Permintaan Dena

1062 Kata
"Gue lagi sarapan, tapi diamb—" "Gani baru aja selesai sarapan pas aku dateng tadi," sela Bintang agar Gani tidak mengatakan yang sebenarnya. "Oh," balas Dena singkat. Sedangkan Gani langsung mengerutkan kening keheranan pada jawaban Bintang. "Kenapa Bintang bohong?" Dena duduk di kursinya lalu membuka slim bag yang ia taruh di atas meja untuk mengambil undangan yang akan ia tunjukkan pada Bintang. "Bintang, nanti malam bisa anter aku, ga?" tanya Dena sambil menyodorkan undangan pernikahan. Bintang berhenti menyuap lalu satu tangannya mengambil undangan yang Dena sodorkan untuk ia baca dengan detail alamat tempat diadakan pesta. "Sebenarnya undangan itu udah dikirim dari satu Minggu yang lalu, tapi mamahku baru kasih tadi pagi karena dia lupa terus mau kasihin ke aku," ucap Dena menjelaskan meskipun Bintang tidak bertanya. Membaca tanggal dalam undangan yang tepat di hari ini, ditambah lagi jam yang Dena inginkan untuk datang bertepatan dengan rencana jalan bersama Cahaya, membuat ia menimbang akan menemani Dena atau pergi bersama Cahaya. Gani menarik kotak makan dari hadapan Bintang agar bisa melanjutkan sarapan yang tertunda saat melihat Bintang sangat serius membaca. Dena hanya bisa melihat Gani mengambil makanan yang ia buat untuk Bintang karena tidak enak hati jika harus menegur apalagi melarang. "Bisa?" tanya Dena saat melihat Bintang agak lama membaca undangan. "Dia pasti bisa, Den," ucap Gani sambil menyuap. Dena melirik Gani sambil tersenyum karena menjawab pertanyaan untuk Bintang lalu menatap Bintang lagi, menunggu jawabannya. Mata Bintang memang menatap ribuan huruf di undangan, tetapi pikiran terus menimbang dan hati bermonolog hingga tidak fokus pada dua orang di dekatnya. "Gue udah rencanain dari malem pertama gue tau Aya mau tinggal di rumah, kalo gue harus jadi orang pertama yang bawa Aya jalan-jalan keluar rumah. Semalem gue ga bisa ajak dia keluar karna dia masih terlalu sedih sampe terpaksa harus gue ganti rencana itu dengan nenangin dia di kamar mandi. Gue ga mau malem ini gagal lagi jalan sama Aya, tapi gue juga ga enak hati harus nolak permintaan Dena." "Bintang, bisa ga?" tanya Dena lagi, karena Bintang tak kunjung menjawab malah semakin fokus pada undang yang sangat sederhana. Gani menyentil jari kelingking Bintang agar cepat menjawab pertanyaan Dena. Sentilan Gani berhasil membuat Bintang mengalihkan tatapan dari undangan. "Apa?" tanya Bintang pada Gani untuk sentilan yang dia lakukan. "Dena nanya lo!" Bintang langsung mengalihkan tatapan. "Tanya apa, Den?" "Kamu bisa ga nanti sore anter aku kondangan?" "Aku ga bisa janji, ya." "Kamu sibuk, ya?" "Ga sibuk, cuma ...." Bintang menggantung ucapan sambil memikirkan alasan yang bisa Dena terima. "Ya udah, kalo ga bisa ga apa-apa. Aku sama temen-temen aja." Dena tersenyum lalu mengambil dengan lembut undangan dari tangan Bintang. Bintang tidak tega melihat kekecewaan di balik senyum tipis yang Dena tunjukkan. Selain itu ia juga tidak mau gara-gara penolakan pagi ini membuat Dena menjauh yang pastinya akan membuat usahanya mendekati dua bulan ini akan sia-sia tanpa hasil, sedangkan ia masih ingin mencoba mendapatkan hatinya, maka ia memilih mendahulukan Dena daripada rencananya jalan bersama Cahaya. "Aku bisa, tapi ga bisa lama, ga apa-apa?" "Ga usah dipaksa kalo emg ga bisa," balas Dena sambil memasukkan kembali undangan itu ke dalam tas. "Aku ga ngerasa dipaksa, Den. Aku bilang gitu karna nanti sore harus gantiin Prita cek steam. Aku takut lama, jadi takut bikin kamu nunggu." Kedua tangan Dena masih tetap bergerak menaruh tas ke sudut meja lalu menyusun beberapa buku yang akan ia bawa mengajar di kelas lain, tapi otaknya berpikir dan menimbang sikap yang ia ambil tidak boleh membuat Bintang ilfeel di dengan marah dan kekanak-kanakan di saat status hubungan belum jelas. Justru di saat seperti ini ia harus menunjukkan pengertian agar perasaan Bintang semakin kuat padanya. "Bintang ga bisa nganterin karena ada kerjaan dari keluarganya bukan karena ga mau. Egois banget kalo aku marah sama hal yang bisa dimaklumin," pikir Dena. "Emg kamu mau berangkat jam berapa?" tanya Bintang meskipun Dena sibuk dengan buku-buku di depannya. Dena kembali menatap Bintang. "Aku mau berangkat jam enam, tapi kalo emg kamu ga bisa, ga apa-apa. Bintang langsung tersenyum manis untuk menunjukkan ketulusan pada jawabannya. "Aku bisa, kok. Nanti pas cek steam aku ga bakal ngobrol lama-lama sama karyawan ayahku, supaya bisa pulang sebelum jam enam. "Yakin bisa?" tanya Dena memastikan, padahal ia sudah rela jika Bintang tidak bisa mengantar. "Iya bisa," angguk Bintang diiringi senyum, tetapi hati tidak rela rencana jalan bersama Cahaya belum bisa terlaksana nanti malam, padahal ia sudah sangat ingin melihat wajah girang Cahaya saat ia ajak berkeliling mencari jajanan malam. Dena langsung tersenyum manis. "Sebelumnya makasih, ya, udah mau nganterin aku." Bintang membalas dengan anggukan sambil tersenyum. "Nanti sore aku langsung ke rumah atau tunggu di depan gang?" "Ke rumah aja, biar nanti sekalian pamit sama ayah—ibu." Bintang kembali mengangguk, tetapi kali ini anggukannya diiringi helaan nafas panjang karena rasa malu dan canggung bertemu orang tua Dena sudah terasa dari sekarang. "Ya udah, aku ke kelas dulu, ya. Bentar lagi bel jam pelajaran ke tiga bunyi," pamit Dena sembari beranjak bangun. "Iya. Aku juga bentar lagi mau ke kelas," balas Bintang. "Yuk, Gan," pamit Dena pada Gani sembari melangkah. Gani membalas dengan mengacungkan ibu jadi karena sedang sibuk menyendok makanan. "Kayanya lo udah deket banget sama Den," ucap Gani sembari mengunyah. "Lumayan," balas Bintang. "Ada niat buat seriusin dia?" "Gue hubungan sama cewe mana pun selalu serius, tapi belum tentu cewe itu mau gue seriusin." "Menurut gue, Dena juga kayanya suka sama lo." "Justru itu gue ngedeketin dia karna dia kayanya dia ada rasa sama gue." "GR banget lo. Tau dari mana dia ada rasa sama lo?" "Gue bukan anak kecil yang ga tau sikap caper cewe. Dari beberapa bulan lalu sikap Dena udah beda ke gue, kaya lebih perhatian dan banyak ngobrol sama gue. Lagian gue paling males deketin cewe yang belum gue tau perasaannya. Udah cape, kadang ujungnya cuma sia-sia aja. Yang udah gue tau perasaannya aja kadang gagal, apa lagi belum." Gani mengangguk membenarkan ucapan Bintang karna ia juga seperti itu pada wanita. "BTW, Prita gimana kabarnya?" alihnya. "Ada apa tiba-tiba nanyain ade gue." Gani menutup tempat makan yang semua isinya sudah ia habiskan lalu menyodorkan pada Bintang. "Cuma nanya aja, sekalian izin PDKT," gurauannya. Bintang hanya membalas gurauan Gani dengan senyum kecut. "Makasih sarapannya ya, Bin." Gani berkata sambil beranjak bangun untuk mengambil minuman di dispenser yang ada di sudut ruangan. "Ok," balas Bintang lalu mengambil tempat makan yang Gani berikan untuk ia pindahkan ke meja Bintang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN