Sikap Diva

1222 Kata
"Lo mulai ngajar jam berapa?" tanya Gani. "Jam pelajaran ke tiga." "Gue juga." Gani menaruh gelas yang baru saja ia tenggak isinya. "Gue duluan, ya," pamitnya lalu melangkah keluar. Bintang hanya mengangguk tanpa bersuara, setelah itu ia tidak segera beranjak dari tempatnya meskipun sebentar lagi bel pergantian jam pelajaran akan berbunyi. Bintang masih ingin memikirkan kapan bisa mengajak Cahaya jalan-jalan malam hari jika malam ketiga dia tinggal di sini masih belum juga terlaksana. Bintang mungkin bisa saja pulang dari mengantar Dena langsung mengajak Cahaya pergi, tetapi ia tahu jam tidur Cahaya yang tidak lebih dari jam sembilan malam, yang sudah ia pastikan begitu tiba di rumah Cahaya sudah berada di alam mimpi. "Apa nanti gue pergi sama Dena satu jam aja, biar gw bisa pulang sebelum Cahaya tidur?" usul Bintang, namun di detik itu juga ia menyangkal idenya sendiri. "Tapi mana cukup kondangan cuma satu jam? Jarak tempuh dari rumah Dena ke tempat acara bisa sampe tiga puluh menitan. Yang ada nanti Dena kesel sama gue karna gue buru-buru banget," lanjutnya bermonolog. Di pikiran Bintang, ia ingin menjadi orang pertama yang bisa mengajak Cahaya jalan-jalan, karna di momen pertama itu Cahaya pasti akan sangat senang dan banyak bertanya tentang ini-itu. Belum lagi jika Cahaya merasa betah di suatu tempat dan tidak ingin cepat pulang, yang akan menjadi peluang untuk semakin lama bersama. Namun, dari semua alasan itu, alasan paling utama yakni, kenangan dan kesan yang tidak akan pernah Cahaya lupa jika ia menjadi orang pertama yang mengajaknya jalan-jalan malam. "Kalo gue nunggu besok malem, gua takut nanti malem Prita yang ajak Aya jalan-jalan. Apa lagi tadi dia bilang Aya mau minta bantuan sama dia, mungkin aja maksud bantuan itu, Aya minta diajak jalan-jalan sama Prita," gumam Bintang lagi yang masih tetap kebingungan. Hingga bel pergantian jam pelajaran berbunyi, Bintang masih tetap pada kebingungannya, yakni kapan bisa mengajak Cahaya jalan-jalan dan kapan harus pulang dari mengantar Dena. ••••• Saat ini waktu menunggu pukul tiga siang, Cahaya yang sedang berbaring di tempat tidur mendengar suara pintu pagar ada yang membuka, hingga ia langsung berjalan cepat menuruni anak tangga menuju teras rumah karena berpikir Prita sudah pulang. Namun langkahnya harus terhenti begitu melihat Diva sedang mengunci pagar, namun ia tetap tersenyum ramah sebagai sambutan. "Tante sudah pulang?" sapa Cahaya ramah diiringi senyum. Namun seramah apa pun sapaan yang Cahaya keluarkan dan semanis apa pun senyum yang Cahaya tunjukkan, tidak akan mendapat respon dari Diva. Diva terus berjalan lurus memasuki rumah tanpa melirik Cahaya sedikit pun. Entah kenapa rasa tidak terima Cahaya tinggal di rumah ini membuat kebencian untuk Cahaya yang tadinya tidak pernah ada kini hadir dan menetap di hati. Ditambah lagi tujuan Aryo mengajak anak mendiang sahabatnya itu tinggal di sini untuk dijodohkan dengan putra sulung mereka hingga membuat kebencian itu sangat sulit cegah apalagi dihilangkan. Jika kemarin-kemarin saat melihat Cahaya ada kekaguman pada wajah manis dan kepribadiannya yang sangat patuh pada kedua orang tua. Tetapi kini kekaguman itu hilang entah ke mana. Melihat Cahaya seperti melihat musuh bebuyutan dengan dendam mendalam. Jangankan melihat tersenyum Cahaya, melihat bayangannya saja kebencian sudah langsung mendominasi hati. Cahaya menghela nafas mencoba bersabar pada sikap Diva karena ia yakin sikap seperti ini akan menjadi makanan sehari-hari selama ia tinggal di sini, jadi ia harus belajar dari sekarang berlapang d**a dengan semua sikap nyonya rumah. Cahaya berjalan ke dalam rumah untuk kembali ke kamar, tapi ketika berjalan di belakang Diva, matanya tertuju pada satu kantung plastik besar yang Diva bawa di tangan kanan berisi sayur-mayur, hingga timbul rasa ingin membantu dan mengurungkan niat berbaring di kamar. "Tante Diva bawa sayuran, itu brati Tante mau masak, mending aku bantuin biar aku ada kegiatan," batin Cahaya tanpa mengalihkan tatapan dari kantung plastik berwarna putih di tangan Diva. Cahaya meluruskan langkah menuju dapur mengikuti Diva. Lalu begitu kantung plastik itu ditaruh di lantai, ia langsung mendekati dan membuka ikatan plastik dengan maksud melihat sayuran apa saja yang Diva bawa agar bisa langsung ia kupas atau bersihkan. Namun tindakan sepele yang Cahaya lakukan itu membuat Diva sangat marah sampai membentak. "Ngapain kamu buka-buka belanjaan itu?! Kamu mau berantakin sayuran Tante?!" bentak Diva kesal. Kedua tangan Cahaya langsung melepas brokoli yang sedang ia pengang karena kaget sekaligus takut dengan suara lantang Diva. "Eng—enggak, Tante. A—aya cuma mau bantuin kupasin sayuran yang Tante bawa," jawab Cahaya terbata-bata. "Ga usah bantu-bantu. Tante ga butuh bantuan kamu!" "Maaf, Tante." Cahaya menunduk ketakutan. "Mending kamu pergi aja. Di depan Tante kamu ga usah pura-pura rajin. Tante bukan Om Aryo yang bisa kamu bohongin. Kamu ga akan bisa ngejilat Tante dengan sok rajin!" hardik Diva lagi. Cahaya semakin takut dengan kemarahan Diva dan semakin takut ada kata-kata lebih menyakitkan lagi keluar dari mulut Diva. Selain itu, ia juga tidak berani menyahut ketika sedang dimarahi maka, ia memilih pergi sambil menahan tangis. "Aya minta maaf, Tante, Aya permisi." Cahaya langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Ketika melewati ruang TV, Cahaya tidak sengaja menabrak Bintang yang ternyata baru tiba di rumah. "Aww! pekik Cahaya, kaget. Ditabrak cukup kencang, sebenarnya tidak masalah untuk Bintang, tapi karna yang menabrak adalah Cahaya ia langsung bersikap galak. "Liat-liat kalo jalan. Mata lo but—" Tidak mau menambah kemarahan dari satu tuan rumah lagi, Cahaya memilih menyela ucapan Bintang untuk meminta maaf. "Maaf, Kak Binta— Maksud Aya, Kak Bi. Maaf Kak Bi, Aya salah. Aya ga sengaja nabrak Kak Bi. Maaf, Aya jadi pengacau di rumah ini. Maaf, Aya selalu bikin orang-orang di rumah ini kesel. Maaf Aya ga ada gunanya di rumah ini. Maaf, Aya kehadiran Aya di sini cuma jadi benalu. Maaf, kalo apa yang Aya lakuin salah. Aya bener-bener minta maaf, Kak," oceh Cahaya mengeluarkan semua isi hati. Sebenarnya yang membuat Bintang berhenti bicara bukanlah ucapan Cahaya, tapi rasa heran pada wajah yang memerah. Genangan air yang siap jatuh hanya dengan satu kedipan saja. Hidung yang biasanya kuning langsat kini terlihat memerah. Juga ocehan permintaan maaf yang berlebihan. Dari semua itu, Bintang yakin perasaan Cahaya tidak sedang baik-baik saja. "Lo kenapa, Ay?" Bintang langsung melembutkan ucapannya. "Aya permisi, Kak," pamit Cahaya lalu melanjutkan langkah menuju kamar. Cahaya takut jika menjawab pertanyaan Bintang, ia akan menangis tersedu yang ia yakini tidak akan mendapat pelukan ketenangan, yang ada malah kemarahan atau makian. Baru saja satu kaki Bintang bergerak untuk menyusul Cahaya ke lantai atas, tapi ia urungkan begitu mendengar suara benda jatuh disusul teriakan kemarahan ibunya. "Aaarrggg!" "Mamah?" pekik Bintang lalu berjalan cepat ke dapur. Begitu tiba di dapur, Bintang melihat Diva sedang duduk di salah satu kursi meja makan. Dadanya naik-turun dan nafas tersengal yang terlihat jelas sedang menahan amarah. Di dekat kaki meja semua sayuran tergeletak berantakan. "Ada apa sebenernya?" batin Bintang keheranan. Bintang mendekati Diva untuk bertanya sekaligus menenangkan. "Bunda kenapa?" tanya Bintang ketika sudah berdiri di depan Diva. "Baru tiga hari dia tinggal di sini, tapi Bunda udah muak banget sama anak itu." "Emangnya Aya kenapa? Apa Aya bikin Bunda marah?" Diva tidak menjawab pertanyaan Bintang karna ia juga tidak tau apa kesalahan Cahaya. Yang ia rasa hanya, semua tindakan Cahaya pasti ia benci. Jangankan bergerak, diam pun ia pasti benci. Karena tidak mendapat jawaban, Bintang memilih membereskan sayuran yang tergeletak di bawah untuk ia masukkan ke dalam plastik lalu menaruh ke meja. Setelah itu ia memilih pergi membiarkan Diva tenang dengan sendirinya, karena ia bukan tipe anak yang dekat dengan ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN