Setelah waktu menunjukkan pukul enam pagi, Cahaya kembali ke dapur karena sudah waktunya sarapan. Begitu tiba di sana, ia melihat Prita sedang membantu ibunya menyiapkan piring dan makanan di meja makan.
Cahaya langsung menghampiri Prita untuk membantu. “Pagi, Prita,” sapanya ramah.
“Pagi, Kak,” balas Prita tak kalah ramah.
Bersamaan dengan itu, Aryo yang sudah berpakaian seragam rapi, duduk di dekat Cahaya untuk sarapan bersama.
“Aya dari atas ngapain?” tanya Aryo.
“Aya abis beres-beres di lantai atas, Om.”
“Kenapa beres-beres? Aya gak usah ngerjain apa-apa di sini, biar Prita yang ngerjain,” tegur Aryo, lembut.
Mendengar suaminya mulai memanjakan orang yang tidak ia terima kehadirannya, Diva langsung menaruh beberapa piring yang sedang ia bawa dengan cukup kencang untuk menunjukkan kekesalan hingga membuat ketiganya kaget.
Praaang ...
“Jangan semua kerjaan rumah harus Prita yang kerjain. Prita juga, ‘kan sewaktu-waktu sibuk kuliah. Gak mesti harus dia semua yang ngerjain. Terus buat apa ada pengangguran tinggal di sini kalo semua kerjaan rumah Prita yang kerjain? Apa Ayah mau bikin dia jadi nyonya besar yang gak boleh kerja, gak boleh ngapa-ngapain juga? Ini rumah bukan hotel, Yah!” hardik Diva.
Prita langsung melirik Cahaya yang sedang menatap takut Diva.
Aryo langsung menyerongkan tubuh untuk menggenggam tangan Diva. “Bun, Bunda bisa ngomong baik-baik, gak perlu marah kaya gini,” bujuknya lembut.
Diva tidak menjawab malah menarik tangannya dari genggaman Aryo. Kini, suasana hati sudah kacau dalam sekejap hanya karena beberapa kata penghibur yang keluar dari mulut suaminya untuk Cahaya hingga membuat ia semakin enggan melihat Cahaya pagi ini, apa lagi harus sarapan bersama.
“Bunda mau mandi!” ucap Diva ketus sambil beranjak bangun lalu pergi.
Cahaya hanya bisa menunduk malu merasa tidak enak hati pada Aryo dan Prita karena kehadiran dirinya, ratu di rumah ini harus pergi dari meja makan. Padahal sarapan kemarin tantenya itu sarapan dulu baru membersihkan diri kemudian pergi mengajar. Ditambah rasa sakit saat tantenya itu menyebutkan ia sebagai pengangguran, yang seolah memberitahu bahwa dirinya tidak ada fungsi apa-apa di rumah ini, membuat ia semakin malu pada para Tuan rumah.
“Yuk, kita sarapan sekarang. Nanti nasinya keburu dingin,” ajak Prita mencoba mencairkan ketegangan.
“Gak tunggu Tante mandi dulu baru kita sarapan bareng?” tanya Cahaya.
“Tante kalo lagi marah suka langsung pergi ngajar, gak sarapan lagi di rumah, ,” ucap Aryo membantu menghibur Cahaya yang ia tahu pasti tersinggung dengan ucapan dan tindakan istrinya.
“Maaf, ya, Om, gara-gara Aya, Tante jadi marah." Cahaya menunjukkan tatapan memelas.
“Gak apa-apa, Tante emang suka begitu. Kalo marah sama Prita juga gitu,” hibur Aryo lagi. "Udah, yuk, sarapan aja sekarang!"
Ketiganya langsung mengambil piring masing-masing lalu memindahkan makanan ke piring mereka.
Meskipun Aryo dan Prita sudah bersikap biasa selama makan, tapi rasa tidak enak hati pada Diva, tidak juga hilang dari hati Cahaya selama sarapan. Pikiran pun terus terbayang semua sikap ketus Diva sejak ia datang kemarin.
“Kenapa aku ngerasa Tante Diva benci banget sama aku?” pikir Cahaya sambil menyuap nasi ke sekian kali.
Selesai sarapan, Cahaya merapikan piring kotor dengan cepat sebelum Prita yang melakukan karena ingin semua tugas rumah hanya ia yang melakukan agar Diva bisa sedikit baik dan kembali pada Tante ramah yang ia kenal.
Setelah itu ia menyiapkan makanan untuk diantarkan ke kamar Bintang dengan harapan kali ini Bintang bisa bersikap baik lagi seperti tadi malam.
Saat tiba di depan kamar Bintang, Cahaya berusaha meraih handle pintu dengan satu tangan meskipun agak kerepotan. Begitu pintu terbuka, ia melihat Bintang sudah berpakaian rapi dengan batik PGRI dan duduk di tepi kasur, mengobati luka di telapak tangan.
Cahaya melangkah mendekat untuk meletakkan nampan yang ia bawa di meja lalu membantu Bintang mengobati lukanya. Itu pun kalau Si Pemilik tangan tidak keberatan dan memberi izin.
Saat melihat bentuk luka di telapak tangan Bintang, perasaan bersalah langsung menyerang hati Cahaya karena ia tahu itu luka apa.
“Kak Bin—" Cahaya langsung menutup mulut dengan satu tangan karena ia salah lagi memanggil Bintang. "Maksud Aya Ka Bi," ralatnya lalu tangan yang sedang menutup mulut ia luruskan ke tangan Bintang untuk bertanya. "Ini karena gigitan aku semalem, ya?”
“Ya, iyalah, lo pikir ini gigitan gue sendiri!” jawab Bintang, ketus.
Dari jawaban ketus itu, Cahaya yakin Bintang sudah kembali pada sikap ketus dan galaknya. Ia juga yakin kebaikan semalam hanya untuk pertama dan terakhir kalinya.
“Kak, Aya bantu obatin, ya?” tawar Cahaya.
“Gak usah. Gue gak butuh bantuan lo!”
“Tapi Kak Bi pasti gak bisa pasang plester luka cuma pake satu tangan.”
"Bukan urusan lo!"
Cahaya mencoba meraih tangan Bintang untuk membantu meneteskan obat luka ketika melihatnya kesulitan membuka tutup botol obat menggunakan mulut.
Bintang langsung menjauhkan tangan dan wajah untuk menghindari tangan Cahaya, lalu menjatuhkan obat dari mulut. "Gue bilang gak usah, ya, enggak! Ngerti gak lo?!” bentaknya.
Cahaya langsung menunduk ketakutan saat Bintang membentak disertai tatapan nyalang. Seolah niat baiknya adalah suatu kesalahan besar.
“Maaf, Kak. Aya cuma mau bantu aja biar Kak Bi gak kerepotan,” ucap Cahaya, takut.
“Gak usah. Gue bisa sendiri!”
Merasa tidak ada yang dilakukan lagi, Cahaya membalikkan badan untuk segera keluar dari kamar bintang.
“Lo mau ke mana, Bisu?!” tanya Bintang, masih dengan nada galak.
Cahaya langsung menghentikan pergerakan. “Aku mau keluar, Kak,” jawabnya.
“Lo gak boleh keluar kalo gue belum suruh apa-apa!”
“Kak Bi mau suruh apa?”
“Ayah udah pergi belum?”
“Sudah, Kak. Tadi waktu Aya siapain makanan, Om sama Tente berangkat bareng.”
“Prita di mana?”
“Prita ada di kamarnya.”
“Ya udah, lo cuciin motor gue. Jangan lama-lama, 45 menit lagi gue mau berangkat.”
“Iya, Kak. Aya cuci sekarang.” Cahaya kembali melanjutkan langkah menuju pintu.
Saat akan membuka pintu, Cahaya mendengar Bintang kembali memanggil.
“Bisu, lain kali kalo ada orang yang mau baik sama lo, gak usah pake otak curiga lo itu. Biar gak bikin orang nyesel udah baik sama lo,” ucap Bintang, ketus.
Cahaya membalikkan badan untuk meminta maaf kedua kalinya. “Maafin gigitan Aya, Kak. Aya janji gak akan gitu lagi.”
Bintang tidak merespons permintaan maaf Cahaya malah kembali sibuk pada lukanya.
Karena tidak ada respon dari Bintang, Cahaya kembali membalikkan badan lalu membuka pintu kamar dan langsung menuju garasi untuk melakukan perintah Bintang. Ia tidak mau membuang waktu yang membuat pemilik motor marah lagi padanya.