Kriet... Haura sontak mematikan shower yang sedang mengguyur tubuhnya, saat mendengar pintu kamar mandi dibuka. Ia menoleh sejenak ke belakang, menatap Jeffrey yang sedang membuka kemejanya, setelah menutup pintu kembali. Haura kembali menatap lurus ke depan, sembari memeluk tubuhnya sendiri. "Apa yang kau pikirkan tentang Yongtae?" tanya Jeffrey, sembari meletakan kemejanya yang sudah dilepas pada keranjang baju kotor. "Dia teman yang baik," ucap Haura dengan jujur. "Oh, aku kira kau akan bilang, calon penggantimu," "Kau mau aku bilang begitu?" Jeffrey terdiam, namun terdengar giginya bergetak. "Bisakah kau bicara dengan tenang, dan menggunakan pikiran rasional? Apa kau tidak bisa begitu?" tanya Haura. "Bisakah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku tanpa emosi?" Lagi, Jeffrey tidak

