Aku gapapa, gak bisa melihat keindahan dunia. Yang aku takutkan, aku gak bisa melihat senyum kamu lagi.
_Ali
***
Ali membuka matanya. Ia melihat langit-langit kamar dan memperhatikan sekitarnya. Rupanya ia terbaring lemah di lantai. Sepertinya ia tadi pingsan. Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Namun ia merasa cukup lama. Tapi ia masih dalam keadaan tergeletak di lantai, itu artinya Aisyah gak melihatnya. Syukurlah, dengan begitu ia gak akan membuat Aisyah jadi khawatir.
Ali berusaha bangkit meski kesusahan. Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya. Belum lagi tangan kanannya yang terasa semakin perih. Kepalanya juga masih sakit. Setelah ia mampu berdiri, ia melangkah menuju pintu kamar. Meski kesulitan karena ia masih sangat lemah, tapi ia tetap menguatkan diri. Semua itu ia lakukan demi ingin menemui Aisyah dan segera meminta maaf.
Ali sudah di depan pintu kamar. Ia segera membuka pintu. Pintu pun terbuka. Ia keluar dan berjalan mencari Aisyah. Ia tidak mendapati Aisyah di lantai bawah. Ali naik ke lantai atas. Melangkah dengan hati-hati menaiki satu persatu anak tangga. Tubuhnya lemas, jika ia salah langkah ia bisa terjatuh.
Ali mencari Aisyah ke atas, karena ia yakin istrinya ada di sana. Karena biasanya, jika Aisyah sedang ngambek pasti selalu ke tempat itu. Sebenarnya, bukan hanya hari ini Aisyah marah padanya. Tapi dalam bulan ini sangat sering. Namun permasalahannya tidak seberat sekarang. Hari ini ia memang keterlaluan. Dan saat ini, pasti Aisyah ditempat yang sama. Ditempat saat cewek itu merasa sedih dan marah padanya.
Ali sudah sampai di lantai atas dan melangkah ke arah kamar tamu. Di situlah tempat istrinya bersembunyi dan menenangkan diri. Sampai di situ, Ali membuka pintu kamar. Dan mendapati Aisyah. Istrinya itu tengah berbaring dalam keadaan mata tertutup. Aisyah sedang tertidur. Ali tersenyum di depan pintu. Istrinya tertidur dengan cantik. Lalu ia menghampiri Aisyah.
Ali berjongkok di samping tempat tidur. Sejenak, ia memperhatikan Aisyah. Pipi Aisyah terlihat basah, pasti menangisinya. Ia mengusap pipi Aisyah dengan pelan menggunakan tangan kirinya. Lalu berpindah ke kepala Aisyah. Ia mengusapnya dengan pelan dan perlahan. Supaya Aisyah tidak terbangun.
Ali mendekati telinga Aisyah lalu berbisik, "Aku minta maaf. Aku pantas kamu katakan b******n. Aku juga layak kamu benci. Tapi tolong, jangan benci aku untuk selamanya," kata Ali. Ia bersungguh-sungguh mengatakan hal itu. Ia gak mau Aisyah membencinya. Marah boleh, tapi Ali mohon jangan benci dirinya. Ia gak mau dibenci. Dibenci itu menyakitkan dan menyiksa.
Ali menggapai kepala Aisyah lalu mengusapnya. Kemudian ia cium. "Tidur yang nyenyak. Sekali lagi, maafkan aku," ucapnya.
Setelah berbicara, Ali menggapai kepalanya. Sakit kepalanya tiba-tiba terasa semakin berbisa. Membuatnya semakin tersiksa. Lama-lama ia sudah tak mampu menahannya. Ia segera beranjak naik ke atas tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Aisyah. Mungkin dengan ia rebahan rasa sakitnya bisa mereda. Biasanya sih begitu. Semoga saja iya.
