Artemis duduk di sudut favorit dalam kamarnya, di samping jendela kamar. Dia sengaja membuka gorden, membiarkan pemandangan langit hitam di luar sana nampak jelas. Di hadapannya ada sebuah kanvas putih tejepit easel. Entah sudah berapa lama semua benda itu di sana yang pasti belum ada satu warna pun tertoreh di sana, Artemis sibuk memandang langit, mungkin mencari isnpirasi.
Pintu kamar perlahan terbuka. Artemia tahu tapi sengaja dia abaikan. Suara derap langkah semakin dekat, tidak berapa lama sebuah belaian lembut menghapiri rambut panjangnya.
"Mbak Sasi..." Artemis memutuskan untuk memejamkan mata sebentar saat mendengar namanya diucapkan, seperti sudah lama dia tidak pernah lagi mendengar namanya dipanggil seperti itu. "Mbak Sasi nggak makan malam? Sudah Mbok siapkan di bawah."
Artemis membuka matanya. "Mama?"
"Ibu sudah makan di kamar, sedang menonton serial India bersama Suster Rena. Mbak Sasi nggak mau nemuin Ibu? Hari ini kan belum ketemu Ibu... sejak pagi, Ibu ribut tanyain Mbak Sasi. Tadi siang malah mau masuk ke kamar, tapi pintu kamar Mbak kunci. Ibu udah siap gedor juga, tapi Suster Rena berhasil nahan." Mbok Luh bicara panjang lebar, tapi Artemis tidak menanggapi.
"Papa?"
"Bapak bilang hari ini nggak pulang, tadi sebelum berangkat kerja Bapak sempat pamit sama Ibu."
"Berapa hari?"
"Katanya tiga hari, Mbak. Bilang sama Ibu sih ada rapat sama kantor cabang di Surabaya."
****
"Papa belum pulang, Mbok?" Artemis mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruang makan itu.
"Belum, Mbak Sasi," jawab Mbok Luh, seraya meletakkan menu terakhir untuk makan malam hari ini.
Sasi mendengus, dia melemparkan tas kuliah dan beberapa gulungan kertas A4 yang berisikan desainnya ke kursi samping kanannya.
"Papa lembur." Bellva angkat suara untuk memperkuat jawaban Mbok Luh.
"Lembur? Hahahaha..." Artemis tertawa dibuat-buat. "Lembur urus kerjaan atau urus tante kesepian?"
Bellva meletakkan sendok ke atas piring. "Jangan bicara seperti itu, Sasi! Papa tuh..."
"Papa tuh selingkuh!" sanggah Sasi dengan nada tinggi. "Mau sampai kapan lo dan Mama pura-pura nggak tahu sama gelagat Papa? Hah?! Mau sampai kapan lo dan Mama bersikap kalau keluarga ini baik-baik saja, padahal kita sudah nggak baik!" Suara Artemis meninggi, pandangannya memancarkan kemarahan sekaligus kekecewaan yang amat sangat dalam.
Bellva membuang muka dari Artemis, kemudian meminta tolong Mbok Luh dengan tatapannya.
Mbok Luh memandangi Artemis dan Bellva bergantian, tak berapa lama keninganya mengerut. Kedua anak asuhnya itu kembar, dulu mereka sangat akur, sangat dekat layaknya anak kembar pada umumnya. Mereka juga suka mengerjai banyak orang dengan saling bertukar posisi, tapi entah sejak kapan mereka berdua menjadi seperti sekarang ini. Saling beradu agrumen, saling bertolak belakang, saling memunggungi.
Mbok Luh memutuskan untuk menghampiri Artemis, di antara sekian banyak penghuni rumah ini. Hanya Mbok Luh yang mampu menjinakkan Artemis saat emosinya sedang meledak-ledak seperti sekarang.
"Mbak Sasi, sudah... jangan terlalu memikirkan masalah Bapak. Makan dulu, mungkin Mbak Sasi kelelahan sehabis kuliah." Mbok Luh mengelus puncak kepala Artemis, bergerak turun sampai punggung Artemis. "Sudah, kalian berdua jangan adu urat lagi. Mbok mau panggil Ibu."
Mbok Luh mengamati keadaan untuk beberapa saat sebelum akhirnya pergi meninggal dua wanita itu.
"Terkadang, pura-pura tidak tahu itu lebih baik untuk menjaga kewarasan." Bellva mengatakan itu tanpa melihat Artemis, dia menyibukkan diri membersihkan kacamata yang terlihat kotor.
*****
Mbok Luh memandangi Artemis dengan serius, seperti sedang menyiapkan hati dengan ledakan emosi Artemis. Tapi hampir sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Artemis akan berteriak marah. Wanita itu masih setia memandangi pekatnya langit malam, lalu berdiri dari sofa dengan tiba-tiba. Dia mengambil posisi di samping Mbok Luh dan merangkul bahu Mbok Luh.
"Aku hari absen makan malam ya, Mbok," kata Artemis seraya meletakkan ujung dagunya pada puncak bahu Mbok Luh. "Aku mau selesain satu lukisan lagi buat pameran di Yogyakarta, nggak lapar." Artemis cepat-cepat meneruskan kalimatnya saat melihat Mbok Luh bersiap untuk mengelurakan protesnya.
Artemis berjalan sambil merangkul Mbok Luh, menggiring Mbok Luh sampai pada pintu kamarnya.
Mbok Luh tahu, ini akhir dari usahanya membujuk Artemis untuk makan.
"Mbak Sasi..." Mbok Luh memanggil nama Artemis lagi saat posisi beliau sudah di luar kamar.
Artemis memunculkan senyum manisnya. "Terkadang, pura-pura nggak tahu itu lebih baik untuk menjaga kewarasan." Artemis mengedipkan satu matanya lalu menutup pintu kamar.
