Aku bukan malaikat, juga bukan lelaki sempurna. Aku hanya manusia bernama Ali, penuh kekurangan. Maaf, jika kamu tidak puas dengan cintaku yang sederhana.
_Ali
***
Aisyah kembali ke dapur dan membuat minuman yang baru. Kali ini dia membuat untuk dua gelas. Takut Ali mengambil lagi minuman Andra, jadi Aisyah waspada sebelum kejadian.
Di sisi lain. Ali yang di ruang tamu hanya memandang lelaki yang gak ia kenal, bahkan namanya saja ia gak tahu. Walaupun pikirannya bertanya-tanya siapa lelaki itu, tapi ia gak mau bertanya. Biarkan sang tamu memperkenalkan diri duluan. Ia bukanlah tipe orang yang sok akrab kepada orang asing. Lagian Ali gak respek dengan sang tamu itu.
Andra berdiri, dia mengulurkan tangan kanannya untuk memperkenalkan diri. "Gue Andra, teman kampus Aisyah," ucapnya dengan santai. Walau tadi sempat berapi-rapi karena ulah sang pemilik rumah yang merebut minumannya.
Ali berdiri dan menjabat tangan Andra. "Gue Ali, suaminya Aisyah." Ali tersenyum sebagai sapaan ramah habis berkenalan.
Ali duduk kembali begitu juga dengan Andra.
"Aisyah bilang lo sakit, makanya gak bisa jemput dia. Akhirnya gue yang anterin. Gue kasihan sama dia, nungguin taxi yang gak muncul sama sekali. Tapi kok, gue liat lo baik-baik aja. Terus, kenapa lo gak jemput dia? Lo kan, suaminya," ujar Andra. Dia sedikit menyindir.
"Iya gue sakit, tapi udah sembuh sepuluh menit yang lalu," balas Ali sinis. Rupanya si Andra ini mulai mancing-mancing keributan dengannya. Biarin aja, Ali gak peduli.
Dari omongan Andra, Ali jadi tahu bahwa Aisyah memberikan alasan kepada Andra bahwa ia sakit. Aisyah sedikit keterlaluan bagi Ali. Masa ia dibilang sakit. Kalau ia sakit beneran gimana. Tapi gapapa, ia gak marah soal itu. Mungkin Aisyah memberikan alasan itu bermaksud baik.
"Oh," balas Andra.
Percakapan mereka terputus hanya sampai di situ. Ali tidak berbicara lagi. Begitu juga dengan Andra. Mereka berdua saling cuek dan memandang dingin satu sama lain. Sudah kayak orang sedang berantem. Gak tegur-teguran. Hanya diam seribu bahasa.
Ali bersikap sinis dan dingin ke Andra bukan karena ia angkuh atau sombong. Tapi, ia ada pirasat bahwa Andra diam-diam menyukai Aisyah. Dan mau merebut Aisyah darinya. Ali gak suka.
***
Aisyah tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk menyuguhkan minuman buat Andra dan sang suami. Sebab jusnya sudah diblender, jadi tinggal dituangkan saja ke gelas.
Selesai. Aisyah berjalan ke ruang tamu. Sampai di ruang tamu. Kedua lelaki yang tengah duduk manis melempar senyum kepadanya. Ia pun membalas senyuman kedua lelaki itu secara bergantian.
Aisyah meletakkan gelas yang ia bawa di atas meja. Satu untuk Ali dan satu untuk Andra.
"Kok 2?" tanya Ali sembari menunjukkan kedua jarinya.
"Sengaja, satunya buat kamu. Jadi adil," jawab Aisyah.
"Makasih sayang udah buatin aku minum," ucap Ali dengan manis.
"Sama-sama," balas Aisyah.
"Tumben Ali panggil aku sayang," batin Aisyah.
"Apa-apaan ni Ali, panggil sayang segala ke Aisyah. Bikin kuping gue panas," batin Andra memanas.
Andra memandang Aisyah. "Makasih Syah," ucapnya. Dan dia pun senyum.
"Sama-sama," balas Aisyah. Ia juga ikut senyum ke Andra.
Ali melirik Andra. Dilihatnya Andra terus memperhatikan Aisyah dan senyum pula ke istrinya itu. Istrinya juga ikut senyum. Membuat Ali jadi sebal, melihat kedua Adam dan Hawa itu kini tampak serasi.
"Uhuk." Ali terbatuk, tapi pura-pura. Batuknya berhasil membuat senyum sang tamu jadi pudar, begitu juga dengan senyuman Aisyah.
