Tangis Artemis tidak lagi terdengar namun, posisi keduanya masih tetap sama. Artemis masih menyadarkan keningnya pada bagian tubuh Angkasa, sementara tangan pria itu masih mengelus lembut rambut dan punggung Artemis secara bergantian. "Aku punya kembaran, Bellva benar-benar nyata..." Tiba-tiba saja Artemis membuka pembicaraan, perlahan melepaskan keningnya dari pundak Angkasa. "Tapi dia sudah lebih dulu meninggal, dua tahun lalu. Aku harus berperan ganda demi keluargaku, demi Mama." "Mama-mu alasan kamu ke sini?" Artemis menggeleng, sekaligus meresapi sentuhan yang diberikan oleh jari-jari Angkasa di pipinya. "Alasanku di sini adalah Papa, penyebab utama duniaku gelap selain Bellva." Artemis memalingkan wajah dari Angkasa dan meluruskan tubuhnya ke arah pintu. "Serangan jantung, Papa..

