Chapter 6 - Izinkan Aku Menyentuh Tubuhmu

2411 Kata
Matahari bersinar cukup terik hari ini. Panasnya sinar matahari bahkan terasa begitu menyengat, membuat ubun-ubun terasa seperti terbakar. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas siang saat Erick dan Serena akhirnya sampai di rumah. Begitu selesai memarkir mobil jaguar hitamnya, Erick dan Serena langsung bertemu dengan Satya, ajudan sekaligus tangan kanan Erick Navarro yang begitu setia itu. Satya sedang berdiri sendirian di depan rumah Erick, sambil terus berjalan bolak-balik di tempatnya. Persis seperti orang yang lagi banyak pikiran. Dahinya mengkerut, raut wajahnya dipenuhi rasa cemas dan panik di saat yang bersamaan.  Begitu melihat Erick dan Serena yang baru saja menginjakkan kakinya di halaman depan rumah gedongan itu, Satya langsung tertegun kaget. Seolah-olah sepasang manusia yang sedang dilihatnya ini adalah hantu. “Ada apa, Satya?” tanya Erick bingung. “Itu .. Katherine sudah pulang, tuan,” jawab Satya dengan raut wajahnya yang terlihat masih cemas itu. Dahi mulus Erick langsung mengkerut, “Bukannya kemarin kamu bilang kalau Katherine baru pulang lusa besok?” “Iya, tapi katanya penerbangannya lebih cepat sehari, tuan,” jawab Satya. Erick menghela napas sejenak, “Di mana dia sekarang?” “Sedang minum di ruang tamu.” Begitu masuk, Erick mendapati Katherine sedang asik minum sendirian di ruang tamu rumahnya. Dua botol wine yang isinya sudah habis diminum itu tergeletak di atas meja kaca besar, persis di depan sofa empuk yang sedang diduduki Katherine. Tiga buah gelas kaca, yang entah bekas siapa saja itu, tergeletak tak beraturan di atas lantai. Noda bekas wine yang tumpah dan abu bekas rokok menghiasi lantai marmer di sekitar tempat Katherine duduk. Seketika, kepala Erick langsung berdenyut-denyut. Katherine sudah sukses membuat ruang tamu rumah Erick terlihat begitu kacau dan berantakan. Persis seperti kapal yang baru saja diterpa angin topan. Begitu mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekatinya, Katherine langsung menoleh dan menunjukkan senyum lebarnya, “Hey, brother.” Dahi mulus Erick tambah mengkerut. Sepertinya Katherine sudah mabuk berat. Matanya terlihat begitu sayu dan sudah memerah. “Sejak kapan kamu sampai di sini?”  tanya Erick sedikit ketus. Katherine menoleh menatap jam tangan olivia burton yang menghiasi pergelangan tangan kirinya sejenak lalu kembali menunjukkan senyum anehnya, “Tiga jam yang lalu ..” Erick menghela napas sejenak, mencoba mengumpulkan semua kesabaran yang masih tersisa dalam dirinya, lalu beranjak merapihkan botol wine dan gelas-gelas kaca yang tergeletak tak beraturan di samping Katherine. Erick semakin mengerutkan dahi mulusnya begitu mencium aroma wine dan rokok yang sangat kuat di tubuh adik perempuan satu-satunya itu. “Berapa banyak yang kamu minum?” tanya Erick kesal. Katherine terdiam sejenak, tak menggubris pertanyaan Erick. Kedua matanya langsung terpana pada Serena, yang masih terdiam membatu di tempatnya dengan tatapan begitu bingung. Katherine memperhatikan Serena dari ujung kaki hingga ujung rambutnya dengan tatapan yang begitu serius, sebelum akhirnya tersenyum nakal dan sedikit meremehkan. “Nggak banyak kok ..,” jawab Katherine yang sorot kedua matanya masih tak berhenti memandangi Serena. “s**t, berapa banyak cowok sih yang kamu undang ke sini? Aku kan sudah bilang, kalau mau pesta cari tempat sendiri sana!” bentak Erick yang sudah merasa kesal setengah mati. Oh seandainya saja adiknya ini laki-laki, Erick pasti sudah menghadiahi wajahnya yang mulus itu dengan sebuah bogeman yang amat keras. Katherine tak menggubris omongan dan celotehan Erick, yang terdengar bagai angin lalu di telinganya itu. Perlahan, Katherine bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Serena dengan langkah yang begitu sempoyongan. Katherine memperhatikan wajah Serena dari dekat. Kepalanya begitu dipenuhi oleh rasa penasaran, ingin melihat secara detil bagaimana sosok perempuan muda yang begitu cantik dan manis