Dengan perasaan campur aduk. Dengan hati yang rasanya teriris belati. Aisyah mencoba bangkit. Ia menyeka semua air matanya yang tumbah tanpa jeda. Aisyah menghembuskan nafas panjangnya. "Aku harus kuat, demi anakku," katanya mensugesikan diri untuk tegar dalam keadaan tepuruknya. Perlahan ia melangkah. Saat telah berada tepat di hadapan suami tercintanya yang tertutup sehelai kain putih di sekujur tubuh. Ia hela nafasnya, baru dengan perlahan ia membuka penutup itu. Astaga, tak bisa ia memungkiri betapa hancur hatinya saat melihat wajah seorang yang ia cintai telah terbujur kaku tak bernyawa. Dadanya sesak, kenapa? Kenapa pria itu harus benar-benar Ali. Air mata Aisyah kembali tumpah. Bibirnya mengatup tak mampu berkata. Hanya berdiri tanpa gairah menatap wajah pria yang tampak tidur n

