Anara masih menatap ke arah Agnetha dengan begitu tajam. Wajahnya masih memanas dan bibirnya masih ingin mengeluarkan sejuta kata kepada temannya itu. “Ini, lihat!” teriak Anara sembari menunjukkan satu lembar kertas yang berisi nota pembelian. Agnetha membisu. Bahkan, dia tidak terpikirkan satu kata pun untuk menyanggah tuduhan itu. “Lah, kan benar itu nota,” jawabnya dengan bibir yang sangat bergetar. Agnetha sangat ketakutan dengan situasi saat ini. Anara berdiri, kemudian mendekat ke arah Pricilla yang masih sibuk dengan seblak dan kompornya. “Aku tahu itu nota, tapi kenapa kamu mengubahnya?” tanya Anara dengan begitu sarkas. “Mengubah? Bagaimana bisa aku mengubahnya?” bela Agnetha ikut berdiri. Di tengah-tengah perdebatan itu, Pricilla menengahi. Dia mengajak kedua temannya

