"Sabar ya, Nohan," ucap salah satu kolega bisnis Papa. Sudah dua hari kata-kata itu terus menggema hilir mudik di pendengaran Papa, selama dua hari itu juga perasaan beliau tak tenang saat melihat peti putih di tengah ruangan, terutama saat Artemis berdiri di samping peti dengan penampilan seperti Bellva. Sesekali pria paruh baya itu mengembuskan napas berat, beliau tak pernah menyangka dia harus melewati hal seperti ini sebanyak dua kali. Hanya saja kali ini suasana tak sesepi dua tahun lalu. Banyak kolega, keluarga jauh atau dekat datang berusaha memberi penghiburan untuk Papa dan Bellva terkecuali Mama. Mama sedang bersantai di rumah, tidak pernah tahu kalau satu anaknya akan segera dikremasi, yang Mama tahu- Artemis sedang menyiapkan segala studi lanjutanya di universitas impian sang

