Artemis melepaskan kacamata dari wajah sesaat setelah Mbok Luh berhasil membawa Mama pulang dan beristirahat di rumah. Artemis duduk di kursi yang diduduki Mama sejak Papa tiba di kamar rawat, hangat bekas b****g Mama masih terasa di dasar kursi. Artemis mengamati wajah pucat Papa, lalu dia sengaja menggeser kursi lebih dekat ke sisi ranjang pasien. "Jangan menyerah untuk apapun, Pa... masih banyak yang perlu kita berdua bereskan," bisik Artemis. Artemis memberanikan diri untuk menyentuh tangan Papa, mengusap punggung Papa naik turun dengan gerakan lambat. Sebuah kenangan indah mendobrak keluar dan menguasai pikiran Artemis. Tentang pantai, suara tawa bahagia dia dan Bellva, Bali, Papa yang berlari mengejar, tangan Papa yang memeluk dia dan Bellva, dan Mama yang selalu duduk di bibir pa