Kini ia sudah tak terfokus pada Aisyah lagi. Ia sibuk dengan dirinya dan rasa sakitnya. Tubuhnya terasa lemas dan panas dingin. Keringat juga mulai bercucuran di pelipisnya. Dengan cepat ia mengusapnya. Bukan itu saja, pandangan matanya tiba-tiba jadi kabur. Ia cepat mengucek matanya berkali-kali. Syukur, pandangannya kembali normal.
Ali gelisah di atas tempat tidur. Sakit pada tangannya sudah tidak ia pedulikan lagi. Karena sakit kepalanya jauh lebih menyiksanya. Ia mendudukkan dirinya. Percuma saja ia berbaring. Karena kepalanya malah bertambah sakit.
Baru saja Ali duduk, tiba-tiba tetesan darah jatuh di bajunya. Ali terkejut melihat darah itu. Darah itu menetes dari hidungnya. Ia pun meraba hidungnya. Ia melihat tangannya, ada cairan warna merah dan berbau amis. Sudah bisa dipastikan. Ia sedang mimisan sekarang.
Ali menggapai tisu yang terletak di meja samping tempat tidur. Ia mengambil beberapa lembaran tisu. Dengan tergesah-gesah ingin membersihkan darah di hidungnya. Cukup lama ia melakukan hal itu. Dan sudah banyak pula lembaran tisu yang digunakannya. Akan tetapi pendarahan di hidungnya juga tidak berhenti. Ia terus mimisan. Ali jadi takut Aisyah melihatnya dalam keadaan seperti ini. Istrinya pasti sedih dan khawatir jika tahu. Ia harus bertindak cepat, agar Aisyah tidak keburu bangun.
"Ali, kamu kenapa?" tanya Aisyah yang baru saja terbangun, dan kini tengah menatap Ali dengan kecemasan.
Aisyah menyentuh darah di hidung Ali. "Kamu berdarah," ucapnya. Sejatinya ia panik, tapi masih dalam kebingungan. Jadi ia masih bertanya-tanya dengan keadaan suaminya.
Ali berhenti dari kesibukkannya. Ia membiarkan tetesan mengalir dari hidungnya. Bodoh, kenapa ia tidak sadar kalau Aisyah terbangun. Dan kini, Aisyah sudah tahu keadaannya. Ia harus bilang apa sekarang? Aisyah pasti mencemaskannya. Semua di luar dugaan.
"Kamu juga pucat. Kamu kenapa Li?" tanya Aisyah lagi. Ia menyentuh wajah Ali. "Badan kamu panas. Apa kamu sakit?" Mata Aisyah sudah memerah. Tak lama lagi, air mata akan tumpah di pipinya.
Ali hanya diam sambil sesekali mengusap darah yang sudah mau menyentuh bibirnya. Ia gak tahu mau menjawab apa. Ia hanya bungkam.
Tik. Setitik air mata jatuh di wajah Aisyah. Ali hanya melihat, tanpa mengusap air mata itu. Ali hanya terus diam mematung. Tanpa tahu harus berbicara apa.
"Ali kamu kenapa?" tanya Aisyah khawatir sambil menggoyangkan pundak Ali. "Jawab aku Li!" paksa Aisyah.
Tidak ada jawaban lagi. Ali terus diam. Bahkan sekarang kedua belah pipi Aisyah sudah dibasahi air mata. Cewek itu sedih, cemas, bimbang, khawatir, dan sangat takut Ali kenapa-napa.
"KAMU BAIK-BAIK AJA 'KAN LI?!" Kecemasan Aisyah semakin bertambah. Karena Ali diam saja, dan membuatnya semakin cemas, serta bertanya-tanya tentang yang terjadi pada suaminya.
Ali menatap istrinya. Ia melihat kecemasan di mata Aisyah. Sampai kapan ia membuat Aisyah cemas? Enggak, ia harus membuat Aisyah tidak mengkhawatirkannya.
