Reyhan tidak tidur malam itu. Matanya terbuka di balik gelap kamar kos yang sempit, menatap langit-langit yang tak pernah menjawab apa-apa. Simbol itu masih ada. Kecil, tak bergerak, tapi terasa seperti sedang memperhatikannya.
🔄 REBOOT
Ia mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya bug. Mungkin hanya halusinasi. Tapi semakin ia menolak, semakin dalam perasaan tak nyaman itu merambat. Dan ketika pagi datang, perasaan itu belum juga hilang. Justru bertambah.
Pagi itu Raine datang seperti biasa—membawa dua roti isi dan teh manis dalam botol plastik. Senyum gadis itu masih ada, tapi ada sesuatu yang membuatnya terasa... kosong. Seperti cangkang dari sosok yang Reyhan kenal.
"Rey," ucapnya pelan. "Kamu nggak mimpi aneh tadi malam, kan?"
Reyhan menoleh. "Kenapa tanya gitu?"
Raine mengangkat bahu kecilnya. "Nggak tahu. Aku ngerasa... kayak aku bukan aku yang kemarin. Pas bangun, aku merasa kosong. Kayak... direstart."
Reyhan menatap wajahnya lekat-lekat. "Kamu masih ingat siapa aku?"
"Ya," jawab Raine cepat. "Kamu Reyhan. Cowok yang selalu duduk di pojok kelas. Yang suka kasih tahu aku bedanya awan sirus dan kumulus... Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi aku lupa kapan pertama kali kita ngobrol. Aku lupa warna sepatu kamu waktu kita pertama ketemu. Aku lupa rasa roti pertama yang kamu bagi ke aku..."
Reyhan terdiam. d**a kirinya terasa sesak. Bukan karena sedih—tapi karena takut. Takut kehilangan versi Raine yang ia cintai.
Beberapa hari berikutnya berjalan aneh. Orang-orang di sekitar mereka tampak biasa saja. Tapi Raine mulai sering bengong. Ia menulis di buku catatannya, tapi tak tahu apa yang ia tulis. Bahkan kadang, ia memanggil Reyhan dengan nama lain.
"Rio," katanya suatu hari. "Eh—maaf, Rey."
"Kamu kenal Rio?" tanya Reyhan pelan.
Raine menggeleng. "Nggak. Aku... cuma mimpi tentang dia semalam."
Reyhan mencatat itu diam-diam. Dan setiap malam, simbol kecil itu muncul lagi di sudut penglihatannya:
> [Unit Raine tidak stabil. Sinkronisasi terganggu. Reset 32%...]
> [Subjek 018 terlalu terikat secara emosional. Evaluasi ulang diperlukan.]
Ia mulai mencari jawaban. Tapi semua pencariannya mentok. Tidak ada yang tahu soal sistem. Tidak ada yang tahu tentang "subjek". Tidak ada yang tahu... tentang Raine.
Sampai suatu sore, saat hujan gerimis membasahi atap-atap kota dan mereka duduk berdua di halte—tempat pertama kali mereka bertemu.
Raine diam lama. Tangannya menggenggam tangan Reyhan erat. Jari-jarinya gemetar.
"Rey... kalau aku ternyata bukan manusia biasa, kamu bakal ninggalin aku?"
Reyhan menatap matanya. "Kamu Raine. Itu cukup buatku."
Raine tersenyum. Tapi senyum itu... retak. Ia menunduk. "Kadang aku ngerasa... aku nggak seharusnya ada. Kayak... aku diciptakan dari sisa."
> [Unit Raine memicu data terlarang. Proses penarikan darurat 51%...]
"Rey... kamu tahu nggak, ada mimpi yang sama tiap malam. Aku duduk di ruangan putih. Ada anak kecil bermata biru. Dia bilang aku... gagal."
Reyhan menggenggam tangan Raine lebih erat. "Kamu nggak gagal. Kamu bertahan. Dan itu cukup."
Langit sore itu berubah kelabu. Gerimis berhenti. Angin seolah tak berani bergerak. Dan di seberang jalan... seorang anak kecil berdiri.
Mata biru. Senyum kecil. Pakaian putih.
"Subjek 018," katanya. Suaranya bergema, padahal tak ada pengeras suara.
Reyhan berdiri. "Siapa kamu?!"
"Pengamat. Penjaga jalur. Penyeimbang. Tapi bukan kamu yang harus menjawab."
Anak itu menatap Raine. "Siapa kamu?"
Raine memucat. Bibirnya gemetar. Suaranya hanya sebisik angin. "Aku... nggak tahu lagi."
> [Sinkronisasi terputus. Reboot penuh dalam 5... 4... 3...]
"Berhenti!" teriak Reyhan. "Jangan tarik dia! Dia bukan objek! Dia manusia!"
Anak itu memiringkan kepala. "Manusia? Tapi ia bukan bagian dari realitasmu. Ia diciptakan oleh pilihanmu. Ia hidup karena kamu menolak kehilangan."
Raine menunduk. Air mata menetes.
> [2... 1... Reboot dimulai.]
Cahaya putih menyelimuti tubuh Raine. Reyhan memeluknya, menolak melepaskan.
"Aku nggak akan biarin kamu pergi. Bahkan kalau dunia bilang kamu nggak nyata. Kamu nyata buatku."
Cahaya makin terang. Anak kecil itu mengangkat tangan. "Terlambat."
Tapi sesuatu berhenti. Di tengah cahaya itu, suara baru muncul. Lembut, dalam, dan tak asing.
> [Sistem Re:Reyhan aktif. Override dimulai. Otoritas penuh diberikan pada Subjek 018.]
Anak kecil itu membelalak. "Tidak mungkin. Otoritas penuh hanya bisa diberikan jika..."
Reyhan menatapnya. Mata Reyhan kini menyala biru.
"Kalau sistem ini muncul karena pilihanku... maka aku juga bisa menyelamatkan dia."
Dunia terdiam.
> [Override berhasil. Reboot dibatalkan. Unit Raine diamankan di bawah Subjek 018. Protokol baru aktif.]
Dan saat cahaya memudar, Raine masih ada di pelukan Reyhan.
Masih bernapas. Masih hangat. Masih Raine.
Tapi di balik semua itu, langit retak sedikit.
Karena sesuatu... atau seseorang... sedang menunggu giliran dibangkitkan.