"Ali kamu gapapa?" tanya Aisyah khawatir.
"Kayanya tenggorokan aku bermasalah," jawab Ali berbohong.
"Tapi gak parah, kan?"
"Enggak kok."
"Sini, duduk sama aku." Ali menggapai tangan Aisyah. Aisyah pun menurut dan duduk di sebelahnya Ali.
Tingkah Ali membuat Andra jadi makin panas. Andra meraih minumanya dan meneguknya. "Jusnya enak," pujinya setelah meletakkan lagi gelas yang isinya sudah susut itu.
Aisyah hanya tersenyum membalas pujian Andra.
Ali merangkul Aisyah dengan mesra. Kemudian ia melanjutkan aksinya dengan mengusap wajah Aisyah yang dibasahi sedikit keringat. "Kamu keringatan," ucapnya.
Lalu Ali merapikan kerudung Aisyah yang pada dasarnya sudah rapi, tapi ia rapikan lagi. Ia sengaja menunjukkan perhatiannya pada Aisyah di depan Andra. Supaya Andra melihat, betapa sayangnya ia pada Aisyah. Dan ia tak akan rela Aisyah direbut oleh siapapun. Termaksud Andra.
"Ali kamu ngapain sih?" Bisik Aisyah di telinga Ali. Ia risih dengan sikap Ali padanya. Ia malu dilihat sama Andra.
Ali hanya membalas pertanyaan Aisyah dengan senyuman manisnya, dan dengan usapan kepala yang lembut.
Andra semakin memanas. Dia merasa tak betah melihat sepasang suami istri yang begitu lengket. Dia termakan api cemburu.
"Syah, sekali lagi makasih untuk minumannya. Kalau gitu aku pulang dulu." Andra berdiri ingin beranjak pergi. Dia sebaiknya memilih pulang, daripada berlama-lama jadi nyamuk. Sangat membosankan jadi penonton yang menyaksikan adegan romantis di depan mata, pikirnya.
"Makasih juga udah nganterin aku. Lain kali gak usah repot-repot," balas Aisyah.
"Gak merepotkan kok. Aku senang bisa bantu kamu. Kalau gitu permisi. Assalamualaikum," pamit Andra.
"Waalaikumsalam," sahut Aisyah.
***
Selepas Andra pulang, Ali langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengemasi tas, jas, dan dasinya yang berlamparan di lantai.
Aisyah menutup pintu rumah dan menguncinya. Diliriknya di ruang tamu, Ali sudah menghilang. Aisyah masuk dan melihat barang Ali masih berserakan. Ia pun mengambilnya sambil menggerutu tak jelas. Intinya ia sedang kesal dengan Ali. Ali sangat beda dari biasanya. Kemarin-kemarin Ali masih normal-normal aja. Tapi kenapa tadi bertingkah aneh.
"Apa Ali cemburu dengan Andra?"
"Apa Ali sudah mengenal kata cemburu?"
"Benerkah Ali cemburu?"
Aisyah bertanya-tanya.
Aisyah melangkah ke kamar. Saat sudah di dalam kamar, ia menyimpan dasi, jas, dan tas Ali dengan rapi. Lalu, ia melihat Ali sedang rebahan di atas kasur. Dengan pakaian yang belum diganti dan sepatu belum dilepas. Sungguh membuat Aisyah tambah pusing. Ali benar-benar membuatnya jengkel.
"Ali!" teriak Aisyah geram. Ia jengah dengan sikap Ali.
Ali menoleh memandang istrinya yang berteriak dengan menyebut namanya. "Apa?" tanya Ali dengan wajah polos.
"Buka sepatu kamu!"
"Entar dulu."
"Buka sekarang! Seprainya jadi kotor nanti!"
"Tinggal ganti seprai baru," balas Ali. Ia malas mau bergerak dan melepaskan sepatunya.
"Lepas Ali!"
"Nanti ya, bentar lagi."
Aisyah menghembuskan nafasnya kasar. Ia emosi dengan sikap Ali. Ia beranjak menghampiri Ali. Saat sudah berdiri di samping tempat tidur, Aisyah menggapai sepatu Ali dan ingin melepaskannya.
"Jangan," cegah Ali. "Biar aku aja."
Ali mendudukkan dirinya lalu melepas sepatunya. Selesai itu ia menyimpan sepatunya di lantai dengan susunan rapi.
