Jika aku bukan yang terbaik untukmu. Aku ikhlas jika kamu tinggalkan. Tapi aku sangat berharap kamu gak pernah berfikir begitu.
Jangan benci aku untuk selamanya.
_Ali
***
Plak!
Aisyah menampar Ali.
Tamparannya gak terlalu kuat. Tapi tetap terasa sakit di pipi kanan Ali.
"Kenapa kamu tampar aku Syah?" tanya Ali. "Aku salah apa, sampai kamu gak mau aku sentuh?"
"Aku udah bilang, aku gak mau kamu sentuh! Aku kesal sama kamu! Tapi kenapa kamu gak mendengarkan? Itu salah kamu, bukan aku," jawab Aisyah.
"Untuk pertama kalinya, kamu menampar aku. Dan untuk pertama kalinya juga, kamu menyakiti aku."
"Aku gak bermaksud menyakiti kamu. Hanya saja, kamu gak mendengarkan perkataan aku. Aku bilang aku gak mau. Tapi kamu keras kepala dan memaksa."
"Seorang suami menginginkan istrinya, apakah salah? Dan aku menginginkan kamu."
"Gak salah. Tapi kamu telah melakukan kesalahan. Dan aku gak mau melayani kamu."
Ali menggenggam tangan Aisyah. "Tapi aku mau kamu." Ali mencium tangan Aisyah berkali-kali.
"Hentikan Ali!" pinta Aisyah.
"Enggak Syah. Aku sangat menginginkan kamu. Tolong izinkan aku."
Aisyah menarik tangannya hinggap lepas dari genggaman Ali. "Aku gak mau," tolaknya.
Ali menatap Aisyah tajam. "Kali ini, aku gak peduli." Ali mendekatkan tubuhnya memeluk Aisyah.
Aisyah meronta dalam pelukan suaminya. Ali memeluknya sangat kencang. "Lepasin aku Li! Lepasin!" titah Aisyah menjerit.
Ali gak mendengarkan Aisyah. Ali mencekramkan tangannya lebih kuat di tubuh Aisyah hingga Aisyah merasakan sakit. "Lepasin Ali! Lepasin!" jerit Aisyah. Ali tak menanggapi.
Aisyah sudah gak tahan lagi dengan perbuatan Ali. Ali bukan seperti yang ia kenal. Ali kasar, tubuhnya sampai sakit karena perbuatan suaminya itu. Aisyah terus meronta dan dengan sekuat tenaga Aisyah mendrong tubuh Ali. Lalu ...
Plak!
Aisyah menampar Ali untuk kedua kalinya. "Kamu b******n!" ketus Aisyah dengan amarah. "Kamu pantas menerima itu. Agar kamu sadar, kamu sudah dibutakan hawa nafsu." Nafas Aisyah berirama tak beraturan. Nafasnya tersengal-sengal karena emosi dengan sikap suaminya yang kelewat batas.
Ali jadi bungkam. Menunduk diam seribu bahasa. Pipinya sangat sakit. Tamparan Aisyah gak sepelan tadi. Aisyah benar-benar memukul wajahnya kali ini. Dan pukulan itu menyadarkannya. Ia sudah benar-benar kelewat batas pada Aisyah.
"Aku pikir kamu itu malaikat. Ternyata aku salah, kamu hanya manusia biasa yang memperlakukan aku dengan buruk," ucap Aisyah sinis.
Ali mengangkat kepalanya memandang Aisyah. Mata Ali memerah dan ada cairan bening menetes di salah satu matanya. Iya, lelaki ini baru saja menangis dalam diam. Selepas Aisyah memukul wajahnya untuk kedua kali. Bukan menangis karena merasakan sakit pada wajahnya. Tapi pada hatinya dan keburukan yang ia lakukan. Ia menangisi dirinya yang b******n. Ia benar-benar hilaf. Ia hilang kendali sehingga berprilaku buruk pada Aisyah.
"Maaf ... aku hilaf," ucap Ali. "Aku memperlakukan kamu dengan buruk. Aku menyakiti kamu."
"Gak cukup hanya dengan kata maaf," balas Aisyah.
Ali menggapai tangan Aisyah. "Kalau gitu pukul aku." Ali mengarahkan tangan Aisyah untuk memukulnya.
"Aku gak mau!" Aisyah menarik tangannya.
"Aku benci kamu!" tambah Aisyah. Lalu ia turun dari tempat tidur ingin beranjak pergi meninggalkan Ali.
Ali beranjak dan menarik tangan Aisyah. Ia mencegah Aisyah pergi. Langkah Aisyah pun terhenti. "Katakan aku harus apa? Agar kamu maafin aku. Aku mohon, jangan marah sama aku untuk selamanya. Jangan benci aku."
Aisyah menepis tangan Ali. Ia berbalik dan menghadap Ali. "Aku hanya butuh waktu. Yang pasti, saat ini aku benar-benar kecewa sama kamu. Kamu bukan Ali yang aku kenal."
"Kasih tau, kesalahan apa yang membuat kamu sangat marah sama aku? Aku benar-benar gak tau. Tadi kamu baik-baik aja. Tapi saat aku menginginkan kamu, kamu menolak aku. Dan akhirnya kita bertengkar kaya gini."
"Apa kamu gak sadar! Aku marah sama kamu, karena Kamu itu berubah Ali. Akhir-akhir ini kamu gak seperti yang aku kenal. Kamu kadang cuekin aku. Sinis ke aku, dan bahkan mengabaikan aku. Dan barusan, kamu kasar dan membangkang. Kamu benar-benar berubah. Kamu bahkan lupa sama aku. Kamu gak jemput aku hari ini. Bahkan kamu gak ngirimin pesan apapun hanya sekedar ngasih kabar. Sampai orang lain yang lebih perhatian sama aku. Nganterin aku pulang. Kamu dimana Ali? Kamu dimana? Kamu gak ada, kamu gak datang jemputin aku!" emosi Aisyah meluap. Ali hanya diam mendengarkan keluh-kesah Aisyah.
"Ilham bilang, kamu masih di kantor. Aku tau itu alasan kebohongan! Aku tau kamu Ali. Kamu gak pernah telat menyelesaikan kerjaan kamu. Dan gak mungkin kamu masih di kantor di saat semua orang pulang lebih awal. Lalu kamu dimana Ali? Sampai melupakan aku. Gak jemput aku, bahkan gak ngasih kabar sedikitpun."
"Maaf ...." Hanya satu kata yang bisa Ali ucapkan saat ini. Ia gak membela diri. Mungkin memang ia pantas untuk Aisyah marahi.
Aisyah memukul-mukul d**a Ali. Meluapkan segala rasa sakit hatinya. "Aku sedih Li, kamu berubah sekarang. Kamu jahat! Kamu gak kayak dulu lagi! Bahkan kamu bertindak kasar ke aku. Aku benci kamu!" bicara Aisyah dengan luapan emosi. Tanpa sadar air matanya tumpah, dengan cepat ia mengusapnya dengan kasar.
Ali ingin menghapus air mata istrinya. Tapi Aisyah cegah.
"Aku gak mau kamu sentuh!" ucap Aisyah di tengah tangisannya."
Kini Ali hanya bisa menatap sendu Aisyah. Melihat istrinya menangis karenanya. Dan ia gak bisa berbuat apa-apa. "Maaf Syah ..."
Aisyah melangkah menuju pintu kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Ali.
"Bukan urusan kamu!" jawab Aisyah.
"Maafin aku Syah."
"Maaf, aku belum bisa memaafkan kamu Ali. Aku butuh waktu."
Aisyah membuka pintu kamar, lalu keluar dan menutup pintu dengan kasar. Sehingga menimbulkan suara gaduh dan Ali jadi sedikit kaget. Tampaknya Aisyah benar-benar marah.
Aisyah sudah pergi. Tinggal Ali sendirian. Ali terdiam sejenak, lalu mengacak rambutnya frustasi. Ali menatap tembok kamar. Tanpa pikir panjang, ia meninju tembok dinding kamar dengan luapan emosi yang berapi-api. Ia meluapkan segala rasa amarahnya.
Beberapa kali Ali membenturkan tangannya. Meski tangannya sakit. Ia gak peduli. Ia kesal pada dirinya. Sekarang, Aisyah benci padanya. Ia dibilang jahat. Ia juga dianggap berubah. Rasa sakit di tangannya tidaklah sebanding dengan perasaannya, yang terasa sakit karena dibenci oleh Aisyah. Hatinya hancur, ia merasa menjadi suami yang gagal.
Apakah ia gak pantas untuk Aisyah?
Ia sangat mencintai Aisyah. Lebih dari dirinya sendiri. Tapi kenapa? Ia sampai tega menyakiti Aisyah.
Ali juga kadang bingung, harus berbuat apa agar hubungannya baik-baik saja dengan Aisyah. Jika Aisyah menganggapnya bersikap dingin, itu hanya karena ia lelah. Bukan karena kebosanan apalagi sudah tidak cinta lagi. Ia gak mungkin berhenti mencintai Aisyah. Gak akan pernah.
Kini punggung tangan Ali terluka, dan juga berdarah. Dan terasa amat perih. Ali sudah tidak tahan menahan sakit. Ia berhenti memukul dinding. Jika ia lanjutkan, mungkin tangannya bisa patah.
Ali menyederkan tubuhnya. Ia benar-benar depresi saat ini. Kenapa ia bisa dianggap berubah oleh istrinya? Apakah benar ia sudah berubah? Gak kayak dulu lagi. Adakah yang salah pada dirinya sekarang? Ali pusing memikirkan semua hal itu. Ia gak tahu, ia berubah atau gak. Ia gak bisa menilai dirinya sendiri.
Tiba-tiba kepala Ali terasa sakit sekali. Gak tau, akhir-akhir ini ia sering merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ali memegangi kepalanya. Kepalanya semakin sakit. Ia gak tahan lagi. Pandangan matanya lama-lama jadi buram. Tubuhnya melemah. Dan pada akhirnya tubuhnya ambruk, dan semuanya jadi gelap.
***