ini. Katherine terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah Serena. Persis seperti seorang kritikus seni yang terdiam sejenak untuk mencari makna arti sebuah lukisan abstrak. Kedua mata Serena langsung membulat. Aroma wine dan rokok yang cukup kuat langsung menyeruak dan memenuhi indera penciumannya. Perlahan, Katherine memegang rambut panjang Serena yang halus itu dengan raut wajah sedikit mencemooh dan jijik. Seolah-olah rambut Serena adalah sampah yang harus dibuang ke tempatnya sesegera mungkin. “Siapa perempuan ini, Erick?” tanya Katherine penasaran. Erick langsung menoleh lalu berjalan cepat menghampiri Serena. Erick langsung menepis tangan Katherine dari rambut Serena dengan begitu kasar, “Jangan sentuh dia!” Katherine menyeringai, “Kekasih baru kamu?” “Tidak usah ikut campur,” kata Erick dingin. Katherine terdiam sejenak untuk berpikir. “Ah, apa jangan-jangan perempuan bayaran ya?” cemooh Katherine. Begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Katherine, pipi Serena langsung merona padam. Amarah dan rasa malu langsung berkecamuk dalam dirinya. Katherine lanjut mencemooh Serena, “Sudah berapa kali kalian bercinta?” Kali ini amarah Erick sudah sampai ke ubun-ubunnya. Kesabarannya sudah habis. Katherine benar-benar sudah keterlaluan. “Cukup, Katherine!” bentak Erick yang suaranya terdengar begitu menggelegar itu. Sangkin menggelegarnya, Serena sampai ikut tertegun sendiri. Ternyata Erick Navarro kalau sudah marah seram juga. Seketika, sosok Erick yang tadi pagi tersenyum hangat dan begitu ramah pada Serena langsung lenyap. Menghilang bagai ditelan bumi, entah ke mana perginya sosok itu. “Satya!” panggil Erick kesal. Satya langsung menghampiri Erick tak lama kemudian. “Ada apa, tuan?” tanya Satya bingung. Erick menatap Katherine sinis, “Bawa dia keluar dari rumah ini.” Satya mengangguk semangat, “Baik, tuan.” Satya beralih memegangi bahu Katherine, yang terlihat sudah sempoyongan itu, lalu membawanya berjalan keluar dari rumah Erick. Katherine langsung menepis lengan Satya dari bahunya dengan kasar, “Ah, lepas! Aku bisa jalan sendiri!” Katherine beralih bicara lagi pada Serena dengan seringai di wajahnya yang terlihat sudah begitu mabuk itu, “Kamu hati-hati sama Erick. Banyak yang bilang dia cukup liar di atas ranjang.” Begitu Katherine sudah lenyap dari rumahnya, Erick beralih bicara pada Serena lagi. Erick memegang lengan Serena dengan lembut sambil memandangi wajahnya dengan tatapan sedikit khawatir, “Kamu nggak apa-apa?” Serena hanya mengangguk sambil menatapi Erick dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Serena terdiam sejenak untuk berpikir. ‘Mungkinkah cewek itu kekasihnya? Lagipula tidak mungkin juga kan cowok setampan Erick masih sendiri?’ batin Serena. Melihat Serena yang hanya terdiam sambil terus memandangi wajahnya, Erick malah jadi tambah penasaran, “Ada apa, Serena?” Serena terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Siapa perempuan itu, Erick?” tanya Serena dengan raut wajah takut dan malu di saat yang bersamaan. Erick menghela napas, “Katherine, dia adik aku.” “Oh .. Aku pikir dia kekasih kamu ..,” kata Serena. Suaranya terdengar begitu pelan, nyaris terdengar seperti sebuah bisikan. Tapi sayangnya, Erick masih bisa mendengar suara Serena dengan jelas. Erick tersenyum geli. “Apa yang barusan kamu bilang, hm?” tanya Erick yang pura-pura bodoh dan tidak dengar. Serena langsung tersipu malu, “Lupakan saja ..” Erick mengangkat bahunya, “For your information, aku belum punya kekasih. Jadi kamu tidak usah khawatir.” Pipi Serena langsung merona, “Oh begitu ..” Oh astaga, buat apa juga Serena mencari tahu apakah Erick sudah punya pacar atau belum? Toh tidak ada untungnya juga buat dirinya. Setelah menyuruh asisten rumah tangganya membersihkan kekacauan yang sempat dibuat Katherine tadi, Erick langsung mengajak Serena duduk bersebelahan di sofa empuk di ruang tamunya. Erick lanjut bertanya, “Kamu mau makan?” Serena terdiam sejenak untuk berpikir. Entah mengapa, tetibaan dirinya