"Kenapa kamu cegah aku?" tanya Aisyah. "Bukannya tadi pas aku suruh kamu nolak. Jadi biar aku aja yang lepasin."
"Karena gak wajar jika aku membiarkan kamu melepaskan sepatu aku. Apalagi aku dalam keadaan sadar dan bisa sendiri. Kalau aku semisal ketiduran, gapapa," jawab Ali.
"Kenapa gak wajar? Aku kan istri kamu."
"Gak sopan kata ummi aku. Hanya kaki seorang ibu yang boleh dimuliakan."
Ali kembali merebahkan tubuhnya. Ia merasa ngantuk. Sedangkan Aisyah masih berdiri dan mencerna jawaban Ali barusan. Jawaban yang sangat bagus dan bermakna.
"Ya udah, sekarang ganti pakaian kamu, dan mandi," pinta Aisyah.
"Aku udah gak kuat. Aku capek," ujar Ali.
"Mandi dulu! Kamu bau keringat!"
Ali menghela nafasnya. "Gak mau," tolaknya.
"Ya udah, ganti baju aja kalau gitu. Baju kamu itu basa kerena keringat. Jadi ganti dulu, baru tidur."
Ali gak merespon. Ia sungguh kelelahan. Matanya pun terpejam dan ia tak ingat apa-apa lagi.
"Ali," ujar Aisyah sambil menggoyangkan lengan Ali. Namun gak ada tanggapan dari Ali. Aisyah melirik wajah Ali. Rupanya, Ali ketiduran.
Ya ampun, Aisyah benar-benar semakin geram. Bisa-bisanya Ali ketiduran. Mana bajunya Ali basah lagi, dan jika dibiarkan seprai juga bakal ikutan basah. Mau gak mau, Aisyah yang harus membuka kemeja Ali dan mengganti baju Ali.
Aisyah naik ke atas ranjang dan duduk di dekat tubuh Ali. Ia melirik wajah Ali yang bersih mulus tanpa ditumbuhi bulu-bulu halus seperti kumis dan janggut. Mungkin Ali sering mencukurnya atau memang belum tumbuh sama sekali. Aisyah juga gak tahu. Yang ia tahu wajah Ali mulus setiap saat.
Wajah Ali juga gak berubah sama sekali. Tetap masih seperti Ali yang ia kenal tiga tahun lalu. Hanya gaya rambut yang kadang-kadang berubah. Suaminya memang awet muda dan sangat rupawan. Ali seperti seorang malaikat tampan yang turun dari bumi. Aisyah jadi senyum sendiri.
Aisyah melarikan pandangannya dari wajah Ali. Ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja putih yang menempel di badan Ali. Jantung Aisyah tiba-tiba berdebar.
Astaga, ia jadi gugup. Walau sudah tiga tahun menikah dengan Ali. Tapi tetap saja, saat didekat Ali jantungnya pasti tak berdetak dengan normal. Apalagi saat ini ia tengah membuka baju Ali. Seumur-umur mana pernah ia membuka baju Ali, baru kali ini. Dan benar-benar membuatnya gugup dan merasa malu. Jika bisa membuka kancing baju Ali dengan mata tertutup, maka ia akan melakukannya. Tapi gak bisa.
Jantungnya semakin berdegup kencang, darahnya seperti mengalir dengan deras. Ah, Aisyah jadi gak kuat. Ia berhenti membuka kancing baju Ali. Ia memegangi dadanya. Lalu mencoba menenangkan diri. Meski Ali memakai dalaman kaos putih polos, dan bukan bertelanjang d**a. Tetep aja ia merasa gak pantas dan merasa berdosa karena zina mata. Padahal kenyataannya, ia gak bakal berdosa sebab Ali itu mahramnya. Ali suaminya dan seluruh tubuh Ali sah miliknya.
Saat sudah merasa baikan. Aisyah melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Ia membuka kancing baju Ali lagi yang kini tinggal sedikit. Hampir selesai. Tiba-tiba ....
"Kamu ngapain aku?" tanya Ali yang baru saja terbangun dari tidurnya yang singkat. Ia terbangun karena merasa ada yang menyentuh bagian tubuhnya. Dan saat ia bangun, ia menangkap basah Aisyah tengah membuka kancing bajunya. Apa yang Aisyah mau darinya? Ali bertanya-tanya dalam pikirannya.