Ali berusaha untuk tegar. Ia ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik aja. Ia benar-benar gapapa. Ia gak lemah. Ia kuat. Meski nyatanya ia hanya pura-pura.
Ali mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Lalu ia bilang, "Aku gapapa," ucapnya dan ia senyum lagi. Semoga saja Aisyah percaya padanya.
"Aku hanya mimisan," tambah Ali. Ia menggapai pipi Aisyah. "Jangan khawatir, aku hanya sedikit berdarah. Tenang aja." Dengan santai ia berkata begitu.
"Kamu bohong!" Aisyah gak percaya. Ia langsung memeluk tubuh Ali dengan erat. "Aku gak mau kamu sakit Li." Dan air mata Aisyah kembali tumpah dalam hitungan detik. "Hiks ...." Aisyah menangis dalam dekapan Ali.
Ali memejamkan matanya sambil mengusap kepala Aisyah tanpa berkata. Ia membiarkan Aisyah menangis dipelukannya. Ia juga merasa lebih baik saat dipelukan Aisyah. Ia merasa lebih tenang saat didekat Aisyah. Sakit kepalanya juga mulai berkurang. Mungkin Aisyah adalah kekuatanya. Jadi, ia terasa pulih saat didekat Aisyah.
Aisyah melepaskan pelukannya. "Kamu rebahan ya," ucap Aisyah. Ali membalasnya dengan senyuman. Ali pun merebahkan tubuhnya. Ia menurut kali ini.
Aisyah menggapai kotak tisu. Ia meletakkan kotak tisu itu di dekatnya. Ia pun menarik beberapa lembar tisu dan mulai mengelap darah yang ada di hidung Ali. Lalu ia menyumbat hidung Ali, supaya darah berhenti keluar.
"Kamu kenapa bisa mimisan?" tanya Aisyah. Ia bimbang sekali. Ia khawatir dengan kondisi Ali saat ini. Ia takut Ali sakit.
"Gak tau," jawab Ali.
"Kita ke dokter ya. Aku takut kamu sakit parah."
"Aku gapapa. Aku mau kamu aja yang merawat aku."
"Tapi aku takut kamu kenapa-napa."
"Aku gapapa. Aku sehat kok. Aku baik-baik aja."
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin."
"Tapi aku gak yakin. Wajah kamu aja pucat. Badan kamu panas. Dan kamu mimisan. Gimana kalau kamu gak baik-baik aja," ujar Aisyah tidak percaya jika Ali gak kenapa-napa.
"Aku gak sakit kok. Paling aku hanya demam. Kamu gak usah khawatir." Ali tersenyum. Biar Aisyah tenang dan berhenti mengkhawatirkannya.
Walau Ali bilangnya; gapapa, baik-baik aja, gak sakit kok. Aisyah tetap gak yakin. Bisa aja Ali membohonginya. Tapi ia berharap banyak jika Ali berkata jujur.
Hidung Ali tidak mengeluarkan darah lagi. Akhirnya mimisan Ali berhenti. Aisyah jadi lega. Aisyah mengusap kepala Ali. "Ali, maafin aku ya, aku udah buat kamu sakit," ucapnya berasa bersalah.
"Kamu gak salah. Aku yang salah. Kamu gak perlu minta maaf. Aku yang harusnya minta maaf." Ali menggapai pipi Aisyah dan mengusapnya. "Maaf, aku kasar sama kamu."
Aisyah mengangguk. Ia memegang tangan Ali yang habis mengusap pipinya. "Tangan kamu kenapa?" Aisyah baru menyadari punggung tangan kanan Ali terluka.
"Hanya luka kecil," jawab Ali.
"Kamu menyakiti diri kamu lagi ya?"
"Enggak. Ini hanya komplikasi antara tulang, daging, kulit, dan darah. Jadinya luka."
"Jawaban kamu selalu sama. Gak berubah dari tiga tahun lalu." ucap Aisyah. "Jangan menyakiti diri kamu Ali. Aku gak suka." Aisyah menatap Ali.