ngidam makan yang manis-manis. Apalagi di luar cuaca sedang panas. Sepertinya ice cream cake sesuatu yang paling cocok untuk dimakan saat cuaca panas seperti ini. Serena tersenyum, “Aku mau makan es krim. Di luar kan lagi panas, jadi aku rasa paling enak kalau makan sesuatu yang dingin dan manis.” Oh, kebetulan sekali Erick baru ingat kalau dirinya punya ice cream cake rasa blueberry yang belum sempat disentuhnya dari kemarin. “Kamu tunggu sini,” kata Erick. Setelahnya, Erick langsung berjalan menghampiri kulkas tiga pintunya yang berukuran jumbo itu, lalu mengeluarkan sepotong ice cream cake blueberry dari dalam sana. Serena langsung berbinar-binar begitu kedua matanya melihat sepotong ice cream cake blueberry yang dibawa Erick menggunakan piring kristalnya. “Aku boleh coba?” tanya Serena semangat. Erick mengangguk, “Sure. Aku belum sempat coba dari kemarin. Tapi harusnya sih rasanya enak.” Serena langsung memotong perlahan ice cream cake blueberry pemberian Erick. Rasa bahagia seketika memenuhi diri Serena kala indera pengecapnya merasakan bagaimana nikmatnya lelehan es krim blueberry dan kue yang adonannya terasa begitu lembut itu. “Bagaimana?” tanya Erick penasaran. Serena tersenyum lebar, “Enak sekali, Erick.” Erick tersenyum hangat, “Kamu makan saja semuanya.” “Terus kamu makan apa?” tanya Serena dengan tatapan matanya yang begitu polos. Senyum di wajah ganteng Erick melebar, “Di kulkas masih banyak kok.” Erick kembali bicara begitu melihat Serena sudah selesai memakan ice cream cake blueberry pemberiannya. “Sudah merasa enakan?” tanya Erick hangat. Serena tersenyum dan mengangguk, “Hmm ..” Erick menghela napas sejenak, “Maaf soal tadi. Katherine memang suka bicara yang aneh-aneh kalau lagi mabuk.” Begitu mendengar nama Katherine disebut, seketika Serena langsung teringat akan perkataan terakhir yang diucapkan Katherine tadi. “Kamu hati-hati sama Erick. Banyak yang bilang dia cukup liar di atas ranjang.” Pipi Serena langsung merona padam. Membayangkan Erick telanjang saja sudah membuat wajahnya memerah. Apalagi membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan Erick? Serena langsung menggelengkan kepalanya. Oh astaga, apa sih yang lagi Serena pikirkan? “Kamu kenapa?” tanya Erick bingung. “Nggak apa-apa ..,” bohong Serena. Seketika, tubuh Serena langsung bergetar kala Erick meletakkan punggung tangannya di atas dahi mulusnya. Oh, perasaan apakah ini? “Badan kamu nggak panas, tapi kok muka kamu merah? Kamu nggak lagi demam kan?” tanya Erick khawatir. Serena hanya menggeleng perlahan. Setelahnya, Serena terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bicara. “Erick?” panggil Serena malu-malu. Erick menatap Serena dalam-dalam, “Kenapa, hm?” Serena tersenyum manis, “Aku cuman mau bilang terima kasih. Berkat kamu, biaya operasi ayah akhirnya bisa lunas.” Erick membalas senyum Serena, “It’s okay.” Erick langsung tersenyum geli begitu kedua matanya mendapati ada noda bekas saus blueberry yang masih tertinggal di sudut bibir Serena. “Kenapa? Kok kamu malah senyum-senyum begitu?” tanya Serena bingung. Dengan perlahan, Erick bergerak mendekati Serena, lalu mencium sudut bibir Serena dengan lembut. Lidahnya bergerak nakal, menjilati dan membersihkan noda bekas saus blueberry yang tertinggal di sudut bibir Serena. Untuk sesaat, Erick mencium lembut bibir Serena yang terasa manis itu sebelum akhirnya melepaskan ciumannya. Erick menyeringai nakal, “Tadi saus blueberry nya berantakan di bibir kamu.” Kedua mata Serena langsung membulat. Jantungnya berdegup lebih kencang seketika. Pipinya merona padam, bak tomat segar yang baru saja selesai dipanen. Erick hanya tersenyum lebar sambil menatapi Serena yang terlihat begitu malu dan salah tingkah. Perempuan cantik yang sedang duduk di sampingnya ini memang begitu polos .. dan begitu menggairahkan di saat yang bersamaan. Erick beralih menatap jam rolex hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya sejenak, “Kamu mau pulang sekarang? Biar aku yang antar.” Serena langsung mengangguk dengan semangat, “Iya. Aku mau pulang sekarang.” Erick tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang begitu bersih dan rapih, “Alright.” ***** Waktu menunjukkan hampir pukul tiga sore begitu Erick akhirnya sampai di depan pekarangan rumah Serena. Ya, ini kali pertama Erick Navarro menginjakkan kakinya di depan rumah kecil nan sederhana yang begitu asri itu. Begitu melihat mobil jaguar hitam milik Erick yang terparkir rapih di halaman depan rumah Serena, sekumpulan ibu-ibu berdaster langsung memandangi Serena dengan tatapan yang begitu sinis. Beberapa diantaranya bahkan ada yang sampai bisik-bisik juga. Mungkin yang ada di pikiran ibu-ibu itu, Serena sudah jadi simpanan seorang ekspat muda nan ganteng sekarang. Erick menatap ibu-ibu itu bingung, “Kamu kenal sama mereka?” Serena menggeleng, “Nggak terlalu. Nggak usah didengar, mereka memang sukanya ngegosip.” Dahi mulus Erick langsung mengkerut, “Mereka suka bicara hal-hal buruk tentang kamu?” Serena tersenyum kecut, “Biarkan saja, itu urusan mereka.” Erick kembali bicara setelah melihat Serena yang sudah selesai membuka pintu rumahnya, “Aku boleh mampir sebentar?” Serena tersenyum hangat, “Tentu. Kalau kamu mau.” Erick tersenyum lebar, “Tentu saja aku mau.” Begitu masuk, Erick langsung merebahkan tubuhnya yang tinggi semampai itu di atas sofa kecil nan empuk di ruang tamu rumah Serena. “Kamu mau minum?” tanya Serena. Erick mengangguk dan tersenyum, “Boleh. Air putih saja, nggak apa-apa.” Tak sampai lima menit kemudian, Serena kembali menghampiri Erick dengan segelas air putih di tangannya. “Kamu tinggal sendirian di rumah ini?” tanya Erick selepas menenggak habis air putih pemberian Serena. Serena menggeleng. “Nggak, aku tinggal sama ayah. Tapi kan ayah masih dirawat di rumah sakit sekarang,” jawab Serena yang kini duduk bersebelahan persis di samping Erick. Erick menatap Serena dalam-dalam, “Jadi itu artinya .. kamu tinggal sendirian untuk sementara waktu ini?” Serena hanya mengangguk. “Aku boleh lihat-lihat?” tanya Erick penasaran. Serena tersenyum, “Tentu.” Setelahnya, Erick berjalan santai sebentar, menyusuri rumah Serena sembari memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan begitu serius. Persis seperti detektif yang lagi mencari tahu apa penyebab pembunuhan di tempat kejadian perkara. Setelah puas mengelilingi rumah Serena, Erick langsung kembali ke tempat duduknya semula. “Kamu tidur di mana?” tanya Erick penasaran. Serena menunjuk ke arah kamar pribadinya, “Di situ.” “Kalau ayah kamu?” Serena beralih menunjuk ke arah kamar yang berada persis di seberang kamar pribadinya, “Di sana.” Setelahnya, Erick hanya terdiam sambil terus memandangi wajah Serena. Perlahan, Erick bergerak mendekati Serena, mencoba menghapus jarak yang memisahkan tubuh keduanya. Seketika, jantung Serena berdegup semakin kencang. Erick menatapinya dengan tatapan yang begitu asing .. Sebuah tatapan yang nampak begitu b*******h. “Ke .. kenapa, Erick?” tanya Serena takut-takut. Erick tak menggubris pertanyaan Serena. Perlahan, jari-jari tangannya yang lembut nan kokoh itu mulai bergerak, membelai wajah dan rambut Serena dengan begitu lembut. Erick menangkupkan wajah Serena, lalu mencium lembut bibirnya. Dengan begitu perlahan, ciuman nakal bibir Erick mulai turun ke leher mulus Serena. Menyesapi dan menghujani leher mulus Serena dengan cumbuan yang begitu b*******h. Meninggalkan banyak tanda kepemilikan yang tak akan hilang dalam hitungan hari. Tanpa sadar, sebuah desahan nikmat akhirnya lolos dari bibir Serena begitu Erick meremas gunung kembarnya dengan lembut, “Ahh ..” Erick menghentikan cumbuan panasnya sejenak, lalu beralih menatap kedua mata Serena dalam-dalam. “Serena .. Bolehkah aku menyentuh tubuhmu?” tanya Erick dengan suaranya yang terdengar amat berat dan sedikit parau itu. Serena hanya terdiam, memperhatikan wajah ganteng Erick yang sorot kedua matanya sudah begitu dipenuhi oleh gairah itu .. ❤❤TO BE CONTINUED❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN