Aisyah POV Aku sampai di sebuah bangku taman di sebelah pohon besar yang rindang. Aku dudukkan diriku sambil menghela nafas frustasi. Duduk termenung di sana cukup lama. Air mata sebagai temanku. Entah, aku harus bagaimana. Aku hanya bisa menumpahkan air mataku saat ini dan tidak tahu sampai kapan tangisanku akan berakhir. Aku betul-betul kacau. Aku tentu saja belum bisa merelakan pria yang sangat kusayangi. Aku terlanjur sayang padanya dan tak mudah untukku melepaskannya. Hatiku sangat terluka. Aku hancur sehancur-hancurnya. Aku rapuh. Aku kini sendirian, pria yang aku cintai telah meninggalkanku. Ali, nama pria itu. Dia berhasil membuatku jatuh cinta lebih dari pria lain yang pernah menjalin cinta padaku. Pria itu memang bukan yang pertama datang di hatiku. Namun, aku sekarang sada