Setelah pintu kamar tertutup Artemis menghela napas kasar, berharap mampu mengurangi rasa sesak di dalam hatinya.
Artemis berjalan melewati meja cokelat di bawah televisi LED yang tertempel di dinding kamar. Meja cokelat itu full foto-foto kebersamaan Artemis dan keluarganya, foto saat dia masih kecl, foto saat mereka liburan bersama baik luar negeri atau dalam negeri, foto kebersamaan dia dan Bellva. Awalnya Artemis berjalan lurus, tapi tiba-tiba saja dia berhenti. Dia berjalan mundur, mengambil satu foto keluarga dengan formasi lengkap dan berukuran cukup besar. Artemis memandangi foto itu dengan kurun waktu tidak terlalu lama, karena dalam hitungan detik foto itu sudah hancur lebur di lantai.
Artemis kembali ke tempat awal, di samping jendel dan di depan sebuah kanvas kosong.
Baru saja dia masuk dalam suasana hening, tiba-tiba suara ponsel milik Artemis berbunyi sangat nyaring. Artemis melirik, melihat ada keterangan panggilan video call dari Angkasa. Awalnya Artemis ingin mengabaikan, dia sudah melakukan itu sepanjang hari. Tapi untuk kali ini dia tidak kuat untuk mengabaikan Angkasa.
Artemis menyandarkan ponselnya di depan canvas lalu menerima permintaan video call Angkasa.
"Hai!" sapa Artemis dengan riang, tentu saja diikuti senyum ramah.
"Aduh!" Angkasa terlihat menyentuh dadanya di seberang sana.
"Kamu kenapa?"
"Sepanjang hari aku nggak pernah melihat senyum secantik itu, ada yang hangat ngalir di sini." Angkasa masih setia menyentuh dadanya.
Artemis menggigit bagian dalam bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak tersenyum pada Angkasa.
"Bukannya tadi Bellva ke rumah kamu ya? Kamu nggak ketemu dia? Dia kan punya muka dan senyum kayak aku."
"Bellva? Boro-boro senyum! Dia tuh judes banget sama aku, melihat aku aja kayak melihat zombie yang siap menggigit dia! Sumpah ya, aku sampai sekarang mikir salah aku tuh di mana sama dia!" Angkasa bercerita dengan menggebu-gebu.
"Biasanya kan pria memang lebih suka dengan wanita seperti itu, terkesan susah untuk ditaklukkan, bikin penasaran dan ngebet buat dimiliki." Artemis mengambilkan satu kuas MOP dari nakas samping tempat dia duduk, memainkannya di depan bibir. "Tidak seperti aku..." Artemis mengintip dari balik bulu matanya. "Terlalu gampang di raih."
"Siapa bilang?!" Artemis menaikkan satu alisnya. "Kamu tuh sama aja! Aku hubungin pagi, dijawab siang. Itu pun cuman jawab dua kata. Aku sempet syok karena kamu mau angkat video call dari aku... soalnya sejak aku memutuskan untuk menelpon kamu, aku sudah menyiapkan hati dengan sakit hati diabaikan." Angkasa memasang raut wajah sedih dan hal itu membuat Artemis kehilangan kendali untuk tidak tersenyum. "Seharian kamu ngapain aja?"
"Tidur, makan, mandi, bernapas." Artemis menjawab dengan jenaka. "Terus ke gallery sampai sore." Dia melanjutkan kalimatnya sebelum Angkasa memulai drama karena jawaban asal dari Artemis.
"Galerry?"
"Iya."
"Kamu punya gallery?"
"Iya."
"Aku mau lihat."
"Kapan-kapan, aku ajak kamu berkunjung ke gallery. Kegiatanmu apa hari ini?"
"Mengganggu calon ipar."
Artemis tertegun mendengar Angkasa mengatakan calon ipar dengan penuh percaya diri.
"Siapa?"
"Ya, si Bellva."
"Siapa yang mau sama kamu? Kenapa Bellva bisa jadi calon ipar kamu? Ih, kamu kepedean."
Kali ini Angkasa yang tertegun dan tawa Artemis pecah.
Angkasa tidak jadi mengeluarkan pendapatnya, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dan memperhatikan Artemis tertawa di seberang sana.
"Sumpah! Kamu cantik banget kalau lagi ketawa, Sasi..."
Artemis menghentikan tawanya. "Kamu bilang apa?"
"Hah?"
"Tadi kamu bilang apa?"
"Kamu cantik banget kalau lagi ketawa, Sasi."
"Kamu manggil Sasi?"
"Iya. Ah, tadi Bellva manggil kamu Sasi. Dan setelah aku pikir-pikir, manggil Sasi emang yang paling baik. Masa aku manggil kamu Art, nggak enak... manggil Te, aduh jadinya jorok... manggil Mis, emang kamu bau amis?"
Artemis tersenyum semakin lebar, kalau dipikir-pikir hanya dengan Angkasa dia bisa tertawa sebebas ini. Tawa yang tidak pernah dia keluarkan selama dua tahun belakangan, tawa tanpa beban, tawa yang membuat dia lupa kalau ada yang sakit di dasar hatinya.
"Aku suka mendengar namaku keluar dari bibirmu."
"Kalau aku sih aslinya suka, tapi ada yang kurang."
"Kurang?"
"Sasi kekasih Angkasa, itu pas..."
'Aku suka setiap malam datang, karena hanya malam yang mampu membuatku tenang.
Aku mampu bernapas semauku, cadangan oksigenku menggunung.
Dan yang lebih penting...
Aku bisa menikmati setiap detik jam berganti dengan bebas.'