“Bukannya lu sudah diterima di kampus swasta di Indo ya? Kok bisa di sini?” Nirina menghela nafasnya panjang. Kalau diingatkan mengapa dirinya di sini sedangkan di Indonesia sudah didaftarkan pada kampus pilihan papanya, Nirina merasa sedikit menyesal. Tidak enak meninggalkan papanya begitu saja. Seburuk apa pun sikap dan perilakunya, tetap saja Haidar itu papanya. Orang yang berperan besar dalam menghadirkannya ke dunia ini. “Ini pilihan, keinginan, dan cita-cita gua,” jawab Nirina tersenyum tipis. Ya, ini pilihannya. Tidak sepantasnya Nirina menyesalinya barang sedikit pun dengan alasan apa pun. “Lu ambil apa di sini? Eh jangan bilang kalau kita satu universitas?” tanya pria itu memicing. Kalian benar jika sosok yang sedari tadi berbicara dengan Nirina adalah Regan. Entah takdir baik

