Roy sudah di amankan setengah jam lalu oleh pihak yang berwenang. Mereka membiarkan Atahala duduk sendiri di sebuah kursi ysng menghadap ke jendela. Athala mengepalkan tangannya sampai memutih, dia menahan emosinya. Dia tidak senang karena terlaluncepat bertanya kepada Roy. Dia merasa masih ada yang di sembunyikan. Lagipula, Roy belum terbukti bersalah. Tuduhan dan kesaksian rekannya bisa saja di rekayasa dan itu bisa menjadikan bumerang untuknya. Athala melepaskan pin, alat komunikasi dan juga pistol miliknya. "Aku ingin keluar sebentar." "Berapa lama?" Dia berpikir senejak, "Selama dua jam." "Baiklah, segera kembali." Athala langsung mrlangkah keluar. Dia memakai pakaian yang sama sekali tidak menampakkan dirinya. Dia sekarang ingin pergi ke tempat-tempat seni untuk menenangkan pi

