Haura tercenung, namun ia kemudian terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. "Kau itu tampan, baik, pekerja keras, dan... masih bujangkan? Haha. Kau pantas mendapat seseorang yang jauh lebih baik dariku," tutur Haura. Yongtae menghela napas. "Aku tahu kau akan bilang begitu. Baik tidaknya seseorang, tidak dilihat dari itu, dan bukan dari masa lalunya, tapi bagaimana dia sekarang," "Yongtae, aku akan sangat tertekan kalau bersama orang sepertimu," ucap Haura. "Aku akan terus merasa kekurangan, dan merasa berjarak, karena perbedaan kita yang sangat mencolok. Terlebih sudah jelas, aku sudah menikah. Kalaupun aku cerai, masak kau mau menikah dengan janda?" "Memang kenapa? Sudah aku bilangkan? Baik buruknya seseorang tidak dilihat dari hal seperti itu, juga masa lalunya," suara Yongtae tanp

