Cahaya beranjak duduk penuh semangat namun, di detik itu juga gerakannya terhenti saat menyadari ide yang baru beberapa detik muncul tidak bisa ia laksanakan begitu teringat pendidikannya.
"Heeeeeh ...." Cahaya menghela nafas panjang sembari berbaring kembali. "Hanya lulusan SMA mana mungkin bisa dapat kerja di Jakarta," ucapnya pasrah.
Kepasrahannya dalam hitungan detik kembali berubah menjadi semangat ketika wejangan mendiang ibunya terngiang di telinga. "Jangan pernah menyerah sebelum mencoba. Kalo pun gagal setelah mencoba, jadikan kegagalan itu pelajaran dan pengalaman berharga."
"Benar, aku ga boleh nyerah sebelum mencoba, karena aku ga tau di usaha yang mana keberhasilanku berada," ujar Cahaya semangat. "Lagian, aku yakin kebanyakan kasir minimarket di Jakarta pasti cuma lulusan SMA, jadi kalo aku ga keterima kerja di pabrik, aku ngelamar aja di minimarket," lanjutnya meyakinkan diri.
Cahaya beranjak bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju tas ransel yang berada di dekat meja rias. Ia membuka resleting tas dengan gerakan serba cepat lalu mengambil file bag—tempat penyimpanan semua dokumen penting miliknya.
Cahaya melihat lembar demi lembar ijazah dari sekolah dasar sampai tingkat atas juga berbagai piagam lomba yang pernah ia ikuti selama sekolah.
"Nilai sekolahku ga buruk-buruk amat buat jadi syarat kerja," ujar Cahaya bangga.
Puas melihat semua dokumen pendidikannya, Cahaya berpikir sejenak karena tidak tahu apa saja yang menjadi syarat untuk lamaran kerja.
"Kira-kira Prita bisa bantu ga, ya?" gumam Cahaya.
Tidak mau terlalu lama berpikir, Cahaya beranjak bangun lalu melangkah cepat keluar kamar menuju kamar Prita. Namun, baru saja selesai menuruni tangga, ia melihat Prita sudah berpakaian rapi berjalan menuju ke luar rumah.
"Prita!" panggil Cahaya sedikit berteriak lalu berjalan cepat menghampiri Prita.
Prita langsung menghentikan langkah lalu berbalik badan. "Ya, Kak?"
"Kamu mau kuliah, ya?"
"Iy, Kak."
"Kamu pulangnya kapan?"
"Sekitar jam tigaan mungkin. Ada apa memangnya, Kak?" selidik Prita penasaran
"Aku mau minta bantuan kamu."
"Bantuan apa?"
"Bahasnya nanti malam aja deh. Kalo sekarang aku takut kamu terlambat kuliah karena ini pasti bakalan lama ngobrolnya."
"Oh, ya udah. Nanti kalo udah sampe rumah, aku langsung ke kamar Kak Aya."
Cahaya mengangguk sambil tersenyum. "Ok."
"Ya udah, aku pergi dulu, ya, Kak," pamit Prita.
"Iya. Hati-hati, ya."
Prita melanjutkan langkah tertundanya menuju garasi yang diikuti Cahaya untuk menutup pagar setelah Prita keluar dari garasi dengan motornya.
"Heeeeeh ... aku mau ngapain di rumah seharian kalo semua kerjaan udah rapih," gumam Cahaya setelah mengunci pagar besi yang setara dengan tinggi badannya.
••••••
Bintang memarkirkan motor di tempat parkir khusus guru sambil melirik motor milik wanita yang sedang ia dekati yang tepat berada di samping motornya.
"Dena udah Dateng? Bukannya dia bilang hari ini ga ada jam ngajar pagi?" gumam Bintang sambil berpikir.
Bintang kemudian turun dari motor lalu berjalan menuju ruangan khusus guru.
Begitu tiba di mejanya, Bintang melihat satu kotak makan berwarna merah beserta sendok yang sudah ia tahu siapa orang yang menaruhnya.
"Makanan lagi," ucap Bintang sembari duduk. "Mau dimakan, masih kenyang. Ga dimakan, nanti Dena tersinggung," ocehnya bingung.
"Kalo dijadiin makan siang, nanti pasti Dena ajak makan siang lagi. Kalo dijadiin makan sore, pasti basi. lagian sore gue mau ajak Cahaya makan di luar," lanjut Bintang kebingungan.
"Pagi, Pak Bintang," sapa Gani ramah.
Bintang langsung mengalihkan tatapan dari kotak makan begitu mendengar namanya disebut sampai ia melihat seorang pria duduk tepat di depannya.
"Pagi juga, Gan," balas Bintang tanpa embel-embel pak karena ia yakin Gani memanggil dirinya pak bukan untuk menghormati, tapi sebagai gurauan saja.
Selain itu Gani adalah teman dekat Bintang, jadi panggilan pak jarang sekali ada jika mereka sedang berdua saja.
"Mau sarapan?" tebak Gani karena melihat kota makan di depan Bintang.
"Lo udah sarapan?" Bintang bertanya balik karena seketika muncul ide ingin memberikan makanan itu pada Gani.
"Belum. Baru aja gue mau ajak lo sarapan bareng di kantin sebelum mulai ngajar."
"Kalo gitu makan aja punya gue. Gue udah kenyang."
"Klo udah kenyang kenapa bawa makan?"
"Ini Prita yang maksa gue bawa sarapan, karena tadi gue makan cuma sedikit di rumah," bohong Bintang karena merasa Gani tidak perlu tahu siapa pemberi makanan itu sebenarnya.
"Ade lo emang ade idaman yang udah hampir punah, karna masih mau peduli sama perut abangnya," puji Gani lalu berdiri untuk memutar kursi 90° dengan empat kaki kekar yang terbuat dari kayu. "Rejeki emg ga kemana," ucapnya lagi sembari duduk yang kali ini menghadap Bintang.
Bintang langsung menyodorkan kotak makan beserta sendok ke hadapan Gani. "Abisin, ya!" pintanya.
"Siap!" balas Gani semangat sambil membuka kotak makan lalu menyantapnya.
Bintang memilih bersandar sambil merogoh saku celana mengambil ponsel untuk ia mainkan.
"Ini masakan Prita atau Bunda lo? enak banget" tanya Gani sambil mengunyah.
"Bunda gue lah. Prita masih belum pinter masak."
Gani hanya mengangguk lalu kembali menyendok makanan di depannya.
Baru saja membuka layar kunci HP, Bintang langsung mendapatkan chat dari Prita.
Prita: Pulang nanti aku mau langsung ke kamar Kak Aya. Soalnya tadi Kak Aya bilang mau minta bantuan aku. Jadi Kak Bintang aja yang cek steam.
"Aya mau minta bantuan apa?" gumam Bintang penasaran sambil melirik ke berbagai arah.
Saat melirik ke arah luar jendela, mata Bintang tidak sengaja melihat wanita yang sangat ia kenal sedang berjalan mengarah ke ruangan yang ia tempati sekarang.
"Gawat! Kalo Dena liat makanan yang dia kasih ke gue dimakan Gani, bisa tersinggung dia," batin Bintang panik.
Bintang secepat kilat menarik kotak makan dari hadapan Gani, setelah itu merebut sendok dari tangan yang masih Gani pegang.
"Lo lanjutin makannya nanti aja," ujar Bintang cepat lalu mengaduk-aduk makanan, agar ia terlihat sedang menikmati dengan lahap.
Gani yang tengah mengunyah tentu bingung dengan sikap Bintang. "Kenapa makanan gue diambil lagi?" tanyanya.
"Sttt ... Dena udah deket, jangan ngomong dulu," pinta Bintang pelan dengan terus menunduk dan mengaduk makanan tanpa melihat Gani yang kebingungan.
"Dena?" Gani langsung mengedarkan pandangan untuk melihat orang yang Bintang sebut, sampai ia melihat wanita berjalan memasuki ruangan. "Apa urusannya gue makan sama kedatengan Dena, sampe Bintang ngambil makanan gue?" batinnya bertanya.
Dena berjalan ke arah Bintang dan Gani karena mejanya memang tepat berada di samping kiri meja Bintang.
"Pagi, Bintang. Pagi, Gani," sapa Dena ramah.
Bertepatan dengan sapaan Dena, Bintang langsung menyuap makanan agar terkesan ia sedang makan.
"Pagi juga, Dena," balas Gani sambil menelan sisa-sisa makanan yang ada di mulut.
"Pagi, Den," balas Bintang sembari mengunyah.
Tentu Dena senang melihat lahapnya pria yang dua bulan ini membuat ia nyaman jika sedang bersama meskipun dengan status hubungan yang belum jelas.
"Udah, makan aja dulu, baru ngomong," ucap Dena pada Bintang lalu duduk di kursinya sembari mengalihkan tatapan pada Gani. "Udah sarapan, Gan?" tanyanya basa-basi.