Aisyah menggigit bibirnya. Pipinya merah padam. Ia benar-benar malu, malu, dan sangat malu. Habislah sudah, martabatnya benar-benar hancur detik ini juga. Harga dirinya mau dibawa kemana. Gimana kalau Ali berfikiran jorok tentangnya. Ya Allah, ia berharap semoga saja Ali tidak berfikiran seperti itu.
"Syah, kamu mau ngapain aku? Atau, kamu mau apa dari aku?" tanya Ali lagi yang masih diposisi rebahan dengan mata menatap Aisyah.
Aisyah gak jawab. Ia langsung lari. Ia mojok ke sudut tempat tidur dan menutup mukanya karena malu dengan Ali.
"Kamu kenapa?" tanya Ali. Ia mendudukkan dirinya.
Aisyah tetap diam seribu bahasa dengan muka yang masih ditutupnya.
"Kamu mau buka baju aku?" tanya Ali lagi.
Gak ada jawaban. Aisyah masih diam tak menanggapi.
Ali jadi bingung dan ia pun berkata, "kamu mau aku?" tanyanya. Mungkin Aisyah menginginkan dirinya, pikir Ali.
Aisyah semakin malu mendengar pertanyaan Ali barusan. Ia pengen kabur dari kamar tapi ia gak mau melihat wajah Ali. Ia saat ini merasa jadi manusia yang super duper malu.
Ali mendekati Aisyah. "Buka mata kamu," pintanya saat sudah dihadapan Aisyah.
Aisyah melarikan tangannya dari wajahnya. Namun ia gak mau membuka matanya. Ia tahu Ali sekarang ada di depannya.
"Ayo buka," pinta Ali lagi.
Aisyah menggeleng tanda menolak.
"Kamu malu sama aku?" tanya Ali. "Kenapa harus malu. Aku suami kamu. Udah tiga tahun kita menikah, masa kamu masih malu sama aku."
Aisyah tetap diam.
Ali memegang tangan Aisyah. "Aku suka tangan ini," ucapnya lalu mencium tangan Aisyah.
Ali kemudian mengusap pipi Aisyah. "Buka mata kamu. Aku mau lihat mata kamu yang indah."
Perlahan Aisyah membuka matanya. Saat matanya sudah terbuka, ia melihat Ali di depan matanya. Wajah Ali sangat dekat. Bahkan hembusan nafas Ali bisa ia rasakan.
Ali tersenyum. Ia lalu mencium kening Aisyah. Kemudian, ia membuka satu kancing terakhir yang masih terkait di kemejanya. Setelah terlepas ia pun melepaskan kemejanya. Kini yang tersisa tinggal kaos putih polosnya saja.
"Kamu mau ngapain?" tanya Aisyah.
"Seharusnya kamu gak perlu bertanya," jawab Ali.
"Maksud kamu apa?"
Ali gak jawab. Ia malah senyum. Kemudian, Ali lebih mendekatkan tubuhnya ke Aisyah.
"Ali, kamu mau ngapain?" tanya Aisyah. Tubuhnya dan Ali hampir bertemu. Ia ingin memundurkan tubuhnya. Tapi gak bisa, karena sudah mentok.
"Ali! Kamu mau apa?" tanya Aisyah lagi.
"Aku mau kamu," bisik Ali di telinga Aisyah. Lalu, ia ingin mencium wajah Aisyah. Namun, ia mendapat penolakan. Aisyah mendorong wajahnya.
"Jangan sentuh aku Ali!" ucap Aisyah. Ia masih marah sama Ali, makanya ia gak mau Ali menyentuhnya.
"Kenapa?"
"Aku gak mau kamu sentuh! Aku tidak mengizinkan!" tegas Aisyah.
"Hanya sebentar," pujuk Ali.
"Enggak Ali!"
Ali menghembuskan nafasnya jengah. "Please, aku mohon."
"Enggak ya enggak!" bentak Aisyah.
"Gak boleh nolak suami," kata Ali.
"Terserah apa kata kamu. Aku gak peduli!" ketus Aisyah.
Ali kemudian diam. Tapi pandangan matanya tak lepas dari Aisyah. Ia menatap Aisyah dengan amat dalam. Kemudian, ia berusaha lagi ingin mencium Aisyah. Ali sudah di luar kendali. Yang dipikirannya hanya kerinduan pada Aisyah. Dan ia menginkan Aisyah saat ini juga.
Ali tidak mendengarkan perkataan Aisyah. Hingga Aisyah hilang kesabaran. Aisyah pun melayangkan tangannya di wajah Ali.
Plak!
***