Waktu menunjukkan sudah hampir jam makan siang saat Serena sedang sibuk berkutat dengan laptop di atas meja kerjanya. Seorang laki-laki berusia 30-an akhir, berpakaian rapih ala kantoran dan berkacamata tebal, menghampiri Serena tak lama kemudian. Laki-laki itu bernama Marcus, atasan sekaligus kepala divisi tempat Serena bekerja. “Serena?” panggil Marcus, yang kedua matanya masih sibuk menatapi kertas-kertas dokumen yang ada dalam genggaman tangannya. Serena langsung menoleh, “Iya, pak?” Marcus menyerahkan kertas-kertas dokumennya pada Serena, “Tolong kasih dokumen ini ke Mister Erick. Bilang saya minta tanda tangan nya buat approval.” Serena langsung mengangguk, “Baik, pak.” Seketika, jantung Serena langsung berdegup lebih kencang. Entah mengapa, kini setiap kali mendengar nama Eric

