Nirina diserang dilema. Memberi Tio kesempatan dengan kemungkinan akan merasakan sakit lagi di kemudian hari, atau menyudahi semuanya demi kondisi hati. Dua pilihan sulit yang tentu saja pasti ada keuntungan dan kerugiannya. Nirina tidak bisa membohongi hatinya yang berkata ingin kembali. Namun ada bagian dari logikanya yang menentang. Saat kembali, tidak ada jaminan Tio tidak akan mengulangi menyakitinya lagi. Menolak memberi kesempatan, sama saja dengan melukai hatinya juga. Memaksa perasaannya untuk berhenti mencinta. Jadi, Nirina harus menjawab apa? “Na? Lu enggak bisa kasih gua kesempatan lagi ya? Gua enggak masalah kok, gua juga tahu diri. Rasa sakit yang sudah gua ciptakan sudah terlalu dalam dan tidak akan sembuh dengan cepat,” ucap Tio yang menyadari kebimbangan Nirina. Walau Tio

