Nadhifa berdiri di balkon apartemennya. Dia memejamkan mata dan menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Dia masih memakai mukenah, sejak sebelum matahari terbit dia sudah berada disini dengan secangkir teh yang sudah dingin. Dia menikmati matahari terbit dengan caranya sendiri. Sesudah melaksanakan shalat subuh, dia langsung membuat teh dan duduk di balkon. Hangat matahari sudah menyentuh wajahnya. Nadhifa menikmati saat-saat itu, keindahan warnanya tidak mengalahkan matahari terbenam. Dia selalu menyukai melihat matahari terbit dan tenggelam jika memiliki waktu luang untuk menikmatinya. Tiba-tiba saja, dia mengingat nama tetangga apartemennya yang merupakan nama lain dari matahari terbenam. Senja, nama yang indah untuk di ucapkan. Nadhifa beranjak dari posisinya dan membungkuk

