BAB 2 — Toko Tua dan Sebuah Suara dari Kegelapan

588 Kata
Hujan belum reda saat Reyhan sampai di depan toko tua itu. Plangnya sudah nyaris copot, huruf-hurufnya tertutup lumut dan karat: “Menara Amarta”, entah toko apa ini, tapi entah kenapa, kakinya seperti dipaksa melangkah ke sana. > "Aneh, kayak... ada yang manggil," gumamnya pelan. Pintu toko terbuka sendiri—mengeluarkan derit panjang, seperti mengeluh karena dibangunkan dari tidur puluhan tahun. Di dalam, aroma debu, kayu tua, dan sesuatu yang lebih dalam lagi—bau waktu yang terjebak. Rak-rak kayu berjajar seperti labirin. Tapi tak ada barang dagangan seperti di toko biasa. Yang ada hanya benda-benda aneh: jam pasir retak, bola kaca berasap, buku-buku dengan judul yang tak bisa dibaca. > "Selamat datang, Reyhan." Suara itu... datang entah dari mana. Suara pria tua, serak, tapi hangat. Reyhan membalikkan badan, tapi toko itu kosong. > "Siapa—siapa kau?!" > "Aku adalah bagian dari 'Sistem'. Dan hari ini, kamu dipilih." Tiba-tiba, semua cahaya padam. Gelap menyelimuti seluruh toko. Lalu, di hadapan Reyhan, tiga bola cahaya melayang—masing-masing menyala lembut dengan warna berbeda. > "Kau manusia yang paling gagal hari ini, tapi juga paling layak. Karena hanya yang jatuh sedalam ini, yang bisa naik setinggi mungkin." > "Inilah tiga hadiah awalmu, Reyhan." 1. Panggilan Darah: Cultivator Bebas Lv. 1 Cahaya merah menyala. Sosok samar muncul—pria berambut putih dengan aura membakar. > “Ketika kau dalam bahaya, aku akan datang. Sekali saja. Tapi cukup untuk membelah dunia.” 2. Pil Peledak Energi Bola kedua menyala biru. Sebuah pil muncul, berdenyut seperti jantung. > “Minumlah saat kau di ambang kematian. Maka seluruh kekuatanmu akan meledak ribuan kali lipat, meski hanya sementara.” 3. 10.000 Batu Roh Kelas Rendah Bola terakhir menyala emas. Ratusan batu kecil berkilau jatuh dari udara, seperti hujan bintang. > “Ini hanya permulaan. Setiap langkah, setiap keberanian, akan memberimu kejutan lebih besar.” Reyhan terduduk. Matanya basah. Tapi bukan karena sedih. Untuk pertama kalinya... ada harapan. > "Apa... aku benar-benar dipilih?" > "Sistem tidak pernah salah. Dan kau adalah ‘kepala keluarga’ dalam naskah takdir yang baru." Tiba-tiba, suara keras menggema dari luar toko. > "Cepat keluar! Kami tahu kau sembunyi di situ, Reyhan!" Itu suara preman kos—datang bersama dua orang lainnya, membawa pentungan dan wajah penuh marah. > "Waktunya ujian pertamamu." Sistem menyala dalam benaknya. Sebuah panel virtual muncul di depan matanya: --- [MISI AWAL: Pertahankan Dirimu!] > Tiga lawan datang untuk menghabisimu. Gunakan Pil Peledak Energi atau panggil Cultivator. Hadiah: Aktivasi Skill Awal + Upgrade Darah Pejuang Lv.1 --- Tanpa ragu, Reyhan menggenggam pil itu. Tapi sebelum dia meminumnya... ia memilih opsi lain: > "Panggil... Cultivator!" Cahaya merah menyala membelah toko tua. Suara petir menyambar. Sosok pria berambut putih turun dari langit-langit toko. Wajahnya dingin. Matanya bersinar. > "Tugasmu hanya satu..." "Hajar mereka sampai ingat kenapa hidup ini harus takut padamu." Ketiga preman tak sempat bicara. Dalam sekejap, dua orang terlempar ke luar toko, dan yang terakhir... sujud, memohon ampunan. Reyhan berdiri di belakang Cultivator itu dengan lutut gemetar, tapi dadanya berdegup dengan rasa yang belum pernah ia rasakan: kuasa. > "Mulai sekarang... aku bukan Reyhan yang dulu." Saat Cultivator memudar, meninggalkan jejak cahaya, panel sistem muncul lagi. > [Level Naik: 1 → 2] [Stat Bertambah: Ketahanan +3 | Keberanian +5 | Aura +1] [Quest Baru Terbuka: Kembali dan Ambil Hakmu!] > "Saatnya pulang. Ada ‘keluarga’ yang menunggu di masa depan, dan musuh yang sedang mengintai di masa lalu." Dan toko itu... menghilang. Yang tersisa hanyalah Reyhan, berdiri di bawah hujan, dengan mata tajam dan napas penuh tekad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN