Chapter 7 - Gaiirah dan Cinta

2417 Kata
Jantung Serena berdegup kian kencang. Sebuah sensasi yang terasa begitu asing, namun terasa begitu memabukkan di saat yang bersamaan, langsung memenuhi diri Serena kala jari-jari tangan Erick meremas lembut gundukan ranumnya. Menghujani leher mulusnya dengan cumbuan bibirnya yang terasa begitu lembut. Menghujani dirinya dengan cumbuan dan remasan tangan yang terasa begitu membangkitkan gairah. Dengan sorot kedua mata yang tak pernah lepas memandangi wajah tampan Erick, Serena akhirnya mengangguk perlahan. Sebuah anggukan persetujuan yang menandakan kalau akhirnya, Serena mengizinkan Erick untuk menyentuh tubuhnya .. yang belum pernah disentuh oleh orang lain sebelumnya itu. Ya, bahkan tidak oleh Pierre, mantan tunangannya sendiri. Erick mencium bibir Serena sekilas lalu menyeringai puas, “Good.” Dengan cekatan, Erick langsung menggendong tubuh mungil Serena, lalu membawanya masuk ke dalam kamar tidurnya. Dengan kaki jenjangnya yang kuat dan kokoh, Erick mendobrak kasar pintu kamar tidur Serena, lalu membaringkan tubuh Serena di atas ranjang tempat tidurnya dengan perlahan. Tanpa menunggu lama, Erick langsung menindih tubuh Serena, lalu kembali menghujani wajah dan leher mulusnya dengan sapuan ciuman bibirnya yang terasa begitu lembut nan b*******h. Jari-jari tangan Erick yang nakal mulai bergerak, meremas lembut gundukan ranum Serena yang masih tertutup bra dan kemeja polos warna biru mudanya. Membuat Serena semakin menggeliat tidak nyaman di bawah dekapan hangat tubuh Erick. Erick menghentikan ciuman panasnya sesaat, lalu beralih menatap wajah cantik Serena. Dengan perlahan, Erick menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Serena, lalu beralih berbisik tepat di depan telinganya. Menyentuh leher dan tengkuk Serena dengan sapuan napasnya yang terasa hangat, membuat sekujur tubuh Serena langsung bergetar hebat.  “Aku janji akan memuaskanmu, Serena ..,” bisik Erick dengan seringai nakal di wajah tampannya. Setelahnya, Erick langsung menanggalkan kemeja biru dan celana panjang yang masih menutupi tubuh mulus Serena, lalu membuangnya dengan kasar ke atas lantai kamar tidur yang dingin.  Erick langsung menelan ludahnya dengan kasar begitu melihat Serena, yang sedang terbaring nyaris telanjang di bawah dekapan hangat tubuhnya sambil menatapinya dengan tatapan sayunya. Hanya sebuah bra hitam dan panties berwarna senada yang masih menutupi tubuh polos Serena. Jantung Erick berdegup kian kencang. Peluh mulai membasahi pelipis mulusnya. Kedua matanya sudah berkabut, tertutup oleh kabut gairah dan nafsu yang kian memuncak. Erick Navarro tak kuasa lagi menahan hasrat biologis yang selama ini terus bergejolak dalam dirinya. “Erick ..,” bisik Serena, yang nyalinya seolah-olah menciut begitu melihat tatapan kedua mata Erick yang begitu intens. Persis seperti tatapan seekor singa yang sedang memata-matai buruannya dalam diam dan gelapnya malam. Erick mencium bibir Serena sekilas sebelum akhirnya bibirnya bergerak turun, menciumi paha mulus Serena bergantian, sambil sesekali mengelus kulitnya yang terasa lembut itu. Jari-jari tangan Erick ikut bergerak, mengelus nakal lipatan daging Serena dari balik panties hitam nya. “Ahh ..,” desah Serena. Tubuhnya semakin bergetar hebat. Hari ini, Erick Navarro sudah berhasil membawa Serena terbang jauh ke dalam nikmatnya lautan gairah. Dengan perlahan, Erick beralih membuka kaitan bra yang masih menutupi gundukan ranum Serena. Begitu bra nya sudah terbuka, Serena langsung menutupi kedua gunung kembarnya dengan tangannya. Wajah Serena yang cantik itu langsung memerah padam. Serena merasa begitu malu, karena selama ini tak ada seorang pun yang pernah melihat bagian paling sensitif dan pribadi dari tubuhnya itu. “Jangan, Erick ..,” kata Serena takut-takut. Erick tersenyum hangat sambil mengelus pipi mulus Serena dengan ibu jarinya, “Kenapa, hm?” Serena menatap Erick dengan tatapan polosnya, “Aku .. aku malu ..” Erick tersenyum, “Tidak usah merasa malu, Serena.” Erick beralih mencium lembut bibir Serena sekilas, sebelum akhirnya lanjut bicara dengan tatapan matanya yang begitu intens dan serius, “Kamu tidak perlu jadi sempurna untuk bisa membuat aku tergila-gila sama kamu, Serena ..” Pipi Serena semakin merona padam begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Erick. Setelahnya, Serena hanya terdiam, menatapi wajah tampan Erick dengan tatapan matanya yang begitu sayu dan menggairahkan di saat yang bersamaan. Erick lanjut bicara, “Aku boleh melanjutkannya?” Serena hanya mengangguk perlahan. Setelahnya, Erick beralih menanggalkan panties yang menutupi daerah intim Serena. Milik Erick semakin terasa sesak dan terlihat semakin menonjol dari balik celananya, begitu melihat Serena yang sudah terbaring polos di hadapannya tanpa sehelai benang pun. “Oh, Serena ..,” bisik Erick. Dengan penuh nafsu, Erick mulai menciumi sambil sesekali menyesapi puncak gunung kembar Serena bergantian. Meninggalkan banyak sekali tanda kepemilikan di sekitar gunung kembar Serena yang mulus. Jari-jari tangannya tak tinggal diam, ikut memainkan dan meremas gundukan ranum Serena dengan begitu lihainya. Membawa Serena terbang semakin jauh ke dalam nikmatnya percintaan panasnya. “Ahh ..,” desah Serena. Erick menyeringai puas. Perlahan, jari-jari tangan Erick mulai turun, membelai lipatan daging Serena yang kini sudah tak tertutup sehelai benang pun. Dengan lembut, Erick langsung memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang hangat Serena yang sudah basah itu. Serena langsung mendesah kencang sambil mencengkeram kuat punggung Erick, “Ahh!” Erick mencium bibir Serena sekilas, “I love you so much, Serena ..” Jari-jari tangan Erick bergerak semakin liar di dalam lubang hangat Serena. Desahan Serena kian bertambah kencang begitu Erick memasukkan lagi satu jarinya, sambil terus memainkan lipatan dagingnya yang terasa begitu hangat dan sempit itu dengan begitu liarnya. Sebuah sensasi yang terasa asing  namun begitu nikmat langsung menjalari sekujur tubuh Serena kala Erick menekan klitorisnya dengan lembut,  “Ahh .. Ah, Erick!” Erick langsung menyeringai puas, “Di sini?” “Ah, iya! Di situ, Erick!” desah Serena kala Erick terus memainkan klitorisnya dengan nakal. Jari-jari tangan Erick bergerak semakin liar. Peluh kian membasahi sekujur tubuh Serena. Otaknya tak lagi bisa berpikir jernih. Seluruh jiwa dan raganya seolah-olah sudah hanyut, ikut terbawa masuk ke dalam nikmatnya pusaran gairah. Sambil terus memainkan jari-jarinya dengan tempo cepat dan kasar di dalam lubang hangat Serena, bibir Erick yang terasa begitu halus itu mulai ikut bergerak, menyesapi puncak gunung kembar Serena bergantian. “Ahh! Erick!” desah Serena yang tak kuasa menahan betapa nikmatnya kala dua bagian paling sensitif dalam tubuhnya terus dimainkan dengan liar oleh Erick. Tak lama setelahnya, sebuah sensasi lain muncul dalam diri Serena. Tetibaan, tubuh Serena merasa seperti ingin mengeluarkan sesuatu .. Seolah-olah ada sebuah gejolak yang akan meledak tak lama lagi di dalam tubuhnya. Ya, Serena akan mencapai o*****e pertamanya. Puncak kenikmatan pertama yang dirasakan Serena sepanjang sejarah hidupnya. “Erick, stop ..” desah Serena. Sambil terus menyesapi puncak gunung kembar Serena, Erick langsung menyeringai nakal begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Serena. Bukannya berhenti, Erick malah semakin mempercepat gerakan jari-jari tangannya, memainkan milik Serena dengan tempo yang semakin cepat dan liar. Gejolak itu semakin membendung dalam diri Serena. Napasnya semakin terengah-engah dan memburu. Rasanya semakin tak tertahankan, hingga akhirnya Serena benar-benar larut terbawa ke dalam pusaran puncak kenikmatan pertamanya. Serena mendesah kencang begitu akhirya mencapai o*****e pertamanya, “Erick, aku mau .. Ahh!” Erick kembali mencium bibir Serena begitu melihat Serena yang akhirnya mencapai o*****e pertamanya. Erick menyeringai puas, “Merasa bahagia, Serena?” Serena tersenyum dan mengangguk, “Hmm ..” Tiba-tiba, pipi mulus Serena kembali merona saat merasakan ada sesuatu yang terasa begitu keras dan menonjol menyentuh daerah intimnya. Erick langsung menyeringai nakal, seolah-olah tahu apa yang ada di dalam pikiran perempuan cantik yang sedang ditindihnya ini. “Oh, ‘ini’ hal yang wajar kok,” goda Erick. Erick kembali bicara sambil menyeringai nakal, “Mau lihat?” Pipi Serena tambah merona padam. Belum sempat Serena merespon, Erick sudah keburu bangkit berdiri, lalu dengan cekatan langsung membuka celana jins beserta boxer nya. Pipi Serena semakin merona padam, bahkan kini rona merah di pipinya sudah menyebar sampai ke seluruh bagian wajah cantiknya, begitu kedua mata indahnya melihat langsung bagaimana besar dan perkasanya milik seorang Erick Navarro. ‘Oh astaga, besar sekali ..,’ batin Serena. Dengan langkah perlahan, Erick kembali mendekati Serena. Erick menatap Serena dalam-dalam sambil mengelus pipi mulusnya dengan jari-jari tangannya. “Touch it, Serena,” perintah Erick. Dengan perasaan takut dan malu yang berkecamuk di saat yang bersamaan, Serena mulai menyentuh milik Erick. Diremasnya dengan lembut batang keperkasaan Erick dengan jari-jari tangannya yang lentik itu, membuat napas Erick terdengar semakin kasar dan memburu. “Seperti ini?” tanya Serena dengan tatapan matanya yang begitu polos. Erick menyeringai puas. “Yeah .. Faster baby..,” jawab Erick dengan tatapan matanya yang sudah begitu b*******h. Serena semakin mempercepat gerakan dan remasan tangannya di daerah intim Erick. Napas Erick terdengar semakin terengah-engah, miliknya terasa semakin mengeras dan berkedut-kedut. “Damn, Serena ..,” desah Erick. Akhirnya, sesuatu yang selama ini kerap kali menjadi fantasi liar seorang Erick Navarro bisa terwujud juga. Ya, Erick sudah berhasil membuat Serena mau memuaskan gairahnya hari ini. Memuaskan hasratnya dengan jari-jari tangannya yang begitu lentik. Menatap wajah tampannya dengan tatapan kedua matanya yang begitu sayu .. Oh, dan yang paling penting, Erick sudah berhasil membuat Serena mendesahkan namanya hari ini. Serena meremas milik Erick dengan lembut namun juga begitu lihai di saat yang bersamaan. Rasanya jauh lebih memabukkan dibandingkan dengan apa yang Erick bayangkan selama ini. Seolah-olah Serena Yatalana memang sudah ditakdirkan untuk menjadi milik Erick Navarro seorang. Sebuah erangan panjang nan nikmat langsung lolos dari bibir Erick seketika Serena akhirnya berhasil membawa dirinya mencapai puncak kenikmatannya. Erick mengeluarkan benih cintanya begitu banyak, sampai-sampai sebagian tumpah ke pahanya sendiri. Setelahnya, Erick kembali menindih tubuh mungil Serena, lalu mencium lagi bibirnya sekilas. Erick terdiam sejenak, memperhatikan wajah cantik Serena sambil mengelus pipi mulusnya yang terasa halus itu dengan jari-jari tangannya. “Ada apa, Erick?” tanya Serena penasaran. “Aku tidak bisa melanjutkannya. Aku harus pulang sekarang,” jawab Erick. Serena mengerutkan dahi mulusnya, “Kenapa?” Erick menghela napas sejenak, “Aku takut. Aku tahu aku tidak akan bisa berhenti dan mengendalikan diri aku kalau harus terus-terusan bersama kamu, Serena.” Erick mencium bibir Serena sekilas lalu menunjukkan sebuah seringai nakal di wajah tampannya, “Aku benar-benar akan ‘memasuki’ kamu nanti, jika kamu sudah siap. Anggap saja kalau ini cuman ‘permainan’ pembuka.” Lagi-lagi pipi mulus Serena merona merah. Erick hanya tersenyum hangat, lalu dengan perlahan mulai bangkit berdiri dan memakai kembali boxer beserta celana jinsnya. Dengan sigap, Erick mengambil kembali seluruh pakaian Serena yang tadi dibuangnya dengan kasar ke atas lantai kamar tidurnya. Erick tersenyum hangat, “Sini, biar aku bantu kamu memakai pakaian kamu lagi.” Serena tersenyum manis, “Kamu nggak mau makan dulu? Biar aku yang masak.” Erick menggeleng. “Nggak usah, aku nggak lapar,” jawab Erick sambil membantu Serena mengaitkan kembali bra hitam yang tadi dipakainya. Begitu kelar membantu Serena mengenakan seluruh pakaiannya kembali, Erick langsung angkat bicara, “Besok pagi aku jemput kamu, biar kita berangkat ke kantor bersama, oke?” Serena hanya tersenyum dan mengangguk. Setelahnya, Serena mengantar Erick sampai ke depan pelataran rumahnya. Toh Serena sudah tak peduli lagi jika harus jadi bahan gosip ibu-ibu berdaster yang juga tetangganya itu.  Erick tersenyum manis, “Thanks for today, Serena. Aku nggak sabar bisa bertemu sama kamu lagi di dalam mimpi aku.” “Hati-hati di jalan, Erick,” kata Serena malu-malu. Erick mencium dahi mulus Serena sekilas, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jaguar hitamnya, “Sampai jumpa besok.” ***** Begitu melihat sebuah mobil jaguar hitam yang sudah terparkir rapih di halaman depan rumah gedongan tempatnya mengabdi, Satya langsung dihadapkan oleh sebuah senyum manis dari seorang Erick Navarro. ”Selamat malam, tuan Erick,” sapa Satya yang merasa sedikit bingung begitu melihat sebuah senyum lebar yang menghiasi wajah tampan Erick. Tuan mudanya ini terlihat sedang bahagia sekali. Persis seperti orang yang baru menang undian berhadiah. “Katherine sudah pulang?” tanya Erick penasaran. Satya mengangguk, “Sudah, tuan. Katherine sudah tidur di kamarnya.” Erick tersenyum lebar, “Bagus kalau begitu.” Aneh sekali. Padahal tadi siang Erick baru saja kelar mengomeli adik perempuan satu-satunya itu. Oh, bahkan Erick sampai menyuruh Satya membawa Katherine keluar dari rumahnya. Tapi kenapa tiba-tiba tuan muda tampan yang sedang berdiri di hadapannya ini jadi terlihat bahagia sekali? Satya menaikkan satu alisnya, “Tuan Erick mau makan sesuatu? Biar saya yang belikan makan malamnya.” Erick menggeleng, masih dengan senyum lebar di wajah gantengnya, “Nggak usah. Aku mau mandi dan langsung tidur saja.” Satya mengangguk, “Baik, tuan.” Satya hanya terdiam sambil memperhatikan Erick yang menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya dengan langkah yang amat bersemangat. Satya langsung menggeleng. ‘Aneh sekali, seperti orang yang lagi jatuh cinta saja,’ batinnya. ***** Waktu menunjukkan hampir pukul dua pagi saat seorang laki-laki membuka pintu rumah Serena, yang tidak terkunci itu, dengan amat perlahan. Wajah laki-laki itu terlihat samar di bawah sinar rembulan yang cahayanya masuk melalui celah jendela kaca di rumah Serena. Dengan langkah pelan, laki-laki itu berjalan mengitari rumah Serena yang sudah gelap. Jari-jari tangannya mulai bergerak, menyusuri tembok rumah Serena dengan sebuah senyum hangat di wajahnya. Seketika, memorinya membawanya kembali ke dalam kenangan masa lalu yang pernah dilaluinya sesaat di dalam rumah ini.  ‘Rumah ini masih sama. Masih seperti yang dulu,’ batin laki-laki itu. Dengan langkah perlahan, laki-laki itu mulai berjalan menuju kamar tidur Serena. Dahi mulus laki-laki itu langsung mengkerut. Dirinya langsung tertegun seketika mendapati kalau Serena tidak hanya tidak mengunci pintu rumahnya, tetatpi juga pintu kamar tidurnya sendiri. Oh, ternyata tidak hanya rumahnya yang terasa masih sama, bahkan Serena pun masih sama. Masih teledor. Serena begitu tidak awas, sampai-sampai lupa mengunci pintu kamarnya sendiri. Atau mungkin, Serena memang sengaja tak mengunci pintu rumahnya. Toh mungkin yang ada di dalam pikiran Serena, jangankan mau masuk mencuri, begitu melihat penampakan luar rumahnya pun, sang pencuri pasti akan langsung ogah melanjutkan aksinya. Laki-laki itu menghela napas sejenak. ‘Ck, Serena .. Kenapa kamu begitu teledor,’ batin laki-laki itu kesal. Dengan langkah teramat pelan, nyaris tak terdengar, laki-laki itu mulai menelusup masuk ke dalam kamar tidur Serena. Jantungnya kian berdegup kencang begitu matanya mendapati ada seorang perempuan cantik yang sedang tertidur dengan pulasnya di atas ranjang tempat tidurnya. Wajahnya terlihat begitu damai. Sebuah senyum kecil menghiasi wajah cantiknya. Laki-laki itu berlutut tepat di samping ranjang tempat Serena tidur, lalu dengan perlahan, laki-laki itu mulai mengelus pipi mulus Serena dengan punggung tangannya. Tanpa terasa, sebuah air mata langsung jatuh dan membasahi pipinya. “Maafkan aku, Serena ..,” lirih laki-laki itu. Laki-laki itu beralih mencium dahi mulus Serena sekilas, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Serena. Meninggalkannya sendirian di dalam remang cahaya kamar tidurnya. Laki-laki itu menghela napas sejenak. “Aku akan memiliki kamu lagi, Serena. Kamu hanya milikku. Ingat itu,” bisik laki-laki itu. ❤❤TO BE CONTINUED❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN