Angkasa mundur menjauhi rumah abu Artemis, dia tak menyangka harus secepat ini kehilangan sosok wanita yang dia harapkan akan ada terus di dalam kehidupannya. Sebelum bertemu Artemis, Angkasa selalu menganggap wanita dan masa depan suatu kekacauan yang patut untuk dihindari, tapi saat bertemu Artemis... Angkasa berharap bisa cepat-cepat merengkuh wanita itu dan masa depan untuk mereka. Angkasa memasukkan dua tanganya ke dalam saku celana, masih setia memandangi foto Artemis dan senyumnya. Lalu dia menghela napas kasar. "Aku sudah merindukan senyum itu, ah!" Angkasa mengangkat kepalanya sedikit, memejamkan mata untuk persekian detik, sebelum akhirnya dia kembali memandang foto Artemis. "Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, lebih baik hari itu aku culik kamu dan mengajakmu kerja." Tawa

