl..'
Aku tersenyum lalu mengetikan bahwa aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan kedua orangtua ku.
"Mau makan apa nih kita?" tanya Gwen. "Gw lagi mau yang pedas deh, tapi jangan dipinggir jalan, kasian Jasmine nanti ngehirup asap." jawab Isabella.
"Iya ya, gw juga mau yang pedes-pedes gitu. Enaknya apa menurut lo kak?" tanya Elysa. "Mie Gac*an gas ga?" tanya Rania. "Tapi yang ada ruang indoor nya, gw takut ada yang ngerokok nanti Jasmine kena asapnya." jawab ku.
"Okay, Mie Gac*an!" seru Elysa yang langsung semangat saat pintu lift terbuka.
"Pake mobil gw aja.." ujar Rania sambil mengeluarkan kunci mobilnya yang memang bermerk Lex*s. Kami segera masuk, aku memilih duduk dikursi penumpang didepan.
Jasmine begitu tenang, apalagi setelah AC dinyalakan, dia langsung tertidur. Sepertinya dia juga kenyang karna sebelum pergi tadi, dia memang sedang menyusu. Aku juga sudah membawa persediaan s**u jika nanti dia lapar.
Hanya menempuh jarak selama lima belas menit, mobil yang kami naiki ini sudah berhenti dilahan parkir restoran Mie Gac*an. Aku segera meletakan Jasmine didalam stroller kemudian kami masuk kedalam.
"Selamat datang, untuk berapa orang?" tanya pelayan disini. "Untuk lima, berikan kami ruangan indoor ya!" pinta Rania. "Baik, silakan dipesan terlebih dahulu." ujar pelayan itu.
Kami langsung memesan makanan yang ingin kami makan. Aku memesan Mie Hompimpa level dua karna besok mommy akan datang dan aku tidak mau maag ku kambuh karna makan pedas. Selain itu aku juga memesan lemontea dan dua porsi udang keju karna aku memang suka dengan side dish satu ini.
"Lo tumben kak, biasanya level empat." kata Gwen. "Iya, besok nyokap gw mau dateng. Dari pada kena ceramah panjang kali lebar mendingan jaga pola makan aja." sahutku.
Ponselku menyala, seseorang yang tidak ku kenal mengirimkan ku pesan.
'Kamu cantik, aku menyukaimu Nona Pengacara.'
Alisku tertaut, ini pasti kerjaan orang iseng.
"Nananana hufftttt nananana!"
Kami semua tertawa mendengar celotehan Jasmine yang begitu lucu. Aku menciumi wajah putriku yang cantik ini, ah.. rasanya aku bahkan tidak mau mengakui kalau dia hanyalah anak angkatku, aku merasa dia memanglah putriku.
"Anak mama yang cantik, besok grandma dan grandpa datang. Harus jadi anak baik ya.." ujarku sambil mengelus rambutnya.
Tidak lama kemudian, pesanan kami datang. Sebelum menyantapnya, kami meminta tolong agar pelayan membantu kami untuk berfoto, setelah itu kami mengirimkan foto itu pada orangtua kami.
Ting!
'Nona Diana, saya perwakilan dari The Crown Property berniat untuk mengundang anda datang sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh CEO perusahaan kami. Apabila anda berminat, anda bisa segera membalas pesan ini.'
"The Crown Property? Itu bukannya perusahaan yang tadi jadi lawan gw ya?" gumamku menatap pesan ini. Segera ku tangkap layar kemudian ku berikan pada Pak Nas selaku atasanku, kali ini aku memerlukan pandangannya.
"Kenapa lo, kak?" tanya Elysa. "Gw dapet undangan ke The Crown Property. Katanya CEO nya mau ketemu sama gw. Tapi mereka kan lawan gw di persidangan." jawabku dengan ragu sembari menyuap mie dihadapanku.
"Menurut gw sih, lo terima aja kak. Lo kan bilang ke kita kalo klien lo itu cuman jadi kambing hitam, ini bisa jadi kesempatan buat lo untuk nyelidikin, gw yakin kok ada orang dalam yang ikutan main tapi dia ga bisa ketahuan aja." usul Isabella.
"Gw juga setuju aja kak, tapi buat lebih pastinya lo hubungin atasan lo. Kan Pak Nas lebih senior, jadi pandangannya juga bisa jadi pertimbangan buat lo." ujar Gwen.
Kamipun lanjut menyantap pesanan kami. Sesekali aku mengawasi Jasmine yang saat ini masih tertidur pulas didalam stroller.
"Gimana rasanya jadi mama kak?" tanya Gwen yang membuatku menghela nafas. "Gw baru beberapa hari jadi emak-emak. Sejauh ini sih not bad lah ya, gw pulang kerja jadi ada yang nyambut dan rasa capek gw hilang kalo udah ketemu Jasmine." jawabku sambil memakan udang keju pesananku.
Kami lanjut mengobrol sampai tiba-tiba Jasmine terbangun. Dengan gesit, aku menggendongnya kembali sampai dia tenang. Namun sepertinya dia tidak mau tertidur kembali, alhasil aku meletakannya didalam stroller membuatnya mulai berceloteh dengan bahasa bayi yang hanya dimengerti olehnya sendiri.