Pukul 19.00 malam, Bima masih belum memejamkan matanya. Padahal tubuhnya sudah sangat lelah. Berulang kali ia merebahkan diri, lalu duduk kembali di atas kasur. Entah apa yang membuatnya tidak bisa tidur dengan cepat. Bima beranjak dari tempat tidur menuju meja kerjanya yang berada di kamar. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci meja lalu kembali duduk di atas kasur. Sesuatu yang dipegangnya adalah surat dari Denisa. Bima belum sempat membacanya sejak tadi. Sambil menghela napas, perlahan Bima membuka surat tersebut. Jantungnya sudah berdetak tidak normal. Merasa takut untuk membaca surat itu. Tapi rasa penasaran mampu meredam rasa takutnya. Bima membaca dengan seksama surat yang ditulis oleh mendiang kekasihnya. "Kak Bima, maafin aku ya. Mungkin Kakak baca surat ini setelah aku gak ada

