Dahi Malik mengkerut. Matanya sibuk membidik, jarinya bersiap-siap menekan pelatuknya. Peluru baja itu sudah siap keluar dari dalam sarangnya. Sudah siap menjalankan tugasnya, yaitu menembus dan melukai seorang Erick Navarro .. Sambil duduk santai di samping Malik dan meletakkan kedua kakinya di atas dashboard mobil, Adam menghisap lagi rokok menthol nya dalam-dalam. Menciptakan gumpalan awan nikotin yang seketika memenuhi mobil jeep hitam yang ditumpangi keduanya. “Ingat Malik, tembak kakinya. Jangan sampai meleset,” kata Adam dengan ekspresi wajahnya yang nyaris datar tanpa emosi. “Siap, boss,” jawab Malik yang kedua matanya masih fokus pada bidikan pelatuknya. Sementara Erick, sama sekali tidak tahu kalau nun jauh dari tempatnya berdiri sekarang, ada dua orang laki-laki yang sedang

