Hujan rintik-rintik mulai turun begitu Erick sampai di halaman depan rumah gedongannya. Begitu menginjakkan kaki di depan pintu rumahnya, Erick mendapati Satya sedang berdiri sendirian dan berjaga-jaga sambil membawa sebuah senjata laras panjang. “Selamat sore, tuan Erick,” sapa Satya begitu melihat Erick. Begitu melihat kembali wajah ajudannya yang begitu setia itu, hanya ada satu nama yang langsung terbesit dalam benak Erick. Ya, Serena Yatalana. “Serena sudah sampai?” tanya Erick penasaran. Satya mengangguk, “Sudah, tuan. Nona Serena sedang menunggu tuan di ruang tamu.” Erick langsung menghela napas lega begitu tahu kalau perempuan yang dicintainya itu dalam keadaan selamat dan baik-baik saja. Erick lanjut bicara, “Kalau Katherine?” Satya menggeleng, “Katherine belum pulang, tuan.