"Lebih baik aku menyakiti diri aku. Daripada kehilangan kamu."
Aisyah diam aja. Ia gak suka Ali ngomong gitu. Ia gak mau Ali menyakiti diri sendiri hanya kerena dirinya.
Ali mendukkan dirinya dan menyenderkan punggungnya. Ia menggapai tangan Aisyah. "Syah, apa kamu masih benci sama aku?"
Aisyah menggeleng.
"Bagus, aku senang. Apa kamu masih marah sama aku?"
"Sebaiknya kamu istirahat. Jangan banyak berbicara dulu. Aku ambilkan obat dulu dan kompresan untuk kamu." Aisyah beranjak turun dari tempat tidur.
"Aku ikut," ucap Ali. Ali bangkit ingin turun dari tempat tidur. Sejujurnya, kaki Ali terasa lemas. Tapi ia menguatkan diri seolah ia baik-baik aja. Supaya Aisyah tidak mencurigainya.
"Kamu di sini aja dulu. Kamu kan, demam," ujar Aisyah mencegah.
"Aku mau ke bawah aja. Kamar kita kan, di bawah."
"Ya udah kalau gitu." Aisyah menggandeng tangan Ali. Ia melangkah dan Ali mengikuti langkahnya.
Mereka berdua keluar kamar dan menuju tangga. Sampai di tangga. Ali berhenti melangkah. Aisyah jadi ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Aisyah.
"Gapapa," jawab Ali. Ia bohong, padahal ia takut menuruni anak tangga. Karena pandangan matanya tiba-tiba buram lagi. Kepalanya juga mulai berdenyut. Sepertinya sakit kepalanya mau kumat.
"Ya udah ayo turun," ujar Aisyah.
"Tapi jangan lepasin tangan aku," pinta Ali. Ia menggenggam tangan Aisyah erat.
"Ali kenapa sih, kaya ketakutan," batin Aisyah.
"Kamu tenang aja. Aku gak bakal lepasin kok," ujar Aisyah ke Ali.
"Makasih ya."
"Iya sama-sama."
"Andai kamu tau. Aku saat ini sedang ketakutan. Aku tidak bisa melihat jelas tangga ini. Bahkan wajah kamu samar di mata aku," batin Ali.
Aisyah dan Ali pun menuruni anak tangga. Ali pelan-pelan melangkah. Ia juga berusaha agar Aisyah tidak curiga padanya. Ia berupaya bersikap normal. Meski susah tapi ia harus melakukan itu. Ia gak mau Aisyah tahu, matanya bermasalah.
Akhirnya Ali bisa lega. Ia berhasil melewati tangga dan Aisyah gak curiga padanya. Ali mengucek matanya berkali-kali. Lama-lama matanya melihat normal kembali.
Ali menghembuskan nafasnya. "Alhamdulillah," ujarnya lega.
"Alhamdulillah apa?" tanya Aisyah.
"Bukan apa-apa."
"Ohh."
"Aku di sini aja," ujar Ali berhenti melangkah. Ia mendudukan dirinya di sofa.
"Gak ke kamar?" tanya Aisyah.
"Aku mau di sini aja," jawab Ali.
Ali dan Aisyah kini sudah di ruang tengah. Tadinya, tujuannya ke kamar. Tapi Ali menolak. Ali lebih memilih ke ruang tengah.
"Ya udah, kalau gitu aku ambilin obat dulu ya, buat obatin tangan kamu, dan ambil kompres juga. Badan kamu panas jadi mau aku kompres."
"Oke."
Aisyah beranjak pergi. Tinggal Ali sekarang. Saat Aisyah udah gak kelihatan lagi. Ali bangkit dan pergi ke luar rumah. Ia mau ke suatu tempat dan ia gak mau Aisyah tahu. Ia hanya ingin pergi sebentar. Dan kembali dalam waktu cepat.
